BerandaKulinerBelajar dari Barongko: Manisnya Hati yang Sama antara Luar dan Dalam

Belajar dari Barongko: Manisnya Hati yang Sama antara Luar dan Dalam

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

Related Post: Ini Dia Kesukaan Etta: Barongko

PALONTARAQ.ID – Pagi masihlah belum beranjak, Jarum jam masih menunjuk angka 6 ketika penulis mendapatkan suguhan segelas teh panas bersama penganan khas Barongko. Hari ini penulis mengagendakan 2-3 tulisan bertema politik, namun sajian Barongko ini menyadarkan satu pesan penting dalam interaksi sosial dan termasuk tentunya bagi siapa saja yang ingin mengabdikan dirinya di jalur politik agar selalu mencerminkan diri apa yang terucap di mulut begitupula seharusnya yang tersimpan dalam hati, layaknya Barongko.

Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, baik di Sulawesi Selatan maupun di perantauan, tentu tak ada yang tak mengenal penganan khas yang satu ini. Ya, apalagi kalau bukan Barongko. Di setiap perayaan lebaran, pesta pernikahan, syukuran, atau berbagai hajatan masyarakat Bugis-Makassar, hampir selalu hadir satu sajian yang sederhana tetapi sarat makna: Barongko. Makanan tradisional ini bukan sekadar hidangan pemanis. Ia adalah warisan kuliner yang menyimpan filosofi kehidupan.

Barongko dibuat dari pisang matang yang dihaluskan, dicampur dengan santan, telur, gula, dan sedikit garam, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang sebelum dikukus hingga matang. Aromanya harum, tampilannya sederhana, tetapi rasanya begitu lembut, legit, dan manis. Tak heran jika barongko kerap disajikan sebagai penutup jamuan, meninggalkan kesan yang indah di akhir pertemuan. Namun, di balik kelezatannya, barongko mengajarkan sebuah pelajaran yang jauh lebih dalam.

Keistimewaan barongko terletak pada keselarasan antara pembungkus dan isinya. Ia dibungkus dengan daun pisang, sementara bahan utamanya pun berasal dari pisang. Dari luar hingga ke dalam, tidak ada kepura-puraan. Apa yang tampak selaras dengan apa yang tersembunyi. Bukankah demikian pula seharusnya hati manusia? Demikianlah “Taro ada taro gau”, sepadan antara ucapan dengan perbuatan.

Seseorang yang baik tidak hanya menampilkan keramahan di hadapan orang lain, tetapi juga menyimpan ketulusan di dalam hatinya. Senyumnya bukan sekadar basa-basi, ucapannya bukan sekadar pencitraan, dan kebaikannya bukan sekadar pertunjukan. Apa yang terlihat dari luar merupakan cerminan dari apa yang ada di dalam. Demikianlah seharusnya “Mappakalebbiri’ tau, mappasitinaja tau”, Menghormati orang lain sama artinya menjaga kehormatan diri sendiri.

Seperti barongko yang seluruh hakikatnya berasal dari pisang, demikian pula seorang yang berakhlak mulia. Luar dan dalamnya sama-sama baik. Tidak ada kepahitan yang disembunyikan di balik kemanisan yang ditampilkan. Demikianlah seharusnya “De’na sirui menre’, de’na sirui no”, Tidak ada yang naik sendiri, tidak ada yang turun sendiri, semua butuh kebersamaan. Hati yang bersih akan melahirkan perkataan yang lembut dan setiap kebaikan akan diterima pula dengan kebaikan, berpasangan dan melahirkan kebersamaan.

Bukankah Pikiran yang jernih akan menghasilkan tindakan yang bijaksana? Niat yang tulus akan menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Sebab, apa yang tersimpan di dalam hati pada akhirnya akan tampak melalui sikap dan perilaku. Tidak tinggi hati, tetapi menampilkan diri apa adanya. Demikianlah pesan yang tersirat, “Anre nakko siri’mu, nakko de’ muisengngi tau”, Tidak ada gunanya punya harga diri jika tidak menghargai orang lain.

Barongko juga mengingatkan bahwa kemanisan sejati tidak selalu tampil mencolok. Ia dibungkus daun pisang yang sederhana, tanpa hiasan yang berlebihan. Namun, justru di balik kesederhanaannya tersimpan cita rasa yang istimewa. Begitu pula manusia. Nilai seseorang tidak diukur dari kemewahan penampilannya, melainkan dari kemuliaan akhlaknya. “Tappasiri’ nasaba siri’, tettappasiri’ nasaba pacce”, Lebih baik hidup dengan harga diri, daripada hidup tanpa belas kasih.

Maka, jadilah seperti barongko. Dibuat dengan ketulusan dan kesabaran, berharap Tuhan memberi “barakka” (berkah) dari sajian yang saling memanusiakan. Biarlah luar dan dalamnya selaras. “Resopa natemmangingngi, malomo naletei pammase dewata”, Hanya dengan kerja keras dan kesabaran, kita bisa meraih rahmat Tuhan. Bukankah rahmat Tuhan diturunkan hanya kepada yang saling memanusiakan sesamanya, saling menghargai dengan ketulusan dan kesabaran.

Jika wajah kita menghadirkan senyum, semoga hati kita juga dipenuhi kasih sayang. Jika lisan kita mengucapkan kebaikan, semoga jiwa kita pun dipenuhi keikhlasan. Jangan sampai kemanisan hanya tampak di permukaan, sementara di dalam tersimpan iri, dengki, dan kebencian. “Siri’ na pacce, pangkaukang ri lino”, Harga diri dan empati adalah pegangan hidup di dunia.

Karena pada akhirnya, hati yang baik akan melahirkan ucapan yang baik, perbuatan yang baik, persahabatan yang baik, dan kehidupan yang penuh keberkahan. Sebagaimana barongko yang meninggalkan rasa manis di penghujung hidangan, demikian pula manusia yang hatinya dipenuhi kebaikan akan meninggalkan jejak yang indah dalam kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Seperti barongko, semoga isi hatimu sama dengan penampilanmu—luar dan dalamnya sama-sama baik, sama-sama manis. Dan dari kemanisan hati itulah akan tumbuh buah-buah kebaikan yang memberi manfaat bagi sesama. Salamakki Tapada Salama’. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT