BerandaLiterasiPuisi: Meniti Jarak, Menjemput Ilmu

Puisi: Meniti Jarak, Menjemput Ilmu

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini ditulis sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan terhadap perjalanan seorang santri bernama Afifah Maisyarah Fadwansyah. Melalui rangkaian huruf yang membentuk namanya, puisi ini merekam jejak ketekunan, tanggung jawab, dan semangat juang dalam menuntut ilmu.

Dari Mamuju hingga Minasatene Pangkep, jarak dan rindu bukanlah penghalang, melainkan bukti kesungguhan hati dalam meraih pendidikan. Puisi ini menggambarkan sosok santri kelas XI yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif berorganisasi dan memiliki kepekaan seni yang kuat—sebuah potret santri masa kini yang utuh dan berdaya.

Meniti Jarak, Menjemput Ilmu

Amanah dijunjung tinggi dalam setiap tanggung jawab
Fokus mengelola, ia bendahara OSIS yang dipercaya
Ilmu dikejar sejak langkah awal mondok
Fikiran cemerlang menemani akhlak yang terjaga
Aktif berkarya, tak hanya di kelas tapi juga di panggung seni
Hikmah tumbuh sejak kelas satu SMP hingga kini

Melangkah jauh dari Mamuju, tanah kelahiran tercinta
Arah hidup dipilih dengan sadar dan berani
Istiqamah menuntut ilmu di pesantren
Sabar menghadapi rindu dan jarak
Yakin bahwa pendidikan layak diperjuangkan
Antusias belajar di bangku kelas dua SMA
Rapi dalam perhitungan, cermat dalam keputusan
Artistik jiwanya hidup dalam ragam kompetensi seni
Harapan besar ia titipkan pada masa depan

Fajar semangatnya tak pernah padam
Asah kemampuan, seimbang antara intelek dan bakat
Dedikasi nyata dalam setiap amanah organisasi
Wawasan luas lahir dari keberanian merantau
Ada ketangguhan dalam diri seorang santri
Nilai juang terpatri di setiap langkah
Sejarah hidupnya ditulis dengan kerja keras
Yang jauh ia tempuh demi ilmu
Afifah—nama yang tumbuh bersama prestasi
Hingga kelak, ia pulang sebagai cahaya bagi banyak orang

***

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa pendidikan adalah perjuangan yang menuntut keberanian, konsistensi, dan pengorbanan. Sosok Afifah merepresentasikan santri yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual, tanggung jawab kepemimpinan, serta pengembangan bakat dan seni. Jarak geografis, rindu keluarga, dan amanah organisasi tidak melemahkan langkahnya, justru membentuk karakter tangguh dan mandiri. Melalui puisi ini, pembaca diajak menyadari bahwa kegigihan dalam menuntut ilmu—terlebih dengan niat yang lurus—akan melahirkan pribadi yang siap memberi manfaat bagi diri sendiri, pesantren, dan masyarakat luas.

Minasatene-Pangkep, 11 Januari 2026

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT