Implementasi Ekonomi Berkeadilan Umar bin Abdul Aziz

Revitalisasi Pasar Rakyat (foto: WJToday)

Revitalisasi Pasar Rakyat (foto: WJToday)

Oleh: Ari Nor Rahman, Pegiat Ekonomi Syariah

Kairo – Ketika kita mau membaca sejarah perkembangan islam, akan kita dapati sebuah masa di mana tingkat kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan ekonomi terjadi. Tepatnya pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, Khalifah ke-8 Dinasti Umayyah.

Umar bin Abdul Azis mulai menjabat menggantikan Khalifah Sulaiman yang wafat karena sakit 716 M. Walau hanya dalam periode singkat, tak lebih dari 3 tahun masa kepemimpinan, Ia benar-benar telah mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dalam ekonomi.

Bukti konkret ini terlihat dari apa yang dialami Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, “Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan-nya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Lihat juga: Bagaimana Sistem Ekonomi Kapitalis Bekerja?

Maka untuk menciptakan rakyatnya dalam desain kemakmuran dan kesejahteraan Umar bin Abdul Aziz mengimplementasikan strategi-strategi kebijakan ekonomi di antaranya:

1. Menyokong resolusi terhadap problematika ekonomi.

Menyoal terkait problematika ekonomi, ia bersumber dari 2 hal: Sumber daya yang terbatas dan keinginan manusia yang tidak terbatas (beragam).

Beranjak dari sinilah problematika itu timbul, yaitu masalah sumber ekonomi dan masalah kebutuhan ekonomi baik itu dalam tingkat individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dalam mengatasi persoalan ini Khalifah Umar mengambil beberapa kebijakan fiskal, yaitu:

Pertama, Merekonstruksi sistem perpajakan yang pada masa pemerintahan sebelumnya karut-marut, diikuti dengan pemberantasan seluruh aparat pemerintah yang melakukan praktek korupsi dari kelas teri sampai kelas kakap.

Kedua, mengupayakan seluruh masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak, kendaraan untuk memenuhi kebutuhan, perlengkapan rumah tangga, hingga pembantu yang dapat meringankan tugasnya.

Semua itu Ia implementasikan dalam bentuk real sebagaimana perkataannya, “Apa-apa yang kalian inginkan kirimkan surat kepadaku pasti aku penuhi”.

Lihat juga:  Ambisi China, Presiden Baru, dan Khilafah

2. Menerapkan secara penuh dasar hidup kecukupan pada seluruh rakyatnya.

Dalam Hadist Rasulullah yang di riwayatkan oleh Bukhari: “Barang siapa yang kaya agar dia dapat duduk dengan orang yang fakir dan barang siapa yang mempunyai kekayaan lebih agar dia duduk dengan orang yang kekurangan”.

Inilah yang menjadi dasar kebijakan cucu sahabat nabi ini, Ia berusaha memaksimalkan distribusi kekayaan pada seluruh rakyatnya hingga menurunnya tingkat kesenjangan antar mereka dan lahirnya kecukupan hidup dalam masyarakat.

Pengimplementasian ini ia praktikkan mulai dari diri dan keluarganya; ia enggan mengambil gaji jabatannya pun perhiasan dan kekayaan keluarganya didistribusikan sebagian besar pada masyarakat yang membutuhkan.

Tak berselang lama kebijakan ini membuahkan hasil sangat luar biasa, terciptalah tatanan masyarakat yang berkecukupan hingga lahirnya penolakan-penolakan bantuan zakat karena merasa kurang pantas untuk menerimanya.

Lihat juga: Proyek OBOR China, Itu Mah Proyek Luhut Cs

3. Proteksi kekayaan negara dan rasionalisasi pembelajaran anggaran negara. Untuk implementasinya, Umar mengangkat para pemangku pemerintahan yang benar-benar amanah, profesional, dan tak boros dalam membelanjakan anggaran negara.

Dampaknya, terwujudnya perlindungan kekayaan negara dari pencuri-pencuri berdasi serta pembelanjaan anggaran pada hal-hal proporsional dan rasional.

Hal ini tercermin dari kebijakannya dengan memecat pejabat-pejabat korup yang walaupun mereka akan menjadi dalang konspirasi pembunuhannya kelak.

4. Mendorong lnvestasi dalam berbagai sektor. Setelah melakukan berbagai langkah untuk perbaikan ekonomi, ia mulai fokus menggenjot investasi, baik itu dalam bentuk materiil (duniawi) maupun dalam bentuk in-materiil (ukhrawi).

Lihat juga: Menyaksikan Detik-detik Berakhirnya NKRI

Tak hanya dalam bentuk makro ia dorong dalam investasi, pun masyarakat ia himbau untuk menginvestasikan kelebihan hartanya dalam berbagai bidang; industri, pertanian, biro jasa, pelayanan, perdagangan dan semua bentuk mata pencaharian yang menghasilkan pendapatan untuk mewujudkan program hidup layak yang berkeadilan.

Dari semua kebijakan inilah Pimpinan Negara ini dapat dengan leluasa mensejahterakan rakyatnya dalam ekonomi berkeadilan hanya dalam waktu singkat.

Jadi, bukanlah hal yang mustahil Ekonomi berkeadilan itu terwujud jika Negara mau menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah terbukti memberikan kehidupan sosial ekonomi yang positif, tak hanya mengadopsi sistem yang sampai detik ini pun makin memperlebar jurang kesenjangan. Walau memang resiko konflik dengan kebathilan andalan keniscayaan. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response