Hukum Menggunakan Go-Pay, OVO dan sejenisnya dalam Islam

by Penulis Palontaraq | Senin, Apr 22, 2019 | 84 views
Aplikasi Go Pay. (sumber: aturduit)

Aplikasi Go Pay. (sumber: aturduit)

Laporan:  Muhammad Farid Wajdi

ADA yang belum tahu apa itu Go Pay?  Go-Pay, sebelumnya disebut sebagai Go Wallet (uang elektronik), adalah dompet virtual untuk menyimpan Go-jek Credit Anda yang bisa digunakan untuk membayar segala  transaksi yang berkaitan dengan layanan di dalam aplikasi Go-jek.

Agar bisa menggunakan Go Pay, Anda perlu memastikan bahwa saldo di dalam GoPay Go jek Anda mencukupi untuk melakukan pembayaran, namun jika Anda saldonya tidak mencukupi, Go-jek menyediakan layanan pembayaran parsial, dimana Anda bisa membayar dengan saldo Go Pay, lalu sisanya bisa dibayarkan dengan uang tunai.

Saat ini GO-PAY sudah terintegrasi dengan bank-bank besar di Indonesia demi kemudahan Anda untuk melakukan isi saldo ke dalam GO-PAY. Beberapa bank besar yang menjadi mitra GO-JEK dalam layanan GO-PAY adalah BCA, Bank Mandiri, Bank BRI, BNI, Permata Bank, CIMB Niaga, serta pengisian Saldo Via ATM Bersama dan PRIMA.

Lihat juga: Mengenal Industri 4.0

Sebagaimana halnya dengan Go Pay, OVO pun begitu. OVO merupakan aplikasi smart yang memberikan layanan pembayaran dan transaksi online (OVO Cash). Pengguna juga bisa mengumpulkan poin setiap kali bertransaksi pembayaran melalui OVO.

Secara umum, OVO Cash dapat digunakan untuk berbagai macam pembayaran yang telah bekerjasama dengan OVO menjadi lebih cepat. Sedangkan OVO Points adalah loyalty rewards bagi yang bertransaksi dengan menggunakan OVO Cash di merchant rekanan OVO.

OVO Points sendiri dapat ditukarkan dengan berbagai penawaran menarik hingga ditukarkan dengan transaksi di merchant rekanan OVO, selain menawarkan kemudahan transaksi tanpa mengharuskan nasabahnya membawa cash terlalu banyak. Salah satunya cukup dengan menunjukkan aplikasi OVO yang didalamnya terdapat saldo cash maupun point.

Baik Go Pay maupun OVO, juga e-wallet lainnya tentunya memerlukan kajian ulama fikih, agar jelas hukumnya, terang manfaat dan mudharatnya, dan tidak menyalahi hukum muamalat dalam Islam.

Lihat juga:  Unicorn pada Startup

Berikut ini, sebagai salah satu ormas Islam, Wahdah Islamiyah (WI) yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan dakwah,  telah melakukan kajian mendalam terkait Go Pay, OVO, dan sejenisnya tersebut dan dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Dewan Syariahnya tentang Hukum Go Pay, dan sejenisnya.

SURAT KEPUTUSAN DEWAN SYARIAH WAHDAH ISLAMIYAH
Nomor: D.021/QR/DSA-WI/VII/1440
Tentang
HUKUM GO-PAY DAN SEJENISNYA

Dengan memohon rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Dewan Syariah Wahdah Islamiyah setelah:

MENIMBANG:
1. Bahwa masyarakat khususnya kader dan binaan Wahdah Islamiyah membutuhkan penjelasan hukum syar’i tentang Hukum Go-Pay dan sejenisnya;
2. Bahwa dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan kebijakan syariat, Dewan Syariah Wahdah Islamiyah harus selalu merespon fenomena yang berkembang di tengah umat, khususnya di kalangan kader Wahdah Islamiyah;
3. Bahwa oleh karena itu Dewan Syariah Wahdah Islamiyah merasa perlu membuat ketetapan akan hal tersebut dan menuangkannya dalam sebuah surat keputusan.

MENGINGAT:

1. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam Alquran Surah al-Maidah ayat 1

﴿ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا أَوفُوا بِٱلعُقُودِ…﴾

Artinya:
“Wahai orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu…”

2. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam Alquran Surah al-Nisa ayat 29:

 

﴿ یَـٰۤأَیُّهَا الَّذِینَ اٰمَنُوا لَا تَاکُلُوۤا اَموَالَکُم بَینَکُم بِالبَاطِلِ اِلَّاۤ اَن تَکُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنکُم…﴾

 

Artinya:
“Wahai orang yang beriman! Janganlah kalian memakan (mengambil) harta orang lain secara batil, kecuali jika berupa perdagangan yang dilandasi atas sukarela di antara kalian….”

3. Hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri:

لا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلّا مِثْلًا بمِثْلٍ، ولا تُشِفُّوا بَعْضَها على بَعْضٍ، ولا تَبِيعُوا الوَرِقَ بالوَرِقِ

إلّا مِثْلًا بمِثْلٍ، ولا تُشِفُّوا بَعْضَها على بَعْضٍ، ولا تَبِيعُوا مِنْها غائِبًا بناجِزٍ

Artinya:
“Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (ukurannya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (ukurannya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai.”

4. Hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dengan sanad hasan sahih dari sahabat ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani:

الصلحُ جائِزٌ بينَ المسلمينَ إلّا صلحًا حرَّمَ حلالًا أوْ أحلَّ حرامًا والمسلمونَ على شروطِهمْ إلّا شرطًا حرَّمَ حلالا أوْ أحلَّ حرامًا

Artinya:
“Shulh (penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat) boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali shulh yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

5. Kaidah yang berbunyi:

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

Artinya:
“Hukum asal segala sesuatu adalah dibolehkan hingga ada dalil yang mengharamkannya.” (al-Asybah wa al-Nazhair, Imam al-Suyuti hal.60)

6. Kaidah yang berbunyi:

المعروف عرفا كالمشروط شرطا

Artinya:
“Semua yang telah dikenal karena urf seperti yang disyaratkan karena suatu syarat.” (‘Ilm al-Usūl al-Fiqh, Abd al-Wahhab al-Khallaf, hal.90)

MEMPERHATIKAN:

1. Pendapat Imam Malik, dalam kitab al-Mudawanah al-Kubra, Jilid 3, hal. 90, tentang kebolehan menggunakan alat tukar dari bahan yang disepakati oleh manusia;
2. Pendapat Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ al-Fatawa, Jilid 19, hal. 251, bahwa dinar dan dirham adalah sebagai tsaman (harga) yang berfungsi sebagai standar bagi objek transaksi jual beli;
3. Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (MUI) No:116/DSN-MU/IX/20I7 tentang Uang Elektronik Syariah;
4. Hasil Liqa Ilmi Dewan Syariah Wahdah Islamiyah ke-19 pada tanggal 7 Jumadilakhir 1439 H/ 24 Februari 2018 M;
5. Hasil Musyawarah Pengurus Harian Dewan Syariah Wahdah Islamiyah pada tanggal 28 Jumadilakhir 1440 H/ 06 Maret 2019 M bahwa Go-Pay dan sejenisnya dapat dikategorikan sebagai akad sharf (tukar-menukar uang).

MENETAPKAN:

MEMUTUSKAN

1. Hukum asal penggunaan Go-Pay dan sejenisnya adalah dibolehkan selama memenuhi kaidah-kaidah sharf (tukar-menukar uang);
2. Diskon yang didapatkan melalui pembayaran Go-Pay dan sejenisnya termasuk athaya (pemberian) yang diperbolehkan dan tidak termasuk faedah dari piutang (riba);
3. Mengimbau kepada seluruh kaum muslimin untuk menjaga persatuan dan ukhuwah serta saling menghargai perbedaan dalam menyikapi masalah ini.

Ditetapkan di: Makassar
Pada Tanggal: 06 Rajab 1440 H 13 Maret 2019 M

DEWAN SYARIAH WAHDAH ISLAMIYAH

Hukum Menggunakan Go-Pay, OVO dan Sejenisnya Dalam Islam?

Like it? Share it!

Leave A Response