Beranda Gaya Hidup Ngopi, Tradisi Orang Saleh

Ngopi, Tradisi Orang Saleh

Ngopi (foto: ist/palontaraq)
Ngopi (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Etta Adil

Tulisan Sebelumnya: Daya Tarik Cafe, dari Selfie hingga Galang Empati

PALONTARAQ.ID – NGOPI  atau menikmati kopi adalah salah satu tradisi orang saleh.  Meminum kopi merupakan kegiatan mengikuti Adab Orang-orang saleh, kata Habib Husein Bin Abdullah Assegaf di Gresik.

Kopi yang dalam Bahasa Arab disebut  Qohwa adalah minuman kesukaan para sholihin. Mereka meminumnya dikarenakan kopi dapat mengusir rasa kantuk saat ibadah. Karena sebab itulah para sholihin meminum kopi untuk mengusir rasa kantuk, khususnya saat beribadah pada malam hari.

Dengan mengikuti mereka para sholihin, semoga kita juga mendapatkan pahala. Tentu dengan tujuan menikmati kopi untuk mengusir rasa kantuk saat ibadah.

Lihat juga: Ngabuburit di Wirsal Pangkajene

Ngopi bisa dinikmati dimana saja dan dengan caranya sendiri. (foto: nurhudayah/palontaraq)
Ngopi bisa dinikmati dimana saja dan dengan caranya sendiri. (foto: nurhudayah/palontaraq)

Habib Abu Bakar Bin Abdulloh Al Atthos berkata bahwa sesungguhnya tempat atau rumah kalau ditinggalkan dalam keadaan sepi atau kosong maka para jin akan menempatinya, sedangkan rumah atau suatu tempat yang mana disitu biasa membuat hidangan wedang kopi maka para jin tidak akan bisa menempatinya dan tidak akan bisa mendekat alias mengganggu.

Ungkapan Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos tersebut dikutip dari Kitab Tadzirunnas, halaman 177 dan Kitab Attadzkir al-Musthafa li aulaadil Musthafa waghairahum mimman ijtbaahu lloohwasthafa Karangan Alhabib Abu Bakar al-Atthas bin Abdullah bin Alwy bin Zain Alhabsyidari.

Dua buku tentang Ngopi di Pesantren. Ngopi itu tradisi minuman kyai dan santri. (foto: ist/palontaraq)
Dua buku tentang Ngopi di Pesantren. Ngopi itu tradisi minuman kyai dan santri. (foto: ist/palontaraq)

Ngopi, Tradisi di Pesantren. (foto: mfaridwm)
Ngopi, Tradisi di Pesantren. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis dan Pembaca buku umumnya akrab ditemani kopi. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Penulis dan Pembaca buku umumnya akrab ditemani kopi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan,  “Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda dan senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari ilmu.  Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah, didalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah diantara manusia. Kopi diharamkan bagi orang bodoh yang mengatakan keharamannya dengan keras kepala.”

Kita juga bisa melihat komentar Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami, “Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli Shofwah (Orang-orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan serta penghapus kesusahan.

Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya, namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal Abad 10 Hijriyah memandang dari Qoidah ‘bagi perantara menjadi hukum tujuannya’ maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya.”

Kegandrungan terhadap kopi bisa menjadi alasan silaturrahim. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kegandrungan terhadap kopi bisa menjadi alasan silaturrahim. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ngopi, tradisi para pencari hikmah. (foto: ist/palontaraq)
Ngopi, tradisi para pencari hikmah. (foto: ist/palontaraq)

Para penikmat kopi adalah juga penikmat kesederhanaan. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Para penikmat kopi adalah juga penikmat kesederhanaan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kopi atau Qohwah sudah sejak dulu dikenal sebagai minuman para sufi, bahkan terdapat kitab yang didalamnya terdapat pembahasan khusus mengenai kopi, diantaranya: Kitab Risalah Inusi as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah karya Sayyid Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad AlAidrus, Kitab Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Addukhon karya Al-Allamah Syekh Ihsan Jampes (Kediri), dan Kitab Shofwatu As-Shofwah fi Bayan hukmil Qohwah karya Syekh Abdul Qodir bin Syekh.

Suatu ketika As-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.”

Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda, “Aku akan memberimu 3 hadits yang salah satunya, “Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya.”

Karena itu, Mari Ngopi!  Wallahu ‘alam bis shawwab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT