Oleh: M. Farid W Makkulau
Related Post: Tradisi Kaddo Caddi di Pangkep
PALONTARAQ.ID – Upacara Adat Mappacci dilaksanakan pada saat tudampenni/wenni mappacci, merupakan salah satu rangkaian upacara adat perkawinan Bugis Makassar. Proses ini dimaksudkan untuk membersihkan dan mensucikan diri calon pengantin dari hal-hal yang tidak baik.
Upacara Adat Mappacci satu rangkaian dengan pembacaan barazanji dengan menghadirkan semua keluarga dan tamu undangan. Kata “Mappacci” itu sendiri berarti mensucikan, berasal dari kata “Pacci”, yaitu daun yang dihaluskan untuk penghias kuku, mirip bunyinya dengan kata paccing artinya bersioh atau suci.
Dalam kesusastraan bugis terdapat pantun yang berbunyi, “Duwa kuala sappo, unganna panasaenabelo kanukue”. Penjelasan dari kalimat ini yakni dalam bahasa bugis, nangka dinamakan “Lempu” yang berarti jujur.
Sedangkan penghias kukunya mirip bunyinya “Paccing” yang artinya bersih, suci. Jadi kesucian dan kejujuran merupakan benteng dalam kehidupan rumah tangga, karena kesucian adalah pancaran kalbu yang menjelma dalam kejujuran.
Rumah tangga seperti inilah yang diinginkan Islam, yakni rumah tangga sakinah, sebagaimana yang disyaratkan Allah SWT dalam QS. Ar-Rum (30) ayat 21.
Ada tiga kata kunci kesuksesan berumah tangga dalam ayat tersebut, dikaitkan dengan rumah tangga yang ideal menurut Islam, yaitu sakinah (as-sakinah), mawadah (al-mawaddah), dan rahmat (ar-rahmah).
As-sakinah berarti suasana yang damai yang melingkupi rumah tangga yang bersangkutan; masing-masing pihak menjalankan perintah Allah SWT dengan tekun, saling menghormati, dan saling toleransi.

Dari suasana as-sakinah tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (al-mawaddah), sehingga rasa tanggung jawab kedua belah pihak semakin tinggi.
Selanjutnya, para musafir mengatakan bahwa dari as-sakinah dan al-mawaddah inilah nanti muncul ar-rahmah, yaitu keturunan yang sehat dan penuh berkat dari Allah SWT, sekaligus sebagai pencurahan rasa cinta dan kasih.
Perkawinan esensinya merupakan proses pengemblengan dan penyucian jiwa. Pengemblengan ini dilakukan dengan cara menunaikan semua hak istri, sabar terhadap sikapnya, memaafkan kesalahannya, berusaha memperbaikinya, memberikan petunjuk ke jalan yang benar. Demikianlah tujuan Allah menciptakan perempuan dan laki-laki berpasang-pasangan melalui perkawinan diantara mereka.
Dalam tradisi Bugis, yang perlu pertama dipahami dari Upacara adat Mappacci adalah pemantapan ati mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia’ madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata nia’ maja’ (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran bengkok).
Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik. Tindakan bawaan hati yang baik mengandung tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c) mengatur emosi-emosi.
Dalam Lontara’ disebutkan, “Atutuiwi anngolona atimmu; aja’ muammanasaianngi ri ja’e padammu rupa tau nasaba’ mattentui iko matti’ nareweki ja’na apa’ riturungenngi ritu gau’ madecennge riati maja’e nade’sa nariturungeng ati madecennge ri gau’ maja’e. Naiya tau maja’ kaleng atie lettu’ rimonri ja’na”.
Artinya: Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya keburukan itu.
Lihat pula: Eksotisme Budaya Megalitik Kete’ Kesu Toraja
Peralatan dan Perlengkapan Mappacci
Peralatan dan Perlengkapan Upacara Adat Mappacci dapat dibedakan atas tiga kelompok, yaitu :
Kelompok I yaitu : Benno dan Tai Bani (Patti), yaitu beras yang digoreng kering hingga mekar melambangkan harapan kiranya calon pengantin ini akan mekar berkembang dengan baik, bersih dan jujur. Beras yang digoreng tanpa minyak/disangrai hingga mekar mengembang.
Dalam bahasa Bugisnya Peno riaelai “mpenno rialei” mekar dengan sendirinya. Sehingga kedua mempelai diharapkan dapat mandiri dalam membina bahtera rumah tangganya, dan senantiasa mampu menurunkan sifat-sifat yang baik kepada anak cucunya di kemudian hari.
Sedang yang dimaksud Tai bani (Patti), yaitu lilin dari lebah, ini melambangkan suluh (penerang), artinya tata kehidupan sosialnya senantiasa terlihat rukun, baik, tidak saling mengganggu satu sama lain serta dapat menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Penggunaan Taibani/patti memberikan arti bahwa kedua mempelai senantiasa dapat menjadi suluh penerang bagi keluarganya, teladan bagi anak-anaknya, serta keluarganya.
Kelompok II, yaitu: Bantal, Sarung, Daun Pisang dan Daun Nangka.
Pertama, Bantal. Bantal dianalogikan sebagai simbol kemakmuran, yang dalam bahasa Bugisnya adalah “asaléwangeng”. Sedangkan khusus pengertian dari bantal adalah sebagai pengalas kepala artinya penghormatan atau martabat (Mappakalebbi).
Kepala merupakan organ tubuh manusia yang paling mulia (alebbireng). Dengan demikian diharapkan calon mempelai senantiasa menjaga harkat dan martabatnya dan saling hormat menghormati (najagaiwi alebbirenna, mappakaraja nenniya mappakalebbi.
Kedua, Sarung. Sarung merupakan penutup/pelindung tubuh, sebagai simbol dari upaya manusia menjaga harga dirinya. Sarung disusun sebanyak tujuh lembar, dibuat dari benang yang ditenun helai demi helai melambangkan ketekunan dan keterampilan. Sedangkan 7 lembar melambangkan hasil pekerjaan yang baik.
Dalam bahasa bugis “Tujui” yang mirip dengan kata “Mattujui” artinya berguna, disini terkandung harapan bahwa suatu pekerjaan harus dikerjakan dengan baik, benar dan membawa manfaat (sini tujuai) sehingga kelak mempelai dapat menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya. “Sini naalitutuiwi siri’na!”
Menurut cerita dahulu kala seorang pria mencari calon istri, tidak perlu melihat secara langsung si gadis tapi cukup dengan melihat apakah hasil tenunannya rapi dan bagus. Bila tenunannya rapi dan bagus maka pilihan akan jatuh padanya.
Dalam bahasa Bugis, 7 lembar berarti pitu lampa. Angka 7 merupakan simbol dari filosofi Bugis, “iyapa muabbatang tau rekko mulléni mattulili dapurengé wékka pitu”, bahwa persyaratan untuk menikah adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 7 hari dalam seminggu baik itu kebutuhan lahiriah maupun batiniah.
Hikmah ungkapan tersebut semakin dalam konteks pengaturan dapur, karena dapur bagi masyarakat Bugis merupakan pusat dari seluruh sumber kehidupan rumah tangga.
Ketiga, Leko Unti (Daun Pisang). Daun Pisang dilambangkan sebagai kehidupan yang sambung menyambung. Daun yang tua belum kering betul, daun muda telah muncul untuk menggantikan dan melanjutkan hidupnya.
Dalam bahasa bugis disebut “Maccolli Maddaung”, melambangkan kehidupan yang berkesinambungan sebagaimana diungkapkan dalam kelong, “tennapodo maccoli maddaung, cajiang wija pattola palallo, naénré mallongi longi, naiya sikki biritta madécéng”.
Artinya: semoga medapatkan keturunan yang lebih baik, dapat berguna bagi bangsa, tanah air dan agama serta kepada kedua orang tua. Pemaknaan ini menjelaskan kepada kita bahwa perkawinan merupakan proses untuk melanjutkan kehidupan sehingga kehidupan di dunia dapat terus berlanjut sampai pada akhirnya kita tinggalkan.
Keempat, Daun nangka (Dau’ Panasa). Dalam bahasa bugis daun nangka disebut “Dau’ Panasa” mirip dengan bunyi “Minasa” yang berarti cita – cita yang luhur. Kata “panasa” mirip dengan sebutan “ménasa” yang berarti harapan mulia dan cita-cita luhur.
Dalam ungkapan Bugis dikenal “mamminasa ridécéngng” artinya senantiasa bercita-cita kepada kebaikan. Sedangkan bunga nangka dalam bahasa Bugis disebut lempu, yang dikaitkan dengan kata “lempu” yang dalam bahasa Bugisnya berarti jujur.
Salah satu syair Bugis menjelaskan tentang kejujuran ini yaitu “duami riala sappo, unganna panasaé bélo kanukué”, mengingatkan bahwa dalam kehidupan ini ada dua hal yang perlu dijadikan perisai hidup yaitu unganna panasaé (lempu) kejujuran, dan belo kanukué (paccing) kebersihan dan kesucian jiwa dalam menempuh hidup sebagai suami istri.
Kelompok III
Satu, Tempat pacci. Terbuat dari logam (bekkeng), yaitu tempat daun pacci yang mengandung arti kesatuan jiwa atau kerukunan hidup dalam suatu keluarga.
Perpaduan antara ca’paru dan pacci melambangkan dua insan yang saling mengisi, menyatu dalam ikatan yang kokoh, semoga pasangan suami istri tetap menyatu, bersama mereguk nikmatnya cinta dan kasih sayang.
Dua, Daun Pacar (pacci). Daun Pacar sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian. Penggunaan pacci ini menandakan bahwa calon mempelai telah bersih dan suci hatinya untuk menempuh akad nikah keesokan harinya dan kehidupan selanjutnya sebagai sepasang suami istri hingga ajal menjemput.
Telah diterangkan di depan : Napacing hati (bersih hati), Napacing nawa-nawa (bersih pikiran), Napacing paggaukang (bersih tingkah laku), Napaccing ateka’ (bersih itikat).
Lihat juga: Kasiratangan dalam Perkawinan Adat Makassar
Pelaksanaan Upacara Adat Mappacci
Adapun jalannya upacara adat Mappacci adalah sebagai berikut :
- Calon pengantin sudah duduk di lamming
- Kelompok pembaca barasanji sudah siap di tempat yang disediakan.
- Para tamu telah duduk di ruangan.
- Setelah protokol membuka acara, pembacaan barasanji sudah dapat dimulai.
- Sampai dibacakan “badrun alaina” maka sekaligus acara mappacci dimulai dengan mengundang satu per satu tamu yang telah ditetapkan (setiap tamu yang diundang mengambil sedikit daun pacci yang telah dihaluskan dan diletakkan di telapak tangan calon pengantin, sambil seorang ibu yang mendampingi calon pengantin, sementara itu barasanji tetap dibacakan.
- Setelah semua yamu yang ditetapkan telah melakukan acara ‘Mappacci’ maka seluruh hadirin bersama – sama mendoakan semoga calon pengantin direstui oleh yang maha kuasa agar menjadi suri tauladan karena martabat dan harga dirinya yang tinggi. “Cukkong muwa minasae, nakkelo puwangnge naiyya ma’dupa”.

Mappacci/Tudampenni
Upacara adat mappacci dilaksanakan pada waktu tudampenni, menjelang acara akad nikah/ijab kabul keesokan harinya. Upacara mappacci adalah salah satu upacara adat Bugis yang dalam pelaksanaannya menggunakan daun pacar (Lawsania alba), atau Pacci.
Sebelum kegiatan ini dilaksanakan biasanya dilakukan dulu dengan mappanré temme (khatam Al-Quran) dan barazanji. Daun pacci ini dikaitkan dengan kata paccing yang makananya adalah kebersihan dan kesucian.
Dengan demikian pelaksanaan mappacci mengandung makna akan kebersihan raga dan kesucian jiwa. Sebagaimana yang tertera dalam ungkapan bahasa Bugis yang mengatakan bahwa, “Mappacci ianaritu gau’ ripakkéonroi nallari ade’, mancaji gau’ mabbiasa, tampu’ sennu-sennuang, ri nia’ akkatta madécéng mammuaréi naiyya nalétéi pammasé Déwata Séuwaé.”
Lihat juga: Kue Tradisional “Nennuq-nennuq” dalam Perkawinan Adat Bugis Makassar
Orang-orang yang diminta untuk meletakkan pacci pada calon mempelai biasanya adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan sosial yang baik dan punya kehidupan kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Semua ini mengandung makna agar calon mempelai kelak di kemudian hari dapat hidup bahagia seperti mereka yang meletakkan pacci di atas tangannya.
Jumlah orang yang meletakkan pacci ke tangan calon mempelai adalah biasanya disesuaikan dengan stratifikasi sosial calon mempelai itu sendiri. Untuk golongan bangsawan tertinggi jumlahnya 2 x 9 orang atau dalam istilah Bugis “duakkaséra”.
Untuk golongan bangsawan menengah sebanyak 2 x 7 orang atau “duappitu”. Sedangkan untuk golongan di bawahnya bisa 1 x 9 atau 1 x 7 orang.
Pertama-tama diambil sedikit daun pacci yang telah dihaluskan (telah dibentuk bulat supaya praktis), lalu diletakkan daun dan diusap ke tangan calon mempelai.
Pertama ke telapak tangan kanan, kemudian telapak tangan kiri, lalu disertai dengan doa semoga calon mempelai kelak dapat hidup dengan bahagia. Kemudian kepada orang yang telah memberikan pacci diserahkan rokok sebagai penghormatan.
Dahulu disuguhi sirih yang telah dilipat-lipat lengkap dengan segala isinya. Tetapi karena sekarang ini sudah jarang orang yang memakan sirih maka diganti dengan rokok.
Lihat juga: Baju Bodo dalam Pesta Adat Bugis Makassar
Sekali-kali indo’ botting menghamburkan wenno kepada calon mempelai atau mereka yang meletakkan daun pacar tadi dapat pula menghamburkan wenno disertai do’a.
Setelah semua selesai meletakkan pacci ke telapak tangan calon mempelai maka tamu-tamu disuguhi dengan kue-kue tradisional yang diletakkan dalam bosara.
Umumnya upacara adat mappacci didahului dengan pembacaan Barzanji sebagai pernyataan syukur kepada Allah SWT dan memperbanyak shalawat kepada Nabiyullah Muhammad SAW.
Prosesi Mappacci harus selesai sebelum pembacaan barazanji secara bersama-sama juga selesai, dan selanjutnya diakhiri dengan jamuan adat/makan bersama. (*)


