BerandaKolomCatatan Harian Etta Adil: EGO (29)

Catatan Harian Etta Adil: EGO (29)

Tulisan Sebelumnya:  EGO (26-28)

EGO (29): Aku menerima pesan pendek via ponsel. “Kanda. Aku ada di depan Alfamart”. Pesan itu tak kujawab, tapi langsung memacu sepeda motor ke tempat yang dimaksud. Disana aku ketemu dengan petinggi kabupaten, seorang kontraktor dan tiga kawan yang kuakrabi.

Tak jauh dari tempat itu, beberapa pejabat daerah yang kukenal sedang asyik bersantai di bawah rerimbunan pepohonan.

Seorang kawan yang pejabat daerah bertanya, “Tadi kenapa tidak cium tangan,” ujarnya menanggapi sikapku yang datar saat menyalami petinggi kabupaten yang akrab disapa pak bupati olehnya.

“Aku ini juga bukan orang biasa. Dari dulu, aku tidak terbiasa menghormati orang karena jabatannya. Aku bukan hambanya dan beliau mengenalku sebagai orang yang memahami adab,” ujarku.

Aku mengingatkan kawan itu bahwa dahulu pernah ada seorang bupati yang begitu akrab. Setiap saat aku dicarinya, namun selama bupati itu menjabat tak pernah sekalipun diriku mencium tangannya sebagaimana yang sering dilakukan para pejabat dan kontraktor di daerah.

“Aku hanya mencium tangannya sekali. Itupun setelah dia tidak lagi menjabat. Kucium tangannya sebagai seorang yang lebih tua dan karena dia pernah menasehatiku dengan nasehat yang baik,” jelasku.

Kawan pejabat daerah itu bergeming dan hanya berujar singkat, “Kamu memang lain, Bosku!”

Catatan Ego (29) Etta Adil, Pangkep, 7 Oktober 2012.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT