Mengenal Syekh Abdul Qadir al-Jailani

by Penulis Palontaraq | Minggu, Mar 10, 2019 | 61 views
Syaikh-Abdul-Qadir-Al-Jailani

Syaikh-Abdul-Qadir-Al-Jailani

Oleh:  M. Farid Wajdi, S.H.i

SIAPA yang tak kenal Syekh Abdul Qadir al-Jailani?  Di Indonesia, Syekh Abdul Qadir al-Jailâni atau al-Kailâni (470-561 H / 1077-1166 M),  lebih dikenal dengan kewaliannya atau karamahnya, memiliki sisi lain yang belum banyak diungkap atau kurang diperhatikan kebanyakan orang, termasuk pengikut Tarekat Qadiriyah.

Bersama gerakan Qadiriyahnya,  Syekh Abdul Qadir al-Jailani  memiliki kontribusi dan peran cukup besar dalam mempertahankan aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah.  Pada masa hidupnya,  memang sedang terjadi konflik antara Islam dan Kristen, konflik Syiah, diwakili Daulah Fathimiyah) dan Sunni, diwakili Daulah Abbasiyah, percekcokan madzhab fikih, demikian juga aliran menyimpang lain yang tumbuh subur, demikian di tulis M. Shallâbi dalam Syeikh Abdul Qâdir al-Jailâni, hal. 22.

Kondisi sosial yang penuh konflik tersebut, berpengaruh dalam menentukan pilihan peran strategisnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah dalam  menanggulangi secara aktif aliran-aliran menyimpang, seperti Syi’ah.  Dalam buku “al-Ghunyah li Thâlibi Thârîq al-Haqqi Azza wa Jalla”  (1417: 179-184),  ulama bermadzhab Hanbali ini membahas tentang Penyimpangan dan ajaran sesat Syi’ah.

Dr. Mâjid Ersan al-Kailâni dalam buku “Hâkadza Dhahara Jîlu Shalâhuddîn wa Hâkadza Âdat al-Quds” (1995: 236-238) menyebutkan bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani  gigih melawan Syiah, dan aliran menyimpang lainnya pada zamannya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, sebagaimana catatan Muhammad al-Shallâbi dalam “Ashru al-Daulah al-Zankiyah”- memiliki dua keistimewaan:

Pertama, menggugurkan argumentasi lawan-lawan dialognya bukan dengan ideologi Sunni yang diyakininya, tapi justru menggunakan ideologi menyimpang mereka. Artinya, beliau menjatuhkan mereka, dengan argumentasi mereka sendiri.

Kedua, luasnya pengetahuan beliau mengenai aliran-aliran menyimpang. (2017: 406-407)

Ketika membahas Syi’ah, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani mengulas sejarah dan akidah Syiah serta perbedaan antara kelompok yang moderat dengan kelompok yang bersembunyi dengan baju Syi’ah, yang tak lain adalah kelompok  Yahudi (Syiah Rafidhah).

Syeikh Abdul Qadir al-Jailâni ini juga mengingkari kaum konservatif Syiah yang menyatakan bahwa ketiga khalifah rasyidin (Abu Bakar, Umar dan Utsman) tidak sah. Beliau menetapkan bahwa khilafah ketiganya berdasarkan mandat Rasulullah SAW dan Ali sendiri juga membaiat mereka.

Disebutkannya bahwa,  “Orang Yahudi berkata: tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluarnya Masih Dajjal serta turun dengan sebab dari langit. Kelompok Rafidhah juga berkata: tidak ada jihad fî sabîlillah hingga keluarnya Imam Mahdi dan ada panggilan dari langit.

Orang Yahudi mengakhirkan shalat Maghrib. Demikian juga kelompok Rafidhah.  Orang Yahudi benci pada Jibril ‘alahis salam dan mengatakan bahwa ia adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Kelompok Rafhidah juga mengikut bahwa Jibril ‘alaihis salam salah menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW padahal sebenarnya wahyu itu diturunkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.” (Abdul Qadir Jailani, al-Ghunyah, 184)

Meski demikian, kritik-kritik yang dilontarkan beliau tidak sampai mengakibatkan konflik antar  madzhab.  Dengan metode obyektif dan akhlak ulama –sebagaimana riwayat At-Tadafi- bahwa Ulama-ulama Syi’ah pernah mendatangi majelis Syeih Abdul Qadir, dan beliau berdialog mengenai akidah mereka. Walau begitu, akibat sikap kritisnya ini, beliau sangat dibenci kalangan Syi’ah Rafidhah Bhatiniyah baik secara politik dan pemikiran.

Pada tahun 914 H/1508 M misalnya, Syah Isma’il As-Shafawi saat menduduki (menaklukkan) Baghdad, Imam Syi’ah ini menghancurkan Madrasah Qadiriyah, kuburan beliau, serta menyakiti keluarga Kailani sehingga membuat mereka berpencar-pencar ke berbagai negeri. Kehebatan madrasah ini baru bisa dikembalikan di era Sultan Sulaiman al-Qanuni dari Daulah Utsmaniyah (Majid al-Kailâni, Nasy’ah al-Qadiriyah, 129)

Lebih dari itu, pada tahun 80-an seorang “muhaqqiq” (pemeriksa atau pengoreksi) yang dikenal sebagai sufi di Iraq, ketika meneliti kitab “al-Gunyah” karya Syeikh Abdul Qadir, dengan sengaja menghapus bagian tentang pembahasan tercelanya Syi’ah (Arsyîf Multaqa Ahli al-Hadîts, III/8: 231). Bisa jadi, seorang “muhaqqiq” sufi itu adalah orang Syi’ah yang berusaha menghilangkan kritik Syeikh Abdul Qadir tentang Syi’ah, atau kemungkinan lain telah bersekongkol dengan Syi’ah untuk menghapus jejak tulisan beliau. Wallahu a’lam.

Terlepas dari itu, kontribusi dan peran penting Syeikh Abdul Qadir al-Jailani  dalam melawan berbagai aliran menyimpang, seperti Syi’ah Konservatif Bahtiniyah dan lainnya, juga memiliki  andil besar secara tidak langsung dalam meruntuhkan Daulah Fathimiyah Ubaidiyah di Mesir, sekaligus sebagai pelapang jalan bagi masuknya Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193) dalam ekspedisi pembebasan Mesir dari hegemoni Daulah Syiah Fathimiyah.

Oleh karena itu, jika mau mengambil pelajaran dari sisi lain sosok Abdul Qadir al-Jailani, maka umat Islam jangan hanya fokus pada sisi ke-shufi-an saja (yang belum tentu benar semuanya), tapi juga pada kegigihan beliau dalam melawan (memberantas) aliran menyimpang melalui dialog, pendirian madrasah, bahkan sampai ke tingkat negara dengan cara mendukung kebijakan pemerintah untuk mengatasi aliran menyimpang.

Wallâhu a’lam bish-shawab. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response