Menjadi Diri Sendiri!

by Penulis Palontaraq | Rabu, Nov 20, 2019 | 46 views
Ilustrated by: wimpoli

Ilustrated by: wimpoli

Oleh: W.I.M. Poli

PALONTARAQ.ID – Orang berpikir dan bertindak berdasarkan apa yang diketahui dan tidak diketahuinya. Pikiran dan tindakannya itu diperhadapkan dengan pikiran dan tindakan orang lain yang mungkin tidak sama.

Timbul pertanyaan: siapa yang benar dan siapa yang salah, dan apa pendapat yang mendasarinya?

Pertanyaan di atas dengan jeli dan jitu diungkapkan oleh Lev Tolstoi, yang lebih dikenal dengan nama Leo Tolstoy (1828-1910), lewat sebuah cerita berjudul “After the Ball” (“Setelah Pesta Dansa”).

Cerita ini ditulis pada tahun 1903 dan baru ditertbitkan pada Tahun 1911 di dalam sebuah kumpulan cerita pendek. Apa isi ceritanya, dan apa pesan yang disampaikannya?

Ceritanya adalah tentang kaum kelas atas di Rusia dengan berbagai penampilannya dalam sebuah pesta-pora yang serba mewah.

Di pesta tersebut, Ivan, sang narator, berjumpa dan jatuh hati pada seorang gadis kelas atas yang terdidik dan menawan penampilannya, termasuk dalam hal dansa-dansi.

Ayah sang gadis ini adalah tuan rumah pesta dansa tersebut, seorang kolonel yang anggun tampilannya, tanpa cacat. Baik sang gadis maupun sang ayah berada pada tingkat penilaian yang tinggi di mata Ivan.

Hati Ivan berbunga-bunga menanggapi kenyataan bahwa sang kolonel sengaja membiarkan anak gadisnya berpuas berdansa dengannya, diiringi tepuk tangan para hadirin.

Setelah pesta berakhir pada larut malam, Ivan kembali ke rumahnya, tetapi tidak dapat tidur, memikirkan sensasi yang sudah dialami dan dinikmatinya.

Mimpinya kian berbunga. Ia berniat mau jadi prajurit kerajaan dan mempersunting anak gadis sang kolonel pujaannya. Karena tidak dapat tidur, tanpa melepaskan pakaian pestanya, ia keluar rumah di waktu subuh untuk makan angin.

Ternyata, bukan hanya angin yang dimakannya, melainkan pengalaman yang menjungkir-balikkan pikiran dan perasaannya.

Telinganya menangkap bunyi musik dan irama genderang yang aneh. Ia mendekat. Terlihat olehnya sejumlah prajurit tengah menyiksa seorang prajurit lain di bawah alunan musik dan irama genderang yang menyayat-nyayat pikiran dan perasaan.

Terdengar olehnya bahwa prajurit yang disiksa tersebut kedapatan berbuat salah yang tidak dapat diampuni. Semua memandang penyiksaan yang terjadi adalah hal yang wajar, setimpal dengan perbuatannya. Prajurit yang disiksa terus saja mengiba minta dikasihani. Kian ia mengiba kian ia disiksa.

Dunia seakan terbalik bagi Ivan ketika ternyata baginya bahwa penyiksaan itu terjadi di bawah komando sang kolonel yang dikaguminya semalam.

Belum puas dengan siksaan yang sudah dilakukan para penyiksa, sang kolonel tampil sebagai eksekutor akhir yang paling kejam.

Pada saat itulah Ivan dan sang kolonel saling berjumpa pandang dan saling mengenal. Seketika keduanya meninggalkan tempat kejadian perkara dengan pikiran dan perasaan yang hanya diketahui diri masing-masing.

Ivan kembali ke kamarnya untuk merenung. Hasil renungannya ialah: “Jika apa yang saya lihat dikerjakan orang lain dengan penuh keyakinan, dan diterima oleh orang lain sebagai sesuatu yang wajar, itu berarti: mereka tahu tentang sesuatu yang tidak saya tahu; dan karena itu tidak dapat saya katakan tindakannya benar atau salah (hal. 412).

Sebuah rasionalisasi dalam ketidak-berdayaan? Sebuah gejala yang umum terjadi?

Ivan perlahan-lahan meninggalkan sang gadis yang telah merebut kekagumannya, dan lebih dari itu, ia meninggalkan mimpi indahnya untuk mengabdikan dirinya sebagai prajurit kerajaan yang gagah.

Ia memilih untuk menjadi bukan siapa-siapa, melainkan menjadi dirinya sendiri.

Renungan: Apa yang dialami dan direnungkan oleh Ivan mungkin saja dialami orang lain sepanjang sejarah. Termasuk kini dan di sini? Sejarahku?

Like it? Share it!

Leave A Response