Kasiratangan dalam Perkawinan Adat Makassar

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Apr 8, 2017 | 1317 views
Manre Baje' - Negosiasi kultural kedua yang lazim disebut prosesi "Manre Baje" merupakan salah satu proses lanjutan dari penegasan kasiratangan. (foto: mfaridwm)

Manre Baje’ – Negosiasi kultural kedua yang lazim disebut prosesi “Manre Baje” merupakan salah satu proses lanjutan dari penegasan kasiratangan. (foto: mfaridwm)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Perkawinan (Pa’buntingan) dengan segala proses pelaksanaannya dalam masyarakat Makassar adalah menjadi masalah seluruh keluarga. Oleh sebab itu seseorang yang akan memilih jodoh atau orang tua yang memilih pasangan hidup bagi anaknya sewajarnyalah mempertimbangkan dengan matang terhadap kondisi anak yang akan menjadi pasangan hidupnya, agar keluarga baru yang terbentuk dapat memelihara hubungan harmonis.

Pertimbangan tersebut salah satunya adalah “kasiratangan” (kesepadanan) dalam kedudukan sosial. Hubungan perkawinan yang berlandaskan kasiratangan bukan hanya terbatas dalam lingkungan keluarga atau kerabat, akan tetapi lebih luas dalam ketentuan hubungan sejajar dan sepadan dalam kedudukan.

Misalnya: Antara bangsawan dengan bangsawan, antara orang kaya dengan orang kaya, antara orang terpelajar dengan orang terpelajar, antara sarjana dengan sarjana dan antara haji dengan haji.

Umumnya hubungan kasiratangan dipandang karena latar belakang sosial, pendidikan ataupun ekonomi. Semakin banyak “label” yang melekat pada diri perempuan, maka akan semakin ribet dan banyak hal yang dipertimbangkan terkait kasiratangan.

Namun saat ini terjadinya pergeseran pandangan dalam memandang hubungan kasiratangngan, misalnya seorang gadis dari golongan bangsawan dapat dianggap siratang (sepadan) dengan pemuda dari golongan biasa tapi mempunyai kedudukan sosial tinggi seperti berpendidikan sarjana dan keluarganya kaya.

Pengantin laki-laki di malam mappaccing, seringkali disebut "Lanipanjari taumi" (foto: irma/ist)

Pengantin laki-laki di malam mappaccing, seringkali disebut “Lanipanjari taumi” (foto: irma/ist)

Biasanya apabila orang tua akan mengawinkan anaknya, ia akan memberitakannya kepada pihak keluarganya dan orang lain dengan mengatakan “Lanipanjari taumi” atau “Lanipattumi Ulunna Salangganna”, maksudnya akan dijadikanlah manusia anaknya atau akan dihubungkan kepala dengan pundaknya.

Sebab menurutnya, seseorang itu baik tau-rungka (pemuda) maupun taulolo (anak gadis) belumlah dapat dianggap sebagai manusia (tau) sebelum kawin atau dinikahkan oleh orang tuanya. Ia belum punya hak untuk duduk dan berbicara pada acara tertentu. Karenanya, tanggung jawab seseorang sesudah menikah dalam pandangan adat orang Makassar sudah bertambah.

Dikatakan pula bila seseorang orang tua mengawinkan anaknya “Nisungkemmi Bongonna”, artinya selubungnya sudah dibuka oleh anaknya, sebab seorang orang tua yang mempunyai anak yang belum kawin seolah-olah ia berselubung, menutupi sesuatu yang dijaga (kehormatan) dan dikhawatirkan.

Itu pulalah salah satu sebabnya mengapa setiap orang tua dalam mengawinkan anaknya sedapat mungkin bisa berlangsung meriah sebagai manifestasi kegembiraan terhadap anaknya. Termasuk dalam hal menjaga hubungan dua keluarga yang saling terikat, saling mendekatkan dan saling menjunjung tinggi kehormatan keduanya. Hal ini lazim pula disebut “Ajjuluk Siri’.

* * *

Hubungan perkawinan biasanya menjadi gagal dilaksanakan biasanya karena dipandang masyarakat terdapat ketidak-sesuaian (tena-siratang), termasuk dalam hal ini adanya ketidaksepadanan “sunrang” atau mas kawin ini yang sekali lagi—ditentukan berdasarkan kedudukan sosial (derajat) dari orang yang harus membayar dan menerimanya.

Adapun penggolongan sunrang adalah sebagai berikut: (1) Bangsawan tinggi 88 real, (2) Bangsawan menengah 44 real, (3) Bangsawan Bate’ Salapanga/Karaeng Palili 28 real, (4) Golongan Tu-maradeka 20 real dan (5) Golongan Ata’ cukup dengan 10 real. Terkadang masyarakat mengukur pula kesepadanan itu lewat besar kecilnya Doe’ Balanja (uang belanja) dalam perkawinan adat Makassar.

Hal yang sama juga terjadi pada etnis Bugis Makassar, hanya penamaannya saja yang berbeda. Doe’ Balanja (Uang Panai’) yang terlalu tinggi bagi pihak keluarga laki-laki atau dipandang terlalu rendah bagi keluarga perempuan seringkali menjadi pemicu gagalnya perkawinan dilaksanakan.

Baik sunrang dan Uang Panai’ tersebut sebetulnya adalah aturan atau kesepakatan berdasarkan adat yang masih berlaku dan dalam prakteknya lebih diperhatikan dalam kesepakatan lamaran dibanding aturan atau kesepakatan berdasarkan Agama (Islam).

Penyerahan uang panai dalam tahapan "manre baje". (foto: mfaridwm)

Penyerahan uang panai dalam tahapan “manre baje”. (foto: mfaridwm)

Selain Doe’ balanja, juga dikenal “Cingkarra”, yaitu berupa hadiah (erang-erangan/tiwi-tiwi) yang sebentar juga mendapat balasan dari pihak perempuan.

Cingkarra merupakan pemberian hadiah atau tanda mata dari kedua belah pihak kepada bakal menantu masing-masing. Segala hadiah dan tanda mata berupa barang perhiasan emas dan lain-lainnya akan menjadi barang sisila, yakni harta bawaan bagi kedua orang suami istri.

Ada pula masyarakat yang mengukur kasiratangan (kesepadanan) itu lewat perkawinan antar keluarga. Dia beranggapan bahwa hanya keluarga tertentu atau keluarga dekatnya saja yang siratang (sepadan) kawin dengan anak dan kemenakannya.

Dalam hal tertentu, perkawinan seperti ini malahan dianggap sebagai perkawinan yang ideal, seperti:

(1) Perkawinan “assialeang marola” (makassar= passialeang baji’na), yaitu perkawinan antara sampo sikali baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

(2) Perkawinan ”assialanna memang” (makassar= passialleanna), yaitu perkawinan antara sampo pinruang baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

(3) Perkawinan ”ripaddeppe’ mabelae” (makassar= nipakambani bellaya), yaitu perkawinan antara sampo pintallung, juga dari kedua belah pihak. (Mattulada 1974 : 267).

Perkawinan antara saudara sepupu, ada yang menganggapnya ideal dalam pandangan adat, namun ada pula yang menganggapnya sebagai hal yang tidak dianjurkan dalam pandangan kesehatan dan agama.

Seiring dengan berkembangnya pemikiran dan wawasan masyarakat, saat ini sudah banyak yang memandang “kasiratangan” dari aspek latar belakang keagamaan atau basic keislaman. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response