BerandaCerpenJerit Pilu Sang Mantan Preman

Jerit Pilu Sang Mantan Preman

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Matanya membara. Amarah menguasai dirinya. Tangan kekarnya dikepal kuat–kuat.  Tiba–tiba,

Praaaaakkk.

Satu tamparan keras melayang mengenai wajah putri cantiknya didepannya dan satu tamparan lagi menyambar laki–laki pezina yang duduk di sebelah kirinya.

Praaaaakkk.

 “Sabar Pak. Ini di rumah saya”, ujarku seketika.

Putrinya mengiris kesakitan disertai jerit tangis yang keras. Segera ia berlindung dibalik pelukan istri saya sementara laki–laki pezina itu berlindung dibalik punggung saya.

“Ini Siri’. Kau telah mempermalukan bapak, Ira”.

Matanya masih memerah siap menghanguskan anaknya yang tertunduk menangis. Meringis.

“Andai saja kamu di rumah, akan kurobek–robek mukamu itu. Akan kucongkel matamu itu, Ira”.

Lelaki bertubuh besar dan kekar itu terus mengoceh. Ia tak lagi tahu bagaimana harus membela harga dirinya.  Amarahnya tak terbendung.

Saya biarkan saja ia terus memarahi anaknya dan pacar anaknya itu. Ia boleh saja menghakimi kedua pasangan remaja yang dibutakan cinta itu asal jangan membuat keributan di rumah saya.

Laki–laki bertubuh besar dan kekar itu tak lagi menyebut anaknya dengan sebutan “Nak!”

“Ira, dengar baik–baik. Kamu boleh pulang ke rumah ibumu. Tapi jangan pernah pulang ke rumah Bapak!”

“Mulai sekarang, kamu sudah mati dalam hati Bapak, Ira!”

“Mulai sekarang, tidak ada lagi biaya untuk kamu. Silahkan cari kehidupanmu sendiri bersama laki–laki itu”.

Ia berdiri dengan amarah masih membuncah sampai di kepalanya. “Saya minta maaf pak” ujarnya kepadaku.  Sesaat ia menoleh ke laki–laki pezina itu, “Dan kamu, kita masih punya perhitungan!”

* * *

Saya terkesiap, Laki–laki bertubuh besar kekar itupun pamit dan berlalu. Yang saya tahu, ia adalah mantan pimpinan preman yang sudah bertobat puluhan tahun yang lalu.

Beberapa tahun terakhir  ia lebih dekat dengan Agama. Ia pun sudah menunaikan haji dan permata hatinya yang dinamainya Ira, pun disekolahkannya di Sekolah Agama dengan harapan anaknya terjaga dari pergaulan bebas. Nyatanya anaknya tersebut justru dikeluarkan dari sekolahnya karena terlibat pergaulan bebas.

Laki–laki bertubuh besar dan kekar itu tak nampak lagi di pandangan. Miris menyaksikannya pergi  tanpa mengakui lagi anaknya yang telah menjadi pendosa.

Saya tak tahu lagi dimana laki–laki perkasa itu, seorang laki–laki yang pernah membuatku kagum dengan kejujurannya, “Saya ini pak, meskipun mantan preman, tidak pernah sekalipun melayangkan tangan ke muka anak.  Meskipun saya sudah lama cerai dari ibunya, mereka tetap saya tanggung dan jamin biaya pendidikannya”.

Kini, di saat ia melayangkan tangan ke pipi anaknya untuk yang pertama kalinya, untuk yang terakhir kali itu pula ia mau melihat anaknya.

Baginya, “Anaknya sudah mati!” Malam ini, saya mencoba menelusuri keberadaan anak itu lewat akun facebooknya. Dari status dan komentarnya, tak nampak penyesalan pada dirinya.

Di profilnya, jelas terbaca oleh semua temannya bahwa ia bertunangan dengan laki–laki lain, bukan laki–laki yang pernah ditempeleng bersama dirinya oleh bapaknya.  (*)

 

(*Diambil dari Cerita “Jerit Pilu Sang Mantan Preman”, dari Buku Antologi Cerita Etta Adil – “Surat Cinta Buat Bidadari Kecilku di Surga”, Pustaka Puitika (2015)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT