Sosial Budaya Pakaian Adat Baju Bodo dalam Pesta Adat Bugis Makassar

Baju Bodo dalam Pesta Adat Bugis Makassar

-

- Advertisment -

Remaja Putri menampilkan "Tari Paduppa" dalam Baju Bodo yang cantik dan menawan. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Remaja Putri menampilkan “Tari Paduppa” dalam Baju Bodo yang cantik dan menawan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – SETIAP kali ada pesta perkawinan, sunatan ataupun pesta adat lainnya di Sulawesi Selatan, maka tampillah perempuan Bugis Makassar dengan pakaian Baju Bodo-nya yang berwarna ungu atau berwarna merah darah menghiasi pesta itu.

Dengan sarung suteranya yang berwarna merah dan kaya warna, sesuai sekali dengan iklim Indonesia yang mempunyai udara yang terang di musim kemarau menambah keindahan dan cahaya muka perempuan itu ditengah helat yang ramai.

Dalam upacara adat dan resepsi perkawinan, terutama yang berhubungan dengan Upacara Adat istiadat daerah, Baju Bodo itu tetap memegang peranan yang penting sekali, sehingga gadis Bugis Makassar itu akan merasa mempunyai satu kekurangan besar, apabila ia tidak mempunyai Baju Bodo’ yang juga lazim disebut Baju Bugis (Waju Ugi’).

Perempuan Bugis Makassar dengan Baju Bodonya dalam suatu Pesta Adat. (foto: mfaridwm)
Perempuan Bugis Makassar dengan Baju Bodonya dalam suatu Pesta Adat. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Baju Bodo dalam berbagai corak dan fungsinya, sesuai dengan tingkatan usia perempuan yang memakainya. (foto: mfaridwm)
Baju Bodo dalam berbagai corak dan fungsinya, sesuai dengan tingkatan usia perempuan yang memakainya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Baju Bodo untuk remaja putri yang tidak berhijab. (foto: chameela damayanthie)
Banyak Pilihan – Baju Bodo untuk remaja putri yang tidak berhijab. (foto: chameela damayanthie)

Di kekinian, banyak sekali perempuan yang menggemari memakai baju bodo, sekalipun ia tidak berasal dari etnis Bugis Makassar, entah ia sebagai pakaian kegemaran pribadi maupun anjuran kantor.

Kini, telah banyak model dan corak Baju Bodo ditampilkan dalam fashion show, sebagai pakaian yang bercita rasa tinggi dalam hal keanggunan dan kharismanya saat dipakai.

Wajah suku bangsa itu telah dirangkum oleh pakaian itu sendiri, sebagai upaya menarik simpati. Baju bodo kini dipakai pula dalam banyak acara sosialisasi program pemerintah, seminar, menyambut tamu daerah, pementasan budaya, dan kegiatan lainnya. Semuanya serasa pas dipakai dan dapat dikondisikan pemakaiannya, tergantung suasana dan kebutuhan.

Pemakaian Baju Bodo’ tidak hanya menjadi dominasi orang pemerintahan, tetapi juga dipakai pula oleh perusahaan swasta untuk promosi dan launching produknya.

Karyawati Garuda Indonesia Makassar memakai Baju Bodo dalam suatu acara. (foto: makassarterkini/ist)
Karyawati Garuda Indonesia Makassar memakai Baju Bodo dalam suatu acara. (foto: makassarterkini/ist)

Tampil cantik dengan seragam baju bodo yang dipadu serasi dengan sarung dan jilbabnya.
Tampil cantik dengan seragam baju bodo yang dipadu serasi dengan sarung dan jilbabnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Remaja Putri yang berjilbab sekalipun serasi dalam balutan baju bodonya. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Remaja Putri yang berjilbab sekalipun serasi dalam balutan baju bodonya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Baju Bodo buat remaja putri. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Baju Bodo buat remaja putri berjilbab. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Seorang gadis, terlebih wanita yang mempunyai kulit putih bersih, maka Baju Bodo ini akan menambah kecantikannya, bagaikan mawar merah yang mekar di pagi hari, mukanya selalu bercahaya, terutama dalam menghadapi hidup dan kehidupannya untuk masa depan.

Dari memperhatikan etiket dan adab berpakaian, seorang gadis Bugis akan menuai percaya diri dan tetap mempunyai pengharapan bagai riangnya sinar pagi yang memancar kemana-mana dan dalam menghadapi hidup ini ia tidak pernah melihatnya dari seginya yang suram.

Terlebih lagi bila sarung sutera yang dipakainya ialah sarung sutera berwarna cerah, suatu kombinasi pakaian yang harmonis, sebagai sumber pancaran jiwa dan pribadi pemakaianya.

Perempuan Bugis dengan Baju Bodonya, dengan posisi tangan mengepit (nakinking) sarung sabbenya. (foto:ayo ke selayar/ist)
Perempuan Bugis dengan Baju Bodonya, dengan posisi tangan mengepit (nakinking) sarung sabbenya. (foto:ayo ke selayar/ist)

Fashion Show dengan modelnya memakai Baju Bodo. (foto: makassarterkini/ist)
Fashion Show dengan modelnya memakai Baju Bodo. (foto: makassarterkini/ist)

Menurut pengertiannya, Baju Bodo itu ialah baju pendek atau Baju tanpa lengan. Dalam bahasa bugisnya ialah Waju Ponco. Mengapa dinamai demikian padahal baju itu sendiri panjang sekali ke bawah, bahkan ada yang sampai mencapai ujung pemakainya.

Untuk Suku Makassar, Baju Bodo itu dinamai Baju Labbu yang berarti baju panjang. Baju labbu itu hampir sama keadaannya dengan Baju Kurung yang biasa dipakai oleh wanita Melayu.

Antara Baju Bodo dan Baju Labbu itu keduanya panjang ke bawah, hanya bedanya pada lengan baju itu. Kalau baju bodo itu mempunyai tangan yang hanya sampai ke siku lengan.

Untuk Baju Labbu, tangannya panjang sampai pergelangan tangan. Jadi pengertian pendek dan panjang dalam kedua macam baju itu hanyalah mengenai tangannya.

Pemakaian Baju Bodo dalam Penampilan Seni Tari Tradisi. (foto: mfaridwm)
Pemakaian Baju Bodo dalam Penampilan Seni Tari Tradisi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dalam memakai Baju Bodo ini harus diperhatikan umur dan keadaan sipemakai yang disesuaikan dengan warna bajunya. Demikian juga mengenai tebal baju itu harus pula disesuaikan dengan besarnya gadis yang memakainya.

Ada pula yang disebut Baju Rawang, yaitu Jenis Baju Bodo yang berukuran sampai ke pinggang atau Baju kasa, yaitu Sejenis Baju Bodo terbuat dari kain kasa, khusus untuk wanita.

Ada pula yang disebut Baju Assusung, yaitu Baju Bodo (tipis, Makassar: rawang) yang digunakan secara bersusun atau berlapis untuk anak wanita remaja puteri.

Makin dewasa seorang perempuan Bugis Makassar maka dianjurkan untuk makin tebal juga bajunya, bisa dua hingga tiga lapis kainnya. Hal ini dikarenakan,  bahan yang dibuat Baju Bodo itu ialah kain yang tipis dan tembus (doorzichtig).

Marilah kita lihat bagaimana warna baju bodo itu berdasarkan tingkatan umur pemakainya:

a.Anak-anak perempuan yang berumur antara 8-12 tahun atau dalam Bahasa Makassar disebut Ana Rara’, diharuskan memakai Baju Bodo Rawang (tipis) yang terdiri dari selapis saja. Warna bajunya itu biasanya hijau atau jingga (Makassar: Rappo Toqno).

Perhatikan Baju Bodo' untuk Anak-anak ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Perhatikan Baju Bodo’ Rawang untuk Anak-anak ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Perhatikan Baju Bodo' untuk Anak-anak ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Perhatikan Baju Bodo’ untuk Anak-anak ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)

b.Umur 12-25 tahun (Tau Lolo atau Gadis), Baju Bodo yang dipakainya itu ialah Baju Bodo Eja, yaitu Baju Bodo yang berwarna merah dan terdiri atas 2-3 lapis.

Baju bodo gadis. (foto: mfaridwm)
Baju bodo gadis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

c.Umur 18-35 tahun (bagi yang sudah bersuami), Baju Bodo yang dipakainya ialah Baju Bodo Salaeja, warna ungu (merah tua), dan terdiri atas dua sampai tiga lapis.

Tidak dibiasakan (terlarang) bagi perempuan yang sudah bersuami itu memakai Baju Bodo Eja, yaitu Baju Bodo yang warnanya merah betul, karena dengan perbedaan warna itu ialah untuk menunjukkan perbedaan wanita yang memakainya itu, apakah ia masih gadis atau sudah bersuami.

Baju Bodo bagi perempuan yang sudah bersuami. (foto: mfaridwm)
Baju Bodo bagi perempuan yang sudah bersuami. (foto: mfaridwm/palontaraq)

d.Umur 35-50 tahun (perempuan tua), Baju Bodo yang dipakainya itu ialah Baju Bodo Leqleng Nilapisi, yaitu Baju Bodo warna hitam berlapis dan terdiri atas 2-3 lapis.

Ragam model dan corak Baju Bodo. (foto: mfaridwm)
Ragam model dan corak Baju Bodo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

e.Umur 50 tahun ke atas umumnya berbaju bodo hitam berlapis, tetapi ada juga yang memakai Baju Bodo Kebo’, warna putih, untuk menandakan bahwa orang tua itu adalah ibu penyusu bayi salah seorang bangsawan tinggi, yang ditanah Bugis dinamai Kino, sedang di tanah Makassar dinamai Amma’ Daeng.

Baju Bodo perempuan usia 50 tahun keatas dengan gadis tampak jelas perbedaannya dalam foto. (foto: mfaridwm)
Baju Bodo perempuan usia 50 tahun keatas dengan gadis tampak jelas perbedaannya dalam foto. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Cara memakainya ialah Baju Bodo itu hendaklah dimasukkan ke dalam badan melalui kepala, sebagaimana halnya kalau kita hendak memasukkan baju dalam (baju kaos) ke dalam badan. Sarung sutera yang dipakainya itu, ujung atasnya dikepit dalam ketiak kiri atau boleh juga sebaliknya, sedangkan ujungnya betul dipegang dengan ujung jari.

Bagian baju yang sebelah kanan terdapat di luar sarung, sedangkan yang di sebelah kiri tadi terdapat di dalam sarung. Kalau hendak berjalan, kain sarung itu biasa “nikikking”. Artinya pertengahan kain sarung itu dinaikkan (sampai kelihatan mata kaki sebelah kiri) sedikit untuk menggampangkan di waktu berjalan.

Dan kalau berjalan secara adat, jalannya itu harus perlahan-lahan, dari selangkah demi selangkah, dan mata itu hanyalah boleh memandang kemuka dan kebawah dengan jarak tiga meter, ke satu jurusan dan ke satu titik, tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. (*)

 

 

 

Tentang Penulis:
M. Farid W Makkulau, seorang penulis dan peneliti sejarah budaya Sulawesi Selatan, tinggal di Pangkep. Beberapa buku karyanya antara lain: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Manusia Bissu, Seni Tradisional di Pangkep, Upacara Adat dalam Masyarakat Bugis Makassar, dan lainnya. Penulis bisa dihubungi via email: penulissulsel@gmail.com atau ke: palontaraq@gmail.com

About the Author:
M. Farid W Makkulau, an observer of South Sulawesi culture, wrote a book: Pangkep History and Culture, History of the Kingdom in Pangkep, Bissu Man, and others. Authors can be contacted via email: palontaraq@gmail.com atau ke: penulissulsel@gmail.com

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you