Selamat bertugas Prajurit TNI di Papua!

by Penulis Palontaraq | Senin, Sep 2, 2019 | 532 views
Para prajurit TNI yang tengah shalat dalam hutan. (foto: ist/palontaraq)

Para prajurit TNI yang tengah shalat dalam hutan. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan sebelumnya:  Ibu, Izinkan Aku Berjuang Menegakkan Khilafah

PALONTARAQ.ID – Selamat Bertugas Bapak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jaga amanat persatuan negeri. Jangan sampai Papua terkoyak diambil alih Penjajah.

Saya juga merasakan apa yang Bapak rasakan, tentang gelora, semangat menjaga kedaulatan,  persatuan, berbaur haru dan kesedihan, serta  harus ridha berpisah dengan istri dan keluarga.

InsyaAllah, dengan niat karena Allah SWT, untuk menjaga kesatuan negeri kaum muslimin, mengusir para penjajah yang menumpang misi dibalik jargon ‘merdeka’ di Papua, Anda akan mendapat pahala berlipat dari-Nya.

Para penjajah itu, kapitalisme barat dan kapitalisme timur itu, tidak pernah berniat mensejahterakan dan memerdekakan rakyat Papua. Mereka, hanya mau mencengkeram Papua lebih dalam, dengan isu memisahkan diri dari negeri ini.

Anda harus tegar, sebagainya saya berusaha untuk tetap tegar menahan isak, setiap melihat foto Anda berpamitan pada istri dan anak-anak Anda. Bahkan kepada istri dan jabang bayi yang masih dalam kandungan istri Anda.

Saya, bahkan tak kuasa juga meneteskan buliran air mata, melihat rona merah kesedihan, isak tangis dan rasa sesak yang mendalam, yang mampu saya baca dari ekspresi dan rona wajah istri, anak dan keluarga Anda.

Ridhalah Bapak TNI, sekali lagi niatkan semua karena Allah SWT agar hati Anda menjadi tenteram karenanya. Anda, bertugas bukan karena perintah komandan atau panglima. Tetapi Anda bertugas ke Papua, karena Allah SWT.

Ikhlas melepas anak istri demi tugas negara. (foto: ist/palontaraq)

Ikhlas melepas anak istri demi tugas negara. (foto: ist/palontaraq)

Saya tak sanggup menceritakan, tentang kelakuan Mr. Presiden yang notabene panglima Tertinggi yang memegang pucuk pimpinan dan komando TNI, justru cengengesan, serta tertawa terpingkal-pingkal.

Mr. Presiden larut dalam keasyikan nonton wayang dan dagelan para lawak, dan itu terjadi saat derai tangis dan air mata istri Anda tertumpah, juga anak-anak Anda yang masih kecil dan lucu, yang masih ingin dekat dan selalu bersama Bapaknya.

Lihat pula: Papua Membara, Jokowi tertawa Terpingkal-pingkal

Abaikan, dia yang asyikan bersepeda di Borobudur, ketimbang berkantor bersama rakyatnya di Papua, bersama Anda tentaranya di Papua, untuk memastikan tragedi Papua segera berakhir. Dia, memang tdk punya hati, kalaupun punya mungkin hatinya terbuat dari besi.

Tak perlu juga mencibir pada sipil yang sok militer yang menggunakan baju loreng, yang teriak-teriak NKRI harga mati, tapi meminta payung hukum untuk membela kedaulatan negara di Papua. Mereka hanyalah pasukan nasi bungkus, tentu tak ada seujung kuku dibanding Anda, yang setiap menerima tugas dan perintah, tak ada kelimat jawaban lain, selain menyatakan: Siap Komandan!

Tak perlu juga sakit hati, dengan sikap menteri politik hukum dan keamanan, yang menganggap remeh nyawa korban Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Rekan tentara Anda, mitra Anda di polisi, bahkan banyak rakyat sipil yang menjadi korban keganasan Organisasi Papua Merdeka (OPM), si menteri ini malah bilang ngak usah diributkan.

Dahulu, Pak Mulyono, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) bilang masalah Papua ini sederhana jika Pemerintah, para penguasa politik itu tidak hanya melabeli OPM sebagai KSB. Selama labelnya ‘kriminal’ bukan dilabeli ‘pemberontak’, maka TNI tidak bisa berbuat banyak.

Penguasa negeri ini, sengaja memelihara OPM dengan label Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) atau Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). Padahal, jika serius, sekali sergap oleh TNI dan sebelum OPM menjadi besar, masalah OPM ini tuntas sejak lama.

Anda, terpaksa menahan amarah melihat OPM membantai teman, mitra dan rakyat sipil di papua. Sementara, setiap kali Anda ingin mengarahkan moncong senjata, serta memuntahkan peluru untuk memberondong OPM.

Anda selalu dihantui perasan akan dipersalahkan oleh atasan. Karena apa? Perintah otoritas politik di negeri ini membelenggu Anda, Anda tidak diperkenankan bersikap tegas, meskipun OPM makin beringas.

Memang, seharusnya Anda menjadi tentara-tentara khilafah, berada dibawah komando seorang Khalifah. Khalifah, akan mengirimkan komando Jihad, yang itu berarti sama saja memberi izin Anda untuk memuntahkan isi peluru dan senjata untuk menumpas gerakan makar OPM. Ada dua konsekuensi yang akan Anda dapatkan, menang atau syahid di jalan Allah SWT.

Tidak akan ada yang menyalahkan Anda ketika membunuh sparatis Papua, tidak akan ada yang menuduh Anda melanggar HAM, karena perintah syariat Islam tegas : menyerang bahkan membunuh pelaku makar yang melawan dengan senjata, halal hukumnya.

Sekali lagi, doa kami segenap rakyat negeri ini menyertai Anda, semoga Anda kembali kepada anak dan istri keluarga Anda dengan selamat.

Percayalah, tidak ada yang mampu memisahkan Anda dengan anak dan istri Anda, kecuali kehendak Allah SWT. Akan semakin indah mahligai rumah tangga, dengan perpisahan yang sementara untuk berhimpun dan bersatu selamanya, kelak saat Anda kembali dari tugas, dan kelak saat abadi di surganya Allah SWT.

Karena itu, luruskan niat. Anda pergi dalam rangka menegakan kalimat hak, menjaga persatuan negeri kaum muslimin, dan memberantas setiap inchi negeri dari makar dan pemberontakan, yang ingin memecah belah bangsa ini. Ya Allah ya Rabb, jagalah tentara-tentara kami, tentara-tentara kaum muslimin.

Satu lagi pesan saya Bapak TNI, jaga sholat. Jangan tinggalkan sholat selama Anda dalam tugas. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response