Prabowo, Tokoh Terkuat Saat Ini di Indonesia

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Jul 6, 2019 | 72 views
Prabowo Subianto

Prabowo Subianto (foto: ist)

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Jika ada penobatan siapa pria terkuat saat ini di Indonesia dan boleh jadi di Asia, secara sosial, ekonomi dan politik, maka penulis akan memilih Prabowo. Ya, pria tersebut bernama Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto adalah jenderal bintang tiga yang bersinar terang di TNI pada Tahun 1998, namun berhasil disingkirkan lewat permufakatan jahat: pelanggaran HAM dan isu kudeta (makar).

Sampai saat ini, kedua kasus tersebut hanya muncul dan tenggelam dari wacana ke wacana, dari tahun ke tahun, tanpa ada satu pengadilan pun yang mampu membuktikannya, bahkan dibawa ke pengadilan pun tidak.

Jenderal besar AH Nasution menerima hormat dari Prabowo. (foto: ist/palontaraq)

Jenderal besar AH Nasution menerima hormat dari Prabowo. (foto: ist/palontaraq)

Usai diberhentikan dengan hormat dari TNI — meski masih saja ada yang menghembuskan isu beliau dipecat, namun semakin Prabowo difitnah, semakin banyak sumber yang membantahnya dan bahkan memunculkan surat pemberhentiannya dengan hormat.

Rekam jejak digital pemberitaannya pun banyak bertebaran di banyak media mainstream dan media online — Prabowo sukses membangun kekuatan ekonomi, sebagai pengusaha dan membangun dari bawah perusahaannya hingga mencapai sukses.

Lihat pula: Pak Prabowo, Anda Pasti Tahu Cara Menghadapi Para Perampok!

Sebagai tokoh yang menghargai demokrasi, Prabowo berhasil membangun dan membesarkan partai yang didirikannya dari bawah, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Prabowo muncul sebagai negarawan yang mengantarkan banyak orang ke puncak kejayaan politik: Ridwan Kamil, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Jokowi, dan banyak lagi yang lainnya sebagai pemimpin daerah lewat Pemilukada, meski beberapa diantaranya membuktikan dirinya sendiri sebagai pengkhianat, tak layak dipercaya dan diberi amanah.

Siapa yang dapat menyangkal bahwa Prabowo adalah salah satu yang berperan besar mengantarkan Jokowi naik ke kursi kekuasaan Gubernur DKI Jakarta, termasuk membiayai kampanyenya dan ‘turun gunung’ ikut mempopulerkan Jokowi di tengah masyarakat ibukota.

Pada Perhelatan Pilpres 2009 (berpasangan dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri), Pilpres 2014 (berpasangan dengan Hatta Radjasa dan berhadapan dengan Jokowi yang pernah dibesarkannya), dan pada Pilpres 2019 (berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno), Prabowo ‘kalah’ dan ‘dikalahkan’, tapi itu sekalipun tak membuatnya tumbang.

Kampanye Capres 02, Prabowo di Menado, Sulut. (foto: ist/palontaraq)

Kampanye Capres 02, Prabowo di Menado, Sulut. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Surat Terbuka untuk Prabowo-Sandi dan Gerindra-PKS-PAN

Masih ingat Pilpres 2014, Prabowo juga menggugat kecurangan yang dianggapnya TSM ke MK, bertruk-truk bukti kecurangan dibawa ke MK, dan seperti sudah diduga, MK mementahkan segala bukti kecurangan itu dan memenangkan pasangan Jokowi-JK. Sungguh luar biasa permufakatan jahat dibalik itu semua. Satu persatu permufakatan jahat itu kini terkuak, bermunculan dan memberi kesaksian sejarah.

Pada Pilpres 2019, permufakatan curang itu dirancang sejak awal oleh Rezim berkuasa. Dari Presidential Threshold (PT) 20 persen, hampir sebagian besar partai politik (parpol) diambil dan memihak kepadanya. Dengan ketentuan PT itu, parpol yang diisi politisi pragmatis memang tak ada pilihan, kecuali dengan memihak dan bergabung dengan partai penguasa.

Tersisa Partai Gerindra, PKS dan PAN, menyusul kemudian Partai Demokrat sebagai satu kubu oposisi (Meski di kemudian hari, saat hari-hari terakhir penetapan putusan MK, banyak juga mengambil langkah berkhianat terhadap Prabowo, menyelamatkan diri demi berburu kursi jabatan politik).

Lihat pula: Perlawanan dan Surat Wasiat Prabowo

Pilpres 2019 adalah pertarungan politik yang tak biasa. Tak ada juga pilihan lain bagi Kubu Prabowo, kecuali saling berhadapan dan hanya ada dua kubu. Polarisasi pun terjadi dan itulah yang seperti diinginkan rezim penguasa, bukan hanya di tingkat elit politik, tapi juga di tingkat akar rumput.

Diciptakanlah pembelahan masyarakat, Cebong vs Kampret, Pancasila vs Anti Pancasila, Moderat vs Radikal, NKRI vs Khilafah, dan dampaknya ketegangan sosial terjadi hampir di semua daerah, belum lagi kriminalisasi terhadap Islam, Umat Islam dan Ulamanya.

Media mainstream semua dikuasai, Kubu Pemerintah dicitrakan seakan-akan Pancasila, Indonesia dan pengelolaannya dianggap sepenuhnya wewenang dan kuasa penguasa mengelolanya atau bahkan menjadi miliknya hingga kebijakan apapun yang ditelorkannya dianggap sah dan legal, sedang yang lainnya dicitrakan radikal, teroris, dan ingin mendirikan khilafah.

Tak hanya berhenti di PT 20 %, Jokowi diatur sedemikian rupa agar tetap menjabat Presiden dan bebas menggunakan fasilitas dan keuangan negara saat Pilpres. Wakilnya, Kyai Ma’ruf Amin (KMA) sengaja dipasang untuk menarik suara umat Islam yang selama ini sudah kenyang dengan diskriminasi dan hilangnya rasa keadilan terhadap kasus penistaan agama. Meski sudah berstatus cawapres, KMA tetap saja menjabat sebagai komisaris (Dewan Pengawas Syariah) di anak usaha BUMN.

Kampanye Prabowo-Sandi di Stadion GBK, Jakarta saat masa kampanye Pilpres, beberapa waktu lalu. (foto: ist/palontaraq)

Kampanye Prabowo-Sandi di Stadion GBK, Jakarta saat masa kampanye Pilpres, beberapa waktu lalu. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Mereka Ini yang Mau Merampas Kemenangan Prabowo

Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terindikasi hanya menjadi alat, stempel penguasa untuk melegalkan jalan menuju dua periode. Semuanya seakan sandiwara saja. DPT invalid alias siluman sebanyak 17,5 juta, pembatasan kampanye kubu Paslon 02, diskriminasi dan perlakuan tidak menyenangkan kepada pihak BPN (Kubu Prabowo) terjadi di semua daerah dan tingkatan pemilu, serta tidak adanya penindakan hukum jika itu menyangkut pendukung 01 (pendukung Jokowi) yang berkasus.

Saat kampanye Pilpres, Prabowo dimana-mana mendapatkan sambutan yang luar biasa, begitu pula dengan cawapresnya, Sandiaga Salahuddin Uno. Meriah dan massa membludak! Di sisi lain, kubu 01 selalu sepi, tak seramai kampanye 02. Massa Capres petahana terindikasi dibayar, dikerahkan dengan iming-iming uang, baju kaos dan nasi bungkus. Banyak pula bocoran, kampanye dibiayai dari kantong dana BUMN.

Massa Prabowo saat kampanye sangat jelas beragam, tidak disatukan warnanya oleh baju kaos yang dibagikan. Masyarakat pendukungnya dengan ikhlas mencetak sendiri alat peraga kampanye dan di beberapa daerah terekam dengan baik, massa melakukan penggalangan dana untuk capres/cawapres yang dicintainya. Sementara kubu Jokowi habis-habisan menggunakan fasilitas dan keuangan negara, memanfaatkan momen kampanye untuk meresmikan proyek, atau menyalurkan bantuan sosial, dan lain sebagainya.

Lihat pula:  Prabowo dan Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat

Boleh saja ada yang membantah fakta diatas, namun jejak digitalnya berlimpah di media sosial, dalam bentuk foto dan video. Begitu pula dengan penggiringan opini lewat lembaga survey yang merekayasa angka perolehan suara “Quick Count”.

Situng yang tidak jelas, bahkan sampai selesainya putusan MK masih terdapat beberapa daerah yang masih simpang siur menyamakan hasilnya versi Real Count. Sungguh Ajaib!

Prabowo-Sandi praktis telah ‘dikalahkan’ lewat penetapan KPU dan putusan MK. Bawaslu tidak dianggap, sama saja antara ada dan tiada. Beberapa rekomendasi Bawaslu untuk ditindak-lanjuti mentah di jalan. KPU cenderung mengabaikan dan membiarkan, dan Bawaslu sendiri memang tidak ngotot untuk ditindak-lanjuti temuannya. Semuanya hanya pelengkap sandiwara.

Proses untuk mengalahkan Prabowo-Sandi ternyata sangat luar biasa. Mengalahkannya haruslah dengan kecurangan ditambah seluruh kekuatan dan sumber daya di petahana, partai, polisi, tentara, Jaksa, intelijen, lembaga survey, pers, PNS, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, pak RW pak RT, Linmas, Petugas pemilu, KPU, BAWASLU, GAKUMDU, Presiden bersama Menterinya dan yang terakhir adalah Hakim MK.

Masih mau bilang tidak!? Ada yang mau membantahnya? Saya kira tidak! Mereka yang matanya terbuka, pasti didalam hatinya membenarkan. Kecurangan itu, meski sukar dibuktikan di depan hukum penguasa, tapi rakyat merasakannya. Prabowo-Sandi menang dimana-mana, tapi suara rakyat pemilihnya hilang dimana-mana. Ada 700 anggota KPPS yang meninggal dalam penyelenggaraan pemilu (layak disebut bencana nasional), oleh pihak pemerintah ditolak untuk diotopsi dan diselidiki penyebab kematiannya.

Lihat pula: Ini Pernyataan Prabowo Pasca Putusan Sengketa Pilpres 2019 di MK

Prabowo memang telah ‘dikalahkan’, tapi tidak tumbang. Jokowi sudah menang secara ‘legal’ oleh Penetapan KPU dan Putusan MK, tapi kubu petahana sendiri menyadari legitimasi rakyat yang hilang. Mestinya, begitu KPU memenangkan Jokowi maka Jokowi percaya dirinya lebih tinggi dan sah menjadi presiden, tak perlu butuh pengakuan Prabowo. Malah kini, memohon-mohon rekonsilisasi.

Mestinya Kubu 02 sudah percaya diri Presiden terpilih saat ini. KPU dan MK berpihak kepadanya. Mau apa lagi? Tak perlu pengakuan Prabowo. Pengakuan Prabowo bukan syarat sahnya Jokowi jadi presiden. Faktanya, Jokowi dan para pendukung dibelakangnya berusaha mendapatkan pengakuan dari Prabowo. Bahkan Prof Mahfud MD menganggap siapa tak mengakui Jokowi adalah presiden diancam pidana penjara.

Prabowolah yang saat ini pantas disebut Pria terkuat di Indonesia. Sampai-sampai presiden ‘terpilih’ sekalipun memohon untuk dapat bertemu Prabowo dan membujuk Prabowo mengakui ‘kemenangannya’. Segala bujukan dan rayuan pun dilancarkan, termasuk koalisi parpol pendukung Prabowo masuk dalam jajaran pemerintahan di bawah Presiden Jokowi.

Ingat! Pilpres 2019 kali ini memiliki skema baru. Prabowo merupakan Capres hasil Ijtima’ Ulama dan didukung penuh Habib Rizieq Shihab, yang dtelah dikukuhkan sebagai Imam Besar Umat Islam.  Prabowo dengan sendirinya diidentikkan sebagai perlawanan Islam terhadap diskriminasi Ulama dan Umat Islam yang nampak secara nyata dan terang-terangan ditampakkan rezim Jokowi.

Belum lagi secara ekonomi memang kehidupan rakyat semakin berat dengan naiknya BBM, Listrik, BPJS, Pangan, dan yang lainnya.  Jutaan TKA asal Tiongkok semakin memperberat kehidupan rakyat yang tidak lagi mendapat tempat dan mengancam secara nyata kedaulatan kehidupan berbangsa.

Positioning Prabowo sangat kuat, legitimated, secara de facto Prabowo telah menjadi Presiden Indonesia. Jokowi hanya presiden secara de jure, legal, karena telah dimenangkan oleh KPU dan MK, meski mengabaikan kecurangan yang sejak awal merebak dimana-mana dan terindikasi TSM.

Lihat pula: Kenapa Kalian Sibuk Mau Jumpa Prabowo?

Tampaknya Orang-orang curang tahu dirinya curang hingga membutuhkan pengakuan dari Orang-orang jujur meski bukan KPU dan MK untuk mendapatkan tambahan legitimasi. Orang-orang curang tidak membutuhkan Orang-orang curang yang menjabat di KPU, MK dan MUI.Yang diharapkannya adalah Pengakuan Prabowo.

Meski sebenarnya KPU, MK dan MUI dirancang untuk diduduki Orang-orang jujur, karena lembaga-lembaga ini menjadi satu-satunya lembaga negara yang berhak mengeluarkan sertifikat halal sesuai bidang kerjanya masing-masing. Disadari atau tidak Orang-orang curang ini mengakui kalau Prabowo bukanlah termasuk orang-orang curang atau suka curang semasa hidupnya.

Prabowo telah memenangkan hati rakyat Indonesia, sebagian besar Rakyat Indonesia. Dan itu, sekali lagi membuatnya pria terkuat di Indonesia. Itulah yang diburu Kubu petahana, sebab bagi pelaku kecurangan, cukup hanya bersalaman dengan Prabowo, mereka telah mendapatkan legitimasi tambahan. Setidaknya kecurangannya sudah dimaafkan dan dianggap bukan kecurangan lagi melainkan menjadi kebenaran.

Sebagian besar rakyat Indonesia, pendukung Prabowo-Sandi telah mengirimkan signal agar tak ada rekonsiliasi dengan Jokowi dan kubunya. Rekonsiliasi berarti membenarkan kecurangan yang terjadi dan menganggap semuanya telah selesai, sehingga akan seperti itulah seterusnya yang terjadi. Kecurangan yang diulang-ulang pada akhirnya, jika dimaafkan dan ditolerir, akan dianggap sebagai kebenaran, dapat dibenarkan, dan pelakunya mendapatkan legitimasi.

Untuk Prabowo, sebagai pria terkuat di Indonesia dan sosok yang telah mendapatkan simpati, memenangkan hati dan cinta rakyat Indonesia, ingat: Jangan pernah bertolerir dengan kecurangan dan pelaku kecurangan. Anda, baik-baik saja dengan rakyat, muncul dan tenggelam bersama rakyat! (*)

Like it? Share it!

1 Comment so far. Feel free to join this conversation.

Leave A Response