BerandaEdukasiAhmad Anshari: Tiada Hari Tanpa Melukis

Ahmad Anshari: Tiada Hari Tanpa Melukis

Oleh:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Banyak guru seni yang benar-benar hanya guru seni. Seorang guru yang hanya mampu mengajarkan seni namun tak mampu menghasilkan suatu karya. Hal ini berbeda dengan Ahmad Anshari, S.Pd, M.Pd yang benar-benar mencintai profesinya, sebagai seorang guru seni dan seniman/perupa yang sudah punya cukup nama di Kabupaten Pangkep.

Keseharian Alumnus S1 dan S2 Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar (UNM) ini adalah Kepala Sekolah SMP Negeri Kassi Tonasa I. Pria berkumis tebal yang hobi naik sepeda ontel ini lebih familiar dipanggil dengan sebutan Pak Anca.

ancha2
Pak Anca saat mengerjakan lantai berlukis Taman Pinggir Sungai Pangkajene

Pada saat sore hari jelang buka puasa selama Bulan Suci Ramadhan beberapa kali penulis pergoki mangkal di sekitar tugu bambu runcing, pusat kota Pangkajene Pangkep sedang sibuk menggambar berbagai pemandangan di sekitarnya. Kadang dia memotret dengan kamera digitalnya dan kadang mengabadikan suasana kota dengan menggambarkan sketsanya.

Kegiatan tersebut dilakukannya seraya menunggu beduk berbuka puasa. Pak Anca ini boleh dikatakan sosok yang lengkap sebagai seniman, seni lukis/perupa, musik dan lagu serta sebagai seorang guru, pencinta alam, dan aktivis pramuka.

 Menggambar sketsa pemandangan kota dekat Tugu Bambu Runcing Pangkajene (foto: mfaridwm)

Menggambar sketsa pemandangan kota dekat Tugu Bambu Runcing Pangkajene (foto: mfaridwm)

Monumen Bambu Runcing yang berada di nol kilometer Pangkajene, ibukota kabupaten Pangkep memang seringkali dijadikan lokasi ngabuburit warga Pangkajene jelang puasa.

Tak banyak orang tahu, termasuk warga Pangkajene sendiri bahwa taman dan lantai corat coret kali bersih yang terdapat dipinggir sungai pangkajene, tak jauh dari Monumen Bambu Runcing adalah salah satu karyanya.

Saban hari, banyak sekali remaja anak sekolahan dan anak muda yang nonkrong dipinggir sungai ini seraya menikmati pemandangan kota, sungai, kawasan karst di sebelah timurnya, termasuk lantai berlukis yang menghadirkan suasana baru rekreasi ditengah kota.

Bersama penulis nonkrong bareng di Tugu Bambu Runcing (foto: ist/mfaridwm)
Bersama penulis nonkrong bareng di Tugu Bambu Runcing (foto: ist/mfaridwm)

Selain sebagai seorang seniman, ia pun memberikan apresiasi positif bagi pengembangan kegiatan bersastra di daerahnya. Beberapa waktu lalu, pak Anca turut serta dalam kegiatan Tadarrus Sastra bersama – sama dengan pekerja sastra dan pegiat seni lainnya di Pangkep.

Dalam kegiatan tersebut, ia menunjukkan kebolehannya yang bisa juga memainkan kecapi, gitar ataupun sekedar menyanyi. Baginya kegiatan berkesenian dan bersastra harus ditumbuh kembangkan agar generasi muda masa kini mengenal seni dan sastra, dan tidak sekedar mengisi waktunya kegiatan hura-hura.

Usai mengajar di sekolahnya, Keseharian pak Anca lebih banyak kearah pengembangan potensi dan aktualisasi diri. Waktunya banyak dihabiskan dengan keliling kota Pangkajene, naik onthel kesayangannya, sekedar untuk mengagumi dan mengabadikan perubahan wajah kota Pangkajene dengan tustelnya atau dengan kelincahan tangannya menggambar sketsa berbagai sudut kota Pangkep.

Bagi pak Anca, “Tiada hari tanpa melukis”, ujar seniman lukis yang sudah menghasilkan ratusan karya lukis dan pernah pameran tunggal di Makassar ini. Hanya sayangnya, beberapa karyanya kurang mendapatkan apresiasi, termasuk oleh Pemkab dan Perusahaan Industri setempat yang seringkali memakai jasanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT