Tadabbur Al-Qur’an sebelum Berpisah dengan Ramadan

by Penulis Palontaraq | Senin, Jun 3, 2019 | 44 views
Ilustrasi - Tadabbur Al-qur'an. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi – Tadabbur Al-qur’an. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

Pertama, Nikmat Ramadhan dari Allah, karena itu selayaknya setiap muslim memperbanyak Puji-pujian dan bersyukur atas segala nikmatNYA.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Artinya:
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (Qs. An-Nahl: 53)

Kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan, melaksanakan segala kegiatan amaliah dalam Bulan Ramadhan: shalat fardhu, qiyamul lail, tadarrus Al-Qur’an, i’tikaf, memberi buka puasa, menyalurkan zakat, dan lain sebagainya harus kita pandang sebagai nikmat dari Allah SWT, dan bukannya disebabkan karena kehebatan dan kemampuan kita.

Allah SWT seringkali mengingatkan model Orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak tahu bersyukur.  Dalam Qs. Al-Qashash: 78 tentang seorang yang kaya raya, seorang yang jadi simbol kekayaan di zaman Firaun dan boleh jadi sepanjang zaman, dikenal dengan nama Qarun. Ketika orang begitu banyak mengaguminya, Qarun berkata, “Saya miliki kekayaan yang begitu banyak, disebabkan ilmu yang saya miliki”. Dia lupa bahwa Allah lah yang memberikan nikmat kekayaan kepadanya.

Dalam Qs. Az-zumar: 49, Allah SWT juga mengingatkan dalam firmanNya, “Jika seorang manusia ditimpa mudharat, kesusahan, musibah kemudian dia berdoa kepada kami. Ketika kami merubah, beri kesembuhan, beri nikmat, hilangnya musibah tersebut, dia mengatakan saya bisa keluar dari musibah bencana dan kesusahan disebabkan karena ilmu saya.”

Lihat juga: Puasa Ramadan itu Mengenalkan Batas-batas Hidup – 21

Kata Allah SWT, inilah musibah yang sesungguhnya, ketika kita tidak menyadari bahwa semua nikmat kekayaan, kesehatan, kesejahteraan, limpahan rezeki, keimanan dan ketaqwaan, semua datangnya dari Allah SWT.  Ketika seorang muslim diberikan kemudahan dalam melakukan kebaikan dan ketaqwaan, maka dia akan selalu ingat nikmat-nikmat Allah.

Allah SWT sebutkan dalam Qs. Al-A’raf ayat 43 tentang para penduduk surga ketika mereka sudah masuk surga.

 

َ ۖوَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ …

Artinya:
“…. dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk….”

Itu pengakuan yang tulus dari orang- orang yang telah diberi kenikmatan berupa surga. Dalam hadis riwayat Imam Muslim Hadis Qudsi, Allah ingatkan: “wahai hamba-hamba ku itulah amalan-amalan kalian yang saya akan hitung-hitung semua dan yang saya akan sempurnakan pahala-pahala nya untuk kalian sesuai dengan apa yang telah kalian lakukan”

Siapa yang mendapatkan kemudahan berbuat kebaikan, jangan tepuk dada jangan bangga diri, ingatlah itu semua nikmat dari Allah SWT. Namun jika termasuk tidak beruntung, tidak mendapatkan kebaikan, jangan dia cela, kecuali pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, Nabi SAW, sebagaimana diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan disebutkan Ibnu Majah dalam sunannya, jika dapat kebaikan dia tidak lupa katakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Artinya: Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal shaleh.

Di akhir-akhir Ramadhan ini mari kita perbanyak pujian dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat kemudahan dalam melakukan kebaikan dan amaliah sampai di akhir Ramadhan dengan sempurna.

Lihat juga: Puasa Ramadan itu Berserah Diri – 22

Kedua, Jangan bangga terhadap Kebaikan yang telah dilakukan, iringi rasa cemas,takut dan penuh harap kepada Allah SWT menerima segala amalan. Allah SWT berfirman dalam Qs. Al Maidah:  27,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dialog antara dua bersaudara, anak Nabi Adam ‘alaihissalam telah memberikan persembahan kepada Allah SWT. Satunya diterima persembahannnya dan satunya ditolak.  Yang ditolak merasa sedih dan protes, maka diberikan informasi, diajari bahwa Allah cuma menerima pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang bertaqwa.

Tidak semua kebaikan diterima pahalanya Allah. Ada yang sudah capek-capek tidak dapatkan apa-apa sesuai yang diinginkan, karena Allah hanya menerima yang datang dari yang bertaqwa.  Siapa yang dikatakan bertaqwa? Allah SWT katakan, jangan kalian merasa sok suci, sok bersih, sok baik, karena Allah SWT yang paling mengetahui Orang-orang yang bertaqwa.

Jika demikian maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengklaim dan memastikan bahwa semua kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan sepanjang Ramadhan ini dan bahkan sepanjang umur kita, telah diterima di sisi Allah SWT.

Oleh karenanya, apa yang telah kita selesaikan kebaikan, mari kita banyak berharap pada Allah SWT tidak bangga diri, mari diliputi rasa kecemasan dan ketakutan, jangan-jangan kita sudah capek beramal tapi tidak diterima oleh Allah SWT.

Lihat juga: Shamsi Ali: Ramadan reminder!

Orang-orang yang beriman, serta banyak melakukan kebaikan adalah orang ketika justru banyak buat kebaikan mereka tambah rasa takut pada Allah SWT. Dalam Qs. Al-Mukminun: 60, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka…”

Aisyah Radhiyallaha Anha ketika baca ayat ini, mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mereka-mereka itu yang sangat takut pada Allah, apakah dulu karena mereka adalah pezina, pembunuh, pencuri, sehingga begitu takut menghadap Allah? kata Nabi, “Tidak wahai Aisyah. Mereka Sebagaimana Allah katakan, adalah orang yang bersegera dengan melakukan kebaikan, tapi selalu merasa takut ketika berhadapan kepada Allah SWT. Mereka tidak pernah klaim sebagai orang-orang suci dan tidak pernah menafikan setiap amalannya diterima oleh Allah SWT”

Maka liatlah Nabi Ibrahim, bapak para Nabi, Ketika telah selesaikan proyek besar pembangunan Kabbah, pusat peribadatan kaum muslimin. Ketika Setelah selesai proyek raksasa ini. Apa yang beliau katakan? apakah beliau bangga diri, tepuk tangan dan semacamnya…? Tidak!  Nabiullah Ibrahim justru mengatakan, bersama anaknya Ismail, mengatakan, “Rabbana Taqabbal Minna Innaka anta sami’un ‘alim.” (Artinya: Ya Allah Terimalah persembahan kami ini. karena sesunguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui)

Allah SWT  mempersaksikan setiap perintah yang diperintahkan kepada Nabiullah Ibrahim telah diselesaikan dengan sempurna. tapi, Ibrahim ‘alaihissalam tidak pernah bangga diri, bahkan meinta kepada Allah, “Ya Allah terima apa yang saya lakukan ini…”

Lihat juga: Puasa Ramadan melahirkan Kesungguhan dalam Pengabdian – 20

Olehnya itu ketika kita telah lakukan kebaikan, sudah beramal, sudah tilawah Al-Qur’an, sudah tarawih, sudah puasa dan sudah melaksanakan berbagai macam kebaikan lainnya, jangan tepuk dada, jangan bangga diri, bahkan mari kita mengharap amalan kita supaya bisa diterima di sisiNya

Fudalah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu, Seorang sahabat yang dipersaksikan masuk surga, karena ikut Baitur Ridwan,berkata, “Seandainya saya tahu ada kebaikan yang pernah saya lakukan walaupun sebesar biji sawi telah diterima oleh Allah, maka saya lebih sukai dari dunia dan isinya…” Beliau sampai tidak yakin ada kebaikannya diterima walau sebesar biji sawi

Pada kisah yang lain disebutkan bahwa Para Sahabat Nabi SAW ketika bertemu saat Shalat Ied, apa yang mereka lakukan? Imam Tabrani sebutkan dalam kitab Doa, dalam bab doa shalat Ied.  Ketika Wasilah bin Asqa dan Abu Umamah al basir bertemu, mereka saling mengatakan “Taqabbalallahu minna wa minkum”

Ini doa yang paling banyak dikatakan sahabat ketika lebaran, “Semoga Allah menerima dari kami dan dari mu, karena mereka tidak yakin amalannya diterima. Mereka tidak putus asa tapi mereka tidak pernah memastikan bahwa setiap amalannya pasti diterima oleh Allah SWT.

Ketiga, Menutup Kebaikan dengan Istigfar. Dalam Qs.  Al-Muzammil, diakhir ayat 20, disebutkan

 

ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

Artinya:

“….Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini berkaitan shalat lail, shalat yang tidak mudah, hanya Orang-orang shaleh yang mampu melakukannya, mengorbankan jatah tidurnya untuk menghadap Allah SWT. Orang yang rajin Tahajjud saja suruh banyak-banyak istighfar.  Ternyata semua ibadah yang diajarkan dalam Islam ditutup dengan Istigfar

Ketika kita telah wukuf di arafah, ibadah yang paling mulia waktu haji wukuf di arafah, kita menuju musdalifah, kata Allah SWT, “banyak-banyak lah istighfar.”  Ketika selesai Shalat, shalat ibadah yang mulia ditutup juga dengan kebaikan istighfar.

Khalifah Umar bin Abdul Azis pada zamannya ketika mau menutup hari-hari Ramadhan, beliau utus surat ke Gubernur-gubernur nya dan menitip pesan, “tutuplah Ramadhan ini dengan melakukan zakat fitrah dan jangan lupa memperbanyak Istiqfar pada Allah SWT.

Jika ada yang bertanya, apa yang harus kita katakan menjelang tutup Ramadahan? kita katakan kepadanya, “Perbanyaklah Istighfar kepada Allah SWT”.  Kita sadar, Ramadhan adalah hadiah terbaik untuk kita, yang belum kita tunaikan hak-hak nya sebagaimana mestinya, maka perbanyak istighfar kepada Allah SWT.

Lihat juga:Pesan Syaikh Maher jelang 10 Malam Terakhir Ramadhan

Keempat, Menyempurnakan Kebaikan, Ucapkan Takbir dan Syukur.  Dalam Qs.  Al Baqarah: 185, Allah SWT memerintahkan:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur

Allah menyiapkan bagaimana kita menutup Ramadhan. Mari kita sempurnakan bilangan bilangan Ramadhan. Ramadhan bukan cuma tanggal 27 Ramadhan, sebagian orang kalau sudah merasa mendapatkan Lailatul Qadri masjid sudah sepi, tidak ada lagi orang rajin ke masjid dengan klaim bahwa sudah dapatkan Lailatul Qadri

Seakan puncak Ramadhan adalah tanggal 27 tersebut. Mari kita sempurnakan, mari tetap semangat lakukan kebaikan-kebaikan hingga akhir. Karena sesungguhnya kebaikan itu sangat ditentukan pada bagian paling akhirnya

Kemudian, ketika sudah datang pengumuman lebaran, hilal sudah terlihat atau disempurnakan jadi 30 Ramadhan, malam syawal kita dianjurkan perbanyak takbiran. Sebagai bentuk kesyukuran pada Allah, membesarkan Allah yang telah berikan hidayah petunjuk pada kita mampu menyelesaikan Ramadhan

Banyak kesyukuran pada Allah SWT, Kita berterima kasih kepada Allah SWT, kita gembira. Jika ada yang berkata bukankah Ramadan adalah tamu yang kita dirindukan, bukankah perpisahan dengannya adalah suatu kesedihan. Maka Jawabannya: benar, kita sedih Ramadhan pergi, kita sedih, berat rasanya melepaskan kepergian Ramadhan.

Seiring dengan itu kita juga bergembira karena menyambut hari kemenangan,  berbahagia karena Allah SWT memudahkan selesaikan amanah Ramadhan yang tidak ringan ini. Nabi SAW menyebutkan pada sebagian hadits tentang keutamaan puasa diantaranya, ada dua kegembiraan, yaitu kebahagian ketika berbuka puasa dan kebahagiaan akan bisa bertemu Allah di akhirat kelak.

Lihat juga: Menjemput Berkah “Lailatul Qadr”

Kelima, Beribadah hingga Kematian datang menjemput. Dalam Qs. Al Hijr: 99

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Ramadhan bukan batas akhir ibadah, kita berhenti ibadah ketika ajal datang menjemput. Masih ada hari-hari melewati dunia. Jangan berhenti lakukan kebaikan. Karena kita baru tahu apakah Ramadhan kita ini berbuah, bermanfaat, diterima ketika kita termasuk muslim yang tetap rajin melaksanakan perintah Allah SWT setelah bulan suci Ramadhan.

Imam Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tolak ukur amalan itu dilihat bagian yang paling akhirnya, bagaimana kita menghadap Allah pada hari kematian kita begitulah keadaan kita nanti di akhirat, apakah kita husnul khatimah atau tidak.”

Jangan pernah berhenti beribadah, baik di bulan Ramadhan dan setelah Ramadhan pergi. Ketika hanya mengenal masjid ketika di bulan Ramadhan, ketika hanya mau mengaji di bulan Ramadhan. Maka jangan-jangan hanya beribadah kepada Ramadhan, bukan kepada Allah pemilik Ramadhan.

Kata Abu Bakar As-shiddiq radhiyallahu anhu ketika sebagian sahabat hilang semangatnya waktu mendengar Nabi SAW wafat. Beliau mengatakan, “Siapa yang beribadah kepada Muhammad, maka sungguh Muhammad telah mati, tapi siapa yang beribadah kepada Allah SWT, maka Allah SWT Maha hidup dan tidak pernah mati”.

Ramadhan pergi, tapi ada bulan Syawal, pemilik Syawal juga pemilik bulan Ramadhan. Mari tetap dan terus perbanyak melakukan kebaikan, hingga Allah SWT menetapkan ajal kita. Kita tutup Ramadhan kita tahun ini dengan sebaik baiknya dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar ditutup usia kita di dunia dengan husnul khatimah.

Demikian, Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Akankah Ramadhan kembali datang menjumpai kita. (foto: madanitv)

Akankah Ramadhan kembali datang menjumpai kita. (foto: madanitv)

 

Like it? Share it!

Leave A Response