Pemahaman Dasar tentang Thibbun Nabawi (2)

Bekam (Hijamah). (foto: ist/palontaraq)

Bekam (Hijamah). (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

Tulisan sebelumnya: Pemahaman Dasar tentang Thibbun Nabawi  (1)

MASIH  banyak diantara umat Islam yang sukar memahami eksistensi dan praktek pengobatan Thibbun Nabawi.  Yang manakah sebenarnya yang dimaksud dengan Thibbun Nabawi: Bekam (Hijamah), Ruqyah Syar’iyyah, Herba, atau yang lainnya,  mana dalilnya, bagaimana prakteknya, bagaimana efektifitas dalam menjaga dan merawat kesehatan, dan lain sebagainya.

Mungkin kita pernah mendengar “rumput fatimah” (Labisia pumila)?  Ketika umrah atau naik haji, tidak sedikit wanita yang sedang hamil minta dibawakan Oleh-oleh rumput fatimah. Katanya bisa membantu mempermudah persalinan.

Benarkah demikian? Tidak ada satupun hadits shahih mengenai rumput fatimah ataupun keutamaannya. Masyarakat awam banyak salah paham, hanya karena dinamakan dengan “Fatimah” kemudian banyak ditawarkan kepada jama’ah haji dan umrah.

Karena banyak yang menjadikannya Oleh-oleh, maka banyak pula yang menganggap “Rumput Fatimah” adalah Thibbun Nabawi atau ada keutamaannnya dalam Islam sebagaimana kurma dan air zam-zam.

Berbagai bahan herba

Berbagai bahan herba dan pengolahannya untuk pengobatan.  (foto: ist/*palontaraq)

Lihat juga: Muslim dianjurkan Konsumsi ini: Madu, Air Zamzam, dan Kurma

Beberapa sumber menyatakan bahwa Rumput Fatimah malahan mengandung hormon oksitoksin yang bisa merangsang kontraksi rahim. Tentu ini akan berbahaya jika diminum berlebihan tanpa dosis yang jelas dan arahan dari ahli herbal yang berpengalaman.

Beberapa sumber lain lagi menyatakan, sebaiknya diminum ketika proses melahirkan, pada pembukaan kelahiran.Yang salah paham adalah wanita hamil meminumnya dengan tanpa dosis yang jelas dan ketika belum saatnya melahirkan, akibatnya rahim akan kontraksi dan terkadang bisa mengugurkan kandungan.

Ini sudah cukup banyak kami temui kasus seperti ini. Untuk lebih amannya, sebaiknya dikonsultasikan dengan ahli herbal yang sudah berpengalaman. Dan yang paling penting adalah jangan sampai ada anggapan bahwa ini adalah ajaran atau bagian dari Thibbun Nabawi, atau bahkan menganggapnya memiliki barakah.

Disinilah kita melihat bagaimana rancunya pemahaman sebagian besar umat Islam terhadap eksistensi dan praktek Thibbun Nabawi. Karenanya sangat penting bagi kita untuk sebaiknya berhati-hati dengan segala sesuatu yang dinisbatkan dengan Thibbun Nabawi, bisa jadi ini merupakan jalan “penglaris dagangan” saja.

Thibbun Nabawi. (foto: ist/palontaraq)

Thibbun Nabawi. (foto: ist/palontaraq)

Sebagian kecil umat Islam memang masih banyak yang  salah paham tentang Thibbun Nabawi, sebagian besarnya malahan tidak mengetahuinya bahwa ada sunnah yang sangat fenomenal, yaitu Thibbun Nabawi, sudah dipraktekkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya, dan sekarang di era modern saat ini, telah banyak pengakuan akan kedahsyatan Thibbun Nabawi ditinjau dari aspek kesehatan dan kedokteran.

Thibbun Nabawi adalah sebuah metode pengobatan Nabi SAW yang sangat kompleks.  Thibbun Nabawi berdimensi ilahiah-imaniyah-ilmiah. Ada yang sekedar minum habbatussauda dan madu tanpa takaran yang jelas, ia sangka sudah menerapkan Thibbun Nabawi.

Padahal Thibbun Nabawi harusnya perlu dipelajari, dikaji, dan didalami dengan baik. Ada pula sebagian kecil terapis dan pelaku pengobatan yang hanya dengan menambahkan madu atau habbatus sauda dalam ramuannya, maka ia klaim bahwa ramuannya adalah Thibbun Nabawi.

Minyak Zaitun. (foto: ist/palontaraq)

Buah dan Minyak Zaitun, banyak disebut sebagai herba Thibbun Nabawi. (foto: ist/palontaraq)

Perlu diketahui bahwa konsep  Thibbun Nabawi adalah konsep kedokteran yang kompleks, didalamnya perlu juga kemampuan mendiagnosa penyakit, bagaimana melihat kondisi fisik dan psikis pasien, bagaimana praktek bekam dan ruqyah syar’iyyah, dan bahan herba apa saja yang pernah disunnahkan untuk pengobatan, bagaimana meramunya, berapa kadarnya, bagaimana peresepannya, dan lain sebagainya.

Selain bekam yang utama digolongkan sebagai  salah satu Thibbun Nabawi, kini Fashdu atau al-Fashdu juga menjadi polemik, apakah dapat dikategorikan sama dengan hijamah, bagian dari hijamah ataukah salah satu metode pengobatan tersendiri, tapi masih bagian dari Thibbun Nabawi.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra’: 36)

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أحْدَثَ فيِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:
Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.”

Demikian, Semoga bermanfaat adanya. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response