Mendakwahkan Al-fashdu

Suhu Fou, salah satu master fashdu di Indonesia. (foto: mfaridwm)

Suhu Fou, salah satu master fashdu di Indonesia. (foto: mfaridwm)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

Tulisan Sebelumnya:

Khasiat Cengkeh untuk Kesehatan dan Pengobatan

ADA yang kenal Fashdu atau Al-fashdu?  Itu bukan nama orang, tapi satu teknik pengobatan yang akhir-akhir ini menjadi trend dan diminati para pegiat Thibbun Nabawi, bahkan sudah banyak pasien merasakan kesembuhan dengan teknik terapi “totok darah” ini.

Banyak perdebatan tentang Fashdu ini, terutama sekali menyangkut dalil kesunnahannya dan apakah Alfashdu salah satu dari Thibbun Nabawi.

Akhir-akhir ini banyak yang membantah tentang fashdu, tapi perlu diluruskan disini adalah kenyataan bahwa yang dibantah itu bukan fashdunya, tapi haditsnya. Banyak pegiat Thibbun Nabawi menyatakan bahwa hadist tentang fashdu itu tidak ada, yang ada hanya tentang hijamah (Bekam) saja.

Saluran/Pembuluh darah vena di kepala (foto: mfaridwm)

Saluran/Pembuluh darah vena di kepala (foto: mfaridwm)

Saluran/Pembuluh darah vena di lengan. (foto: mfaridwm)

Saluran/Pembuluh darah vena di lengan. (foto: mfaridwm)

Dalam Hadist Buchori Muslim Nomor 5696, memang tidak ada disebutkan tentang Fashdu, yang penulis temukan adalah Hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Pengobatan terbaik bagi kalian adalah bekam dan Al Fashdu”.

Lihat juga:  Dahsyatnya Bekam: Sembuh dengan Satu Titik

Dalam riwayat lain disebutkan, “Obat terbaik adalah Bekam dan Al Fashdu”, namun keduanya dhoif dikeluarkan Abu Nu’aim dalam kitab Thibbun Nabawy hal. 182 sebagaimana tertulis dalam Kitab Dhoif Jami’ Shoghir Syaikh Albani No 2923.

Dalam riwayat lain dengan tanpa penyebutan lafadz Al Fashdu adalah shohih, yaitu dalam Hadits Bukhori No. 2102 dan Muslim 1577.  Dikarenakan ada hal yang tidak terpenuhi dalam sisi syarat hadits shahih, terutama dari diri Abu Nuaim, maka hadits tentang fashdu ini dianggap dhaif,  bisa jadi karena ada kecacatan dari Abu Nuaim sendiri, baik karena hafalannya kurang baik, ataupun ada syadzan atau prasangka lainnya.

Saluran/Pembuluh darah vena di lengan. (foto: mfaridwm)

Mengeluarkan darah dari pembuluh darah vena sudah dikenal di masa lampau sebagai salah satu teknik pengobatan efektif mengobati berbagai penyakit. (foto: doc_suhu fou/mfaridwm)

Menekuni Fashdu

Selama 6 bulan terakhir ini, penulis berkenalan dengan teknik terapi Al-fashdu ini, sebagai salah satu alternatif pengobatan penyakit jantung yang pernah penulis alami.

Bagi penulis, mencari jalan kesembuhan di luar pengobatan medis akan jauh lebih mudah, murah serta berberkah. Kenapa penulis katakan akan lebih mendatangkan keberkahan?

Pertama, menghindarkan diri dari pengobatan dengan menggunakan bahan kimia obat, yang kemungkinan besar memiliki efek samping.  Kedua, menghindarkan diri dari merusak tubuh, dengan memasang ring (cincin), serta kemungkinan terburuk: operasi. Ketiga, menginginkan keberkahan dari mengamalkan sunnah.

Penulis bersama Thabib Musthafa. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Thabib Musthafa. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Suhu Fou. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Suhu Fou. (foto: ist/palontaraq)

Qadarullah. Alhamdulillah. Fashdu menjadi salah satu asbab thibb, jalan kesembuhan bagi penulis  yang pernah menderita penyakit jantung dan sudah dianjurkan untuk pasang ring (cincin), selain asbab pengobatan holistik lainnya: herbal,  bekam, dan ruqyah syariyyah.  Terapi Alfashdu disebut juga sebagai terapi totok darah.

Lihat juga:  Resep Herba Anti Kolesterol Tinggi

Ternyata Al-fashdu ini sudah dikenal sebagai pengobatan alternatif di berbagai belahan dunia dan termasuk pengobatan tertua yang dikenal manusia dalam memperbaiki kondisi kesehatan jasmaninya.

Secara khusus, penulis belajar Alfashdu langsung dari tiga master Fashdu di Indonesia, yaitu  belajar langsung dari Thabib Musthafa (Agus Iriawan),  Suhu Fou (Sofyan Fauzi), serta Ustadz Abu Miftah.

Fashdu itu sendiri merupakan cara atau seni dalam menerapi (teknik) pengeluaran darah dari pembuluh darah vena. Suatu kesyukuran bahwa tiga master fashdu ini memiliki teknik berbeda dalam penusukan pada titik-titik tertentu, tentu dengan alasan khusus dan berdasarkan pengalaman diagnosa mereka sebelum memfashdu.

Dari segi manfaat, Al-Fashdu bermanfaat mengobati lever dan limpa yang panas demikian juga berbagai peradangan yang berdarah. Selain berguna mengobati radang paru-paru, juga bermanfaat untuk usus dan ginjal serta berbagai penyakit darah dari mulai lutut hingga pinggul.

Al Fashdu juga sangat bermanfaat mengobati berbagai penyakit kepala, leher, bekuan darah atau darah kotor (darah tidak fungsional), dengan teknik penusukan pada pembuluh darah vena, pada titik-titik tertentu dimana vena terlihat, meski tidak pada bagian tubuh yang sakit tersebut.

Ustadz Abu Miftah, salah satu master fashdu dalam suatu Pelatihan Thibbun Nabawi di Makassar. (foto: mfaridwm)

Ustadz Abu Miftah, salah satu master fashdu dalam suatu Pelatihan Thibbun Nabawi di Makassar. (foto: mfaridwm)

Al Fashdu, Pengobatan Sunnah Yang Terlupakan

Gambar jalur pembuluh darah (Vena dan Arteri) dalam Tubuh Manusia. (foto: mfaridwm)

Gambar jalur pembuluh darah (Vena dan Arteri) dalam Tubuh Manusia. (foto: mfaridwm)

Al Fashdu menurut bahasa adalah mengeluarkan darah dari kulit (Kamus Munawir, hal. 1058). Terapi Al Fashdu menurut istilah adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara mengeluarkan darah dari pembuluh darah vena (venesection) yang didalamnya terdapat sumbatan atau plak yang merugikan tubuh, dengan cara pengikatan dan pembukaan kecil pada kulit sehingga darah dalam pembuluh darah vena dapat terdorong keluar.

Mengeluarkan darah dari pembuluh darah vena di kaki. Pasien adalah penderita asam urat. (foto: mfaridwm)

Mengeluarkan darah dari pembuluh darah vena di kaki. Pasien adalah penderita asam urat dan kolesterol tinggi. (foto: mfaridwm)

Dalam Shahih Bukhori, Rasululloh SAW bersabda, “Khoiro maa tadaa waitum bihil hijaamatu wal fashdu. Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah hijamah dan fashdu” (HR. Bukhori). Sebenarnya cara kerja Al-Fashdu hampir sama dengan Hijamah (Bekam), yaitu keduanya mengeluarkan sumbatan-sumbatan dan darah kotor (toksin).

Perbedaannya, Al-Fashdu mengeluarkan sumbatan dan racun tubuh melalui pembuluh darah vena (pembuluh darah besar), sedangkan Bekam mengeluarkan sumbatan dan racun tubuh melalui pembuluh darah kapiler (pembuluh darah kecil).

Terlepas dari keshahihan hadits yang menyebutkan tentang Fashdu, faktanya Fashdu telah dipraktekkan dalam dunia kedokteran islam dan sekalipun ada menyelisihinya, tak sedikit ulama yang memasukkan Alfashdu sebagai salah terapi dalam Thibbun Nabawi.

Secara faktual, metode Pengobatan Fashdu sangat efektif dalam mengeluarkan “darah kotor”, darah yang mengandung toksin (racun), plak lemak serta kolesterol gula darah.  Setiap kali darah kotor dikeluarkan maka tubuh akan memproduksi sel darah baru yang sehat. Setelahnya, sistem metabolisme tubuh dan sistem imun tubuh kembali bekerja normal secara maksimal.

Thabib Musthafa. (foto: mfaridwm)

Thabib Musthafa. (foto: mfaridwm)

Bersama Thabib Musthafa dan Para Terapis Thibbun Nabawi di Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Bersama Thabib Musthafa dan Para Terapis Thibbun Nabawi di Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Karena itu, Mari kita mendakwahkan Al-Fashdu ini sebagai salah satu khazanah dalam Pengobatan Islam. Alfashdu telah terbukti sangat efektif untuk mengurangi kadar kolesterol, asam urat, gula darah, darah tinggi, dan materi lain yang berbahaya bercampur bersama darah yang ada di dalam pembuluh darah.

Terapi Fashdu sangat efektif, ampuh dan mujarab dalam membangun sistem imun tubuh dan menjadi asbab penyembuhan (Thibb) berbagai penyakit.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response