Beranda Cerpen Setia Berkhianat

Setia Berkhianat

Masihkah setia? (sumber: merdeka.com)
Masihkah setia? (sumber gambar: merdeka.com)

 

Oleh:  Etta Adil

SETIA itu baik dan positif. Sebaliknya, Pengkhianat itu jelek dan negatif. Banyak orang yang memilih jadi pengkhianat ketika ia tak sanggup berjuang untuk setia.

Namun, tak sedikit pula orang yang memang ditakdirkan menjadi pengkhianat. Mengkhianati Tuhan yang telah menciptakannya, mengkhianati ibu yang telah melahirkannya, mengkhianati guru yang telah mendidiknya, mengkhianati teman yang telah mendampinginya dalam suka dan duka, bahkan banyak orang yang tak setia dengan kata hatinya sendiri.

Mia, sudah berjam–jam duduk termenung di teras belakang rumahnya di sore hari itu sampai tak menyadari bahwa hari sudah mulai kehilangan terang.

Ia pada akhirnya diperhadapkan pada pilihan antara tetap setia atau menjadi pengkhianat bagi suami dan anaknya. Sulit baginya untuk tetap setia, disaat suaminya telah lebih dulu mengkhianatinya.

Tapi sangat sulit juga bagi dirinya untuk menjadi pengkhianat, disaat teringat akan anaknya dan kebaikan– kebaikan suaminya terhadap keluarganya.

“Haruskah aku tetap setia disaat diriku telah dikhianati,” pikirnya. Bukan sebuah kabar burung atau sekedar gosip tetangga, ia bahkan telah menyaksikan sendiri suaminya telah menggandeng mesra seorang wanita tatkala ia sibuk memilih barang belanjaan di sebuah supermarket.
Hari itu, ia tak ingin melabrak suami dan wanita selingkuhannya itu karena masih berpikir menjaga nama baik suaminya. Firasatnya kuat mengatakan mereka ada hubungan khusus.

Rasanya baru seperti kemarin ia melahirkan seorang putri kecil. Masih terbayang di pelupuk matanya betapa suaminya begitu bahagia menimang–nimang penghuni baru rumah kecilnya.

Masih ia ingat pula kata–kata yang meluncur tenang dari mulut suami yang begitu dikaguminya, “Sayang, kita telah melewati masa–masa sulit bersama dalam suka dan duka. Bersamamu aku takkan takut menghadapi cobaan apapun. Aku akan tetap setia bersamamu, membangun sedikit demi sedikit batu bata kebahagiaan sampai mewujud istana kecil bagi keluarga kita, sayang. Untuk mengingatkanku pada janjiku ini, kuberi nama putri kecil kita ini Setiawati,” ujarnya meyakinkan.

Tak cukup setahun, sang putri belum lagi lepas dari disusui, suaminya telah lupa akan janjinya. Dua bulan lalu suaminya mulai pulang larut malam. Saat pulang, tak ada lagi kecup kening dan sapaan sayang.

Beberapa kali ia mencoba mengajak berbicara, yang didapatinya hanya balasan dengkuran dan punggung suaminya. Mia mencoba memahami, “mungkin suamiku capek!”

Dan kini ia benar–benar baru tersadar, “Aku tak ada lagi di pikiran suamiku, ia telah capek bersama wanita lain, wanita yang selalu membuatnya pulang larut malam”.

Ia terisak tatkala tak menyadari hari sudah kehilangan terang. Ia harus menutup semua pintu dan jendela rumahnya. Gelap malam menyapa saat hatinya tak lagi bisa bercahaya.

* * *

Pagi hari itu, cerahnya bukan main. Mia terlambat lupa. Ia terjaga disaat jalanan depan rumahnya mulai sepi oleh lalu lalang anak sekolah dan para pegawai tergesa–gesa ke kantornya seperti biasanya. Putri kecilnya masih terlelap disampingnya.

Di sisi tempat tidurnya ia berdo’a, “Ya Allah, cukupkanlah kesedihanku hanya sampai disini dan biarkanlah aku menyambut hidupku yang baru secerah pagi ini!”

Dengan tenang ia beranjak membersihkan dan merapikan segala isi rumahnya. Semua jendela rumahnya dibuka lebar–lebar. Sesaat ia rentangkan kedua tangannya, tersenyum menyambut pagi yang indah, seindah pepohonan dan tanaman di luar rumahnya yang menawarkan hijau dedaunannya menyegarkan pandangan.

Usai mandi, ia kembali ke kamarnya. Ia baru akan membangunkan putrinya, saat telepon di kamarnya berdering. “Tak seperti biasanya, telepon rumah berdering sepagi ini,” batinnya.

“Halo, ini rumahnya Pak Unding”, tanya seseorang diujung telepon sana. Ia sadar telepon tersebut tidak salah alamat. Pak Unding yang dimaksud adalah Zainuddin, nama lengkap suaminya.

“Ya, benar. Ini siapa yah?”

“Maaf Bu’, kami dari Polsek Tamalate. Kalau boleh tahu, ini dengan siapa? Apanya Pak Unding?” ujar seseorang diujung telepon sana.

Mia, berusaha menenangkan diri walaupun jantungnya dirasakan berdetak lebih kencang. “Saya Mia pak, Ibu Mia, Istrinya pak Unding. Ada apa ya pak?”

“Haa…. ! Maaf sebelumnya ya, Bu.  Tabah ya, Bu! Kami dari Kepolisian. Dari Polsek Tamalate ingin mengabarkan Suami Ibu, Pak Unding meninggal semalam karena kecelakaan lalu lintas.  Suami Ibu meninggal bersama seorang wanita di dalam mobilnya,” ujar Pak Polisi di ujung telepon sana.

“Ya Allah ….. Suamiku ….. ! Inna lillahi wa Inna Ilaihi Rhojiun,” ujarnya tak kuasa menahan jerit tangis.

Pagi yang cerah, Tuhan telah mencukupkan kesedihan Mia. Ia mampu menjaga hatinya dan berjuang untuk tetap setia sampai ajal menjemput suaminya bersama selingkuhannya.

Sejam setelah menerima telepon dari kepolisian, ia dijemput oleh keluarga suaminya untuk membawa jenazah suaminya kembali ke kampung halamannya di Garasikang Kabupaten Jeneponto, karena disanalah akan dimakamkan oleh keluarganya. Sebelum berangkat, ia minta kepada Daeng Gassing, iparnya yang menjemputnya agar diberikan kesempatan untuk shalat dan bermunajat.

Usai shalat ia berdo’a, “Ya Allah, ampunilah segala dosa suamiku. Ampunilah segala dosaku terhadapnya. Terimalah ia disisiMu. Semoga damai bersamaMu,” ujarnya terisak.

Sesaat ia kembali beranjak menutup semua pintu jendela dan pintu rumahnya. Sambil menggendong putri kecilnya, pikirannya melayang jauh di saat masih bersama suaminya. Ia kembali terduduk dan terisak, “maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok,” ujarnya.

Kepada siapa esok hari ia berbagi pikiran, suka dan duka. Ia tak tahu. Yang ia tahu bahwa ia ditakdirkan menjadi wanita setia sampai suaminya meninggalkannya untuk selama–lamanya.

Mia telah membuktikan kesetiaannya. Kesetiaan yang tak pernah dijanjikan dan diucapkannya kepada suaminya, sebuah kesetiaan yang berbalas pengkhianatan sampai di ujung nafas suaminya. (*)

 

 

(*Diambil dari Cerita “Setia Berkhianat”, dari Buku Antologi Cerita Etta Adil – “Surat Cinta Buat Bidadari Kecilku di Surga”, Pustaka Puitika (2015)

Berita sebelumyaGara–gara Facebook
Berita berikutnyaJerit Pilu Sang Mantan Preman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT