Oleh: M. Farid W Makkulau *)
PALONTARAQ.ID – Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang transformasi spiritual yang berpuncak pada sebuah tradisi luhur bernama Mappatamma’ (dalam bahasa Bugis) atau Appatamma’ (dalam bahasa Makassar).
Secara etimologis, kata ini berakar dari kata “Tamma” yang berarti tamat atau khatam. Tradisi ini merupakan upacara perayaan syukuran atas selesainya pembacaan 30 juz Al-Qur’an, yang biasanya dilaksanakan pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan (Lailatul Qadar) atau sesaat sebelum hari raya Idul Fitri.
Mappatamma’ bukan sekadar seremoni formalitas. Ia adalah titik temu antara identitas keislaman dengan kearifan lokal (local wisdom) yang telah mengakar sejak masuknya Islam di jazirah Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai prosesi, simbolisme kuliner, hingga dimensi sosiologis dari tradisi khataman ini.
Akar Sejarah dan Landasan Teologis
Islam masuk ke Sulawesi Selatan dengan pendekatan sufistik dan kultural. Para ulama terdahulu, seperti Dato Ri Bandang, Dato Ri Patimang, dan Dato Ri Tiro, memahami bahwa masyarakat Sulawesi memiliki kecintaan yang tinggi terhadap simbol-simbol kehormatan (Siri’). Oleh karena itu, penguasaan terhadap Al-Qur’an dijadikan sebagai salah satu standar martabat seorang Muslim.
Secara teologis, tradisi ini bersandar pada anjuran Nabi Muhammad SAW untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa doa yang dipanjatkan saat khatam Al-Qur’an adalah doa yang mustajab dan diamini oleh ribuan malaikat. Bagi orang Bugis-Makassar, janji spiritual ini diwujudkan dalam sebuah perayaan yang melibatkan keluarga besar dan tetangga.
Prosesi Ritual: Dari Masjid ke Rumah-Rumah
Tradisi Mappatamma’ biasanya terbagi menjadi dua ranah, yaitu: Pertama, Mappatamma’ di Masjid (Kolektif), biasanya dilakukan oleh para jamaah tadarus setelah salat Tarawih. Puncaknya ditandai dengan pembacaan surah-surah pendek (Juz Amma) secara bergantian, mulai dari Surah Ad-Duha hingga An-Nas, ditutup dengan doa khataman yang syahdu.
Kedua, Mappatamma’ di Rumah (Privat). Ini adalah momen emosional bagi orang tua yang anaknya baru pertama kali mengkhatamkan Al-Qur’an. Sang anak akan duduk di depan Guru Mengaji, mengenakan pakaian adat (seperti Baju Bodo atau Jas Tutu’), dan membacakan ayat-ayat terakhir di hadapan keluarga besar.
Simbolisme Kuliner: Lebih dari Sekadar Rasa
Satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari Mappatamma’ adalah sajian makanannya. Di balik hidangan tersebut, terdapat simbolisme yang sangat dalam, diantaranya adalah Ondo/Gantala. Penganan ini berbahan dasar beras yang lengket. Ini melambangkan harapan agar ilmu Al-Qur’an “melekat” di hati dan pikiran si pembaca.
Ada pula Ayam Gagape atau Likku’. Ayam kampung yang dimasak dengan bumbu lengkuas dan kelapa sangrai. Ayam disajikan secara utuh sebagai simbol keutuhan ilmu. Selain itu, ada pula Pisang Raja dan Burasa’. Pisang raja melambangkan harapan agar si anak atau pembaca Al-Qur’an memiliki derajat yang tinggi (seperti raja) di mata Allah dan manusia karena akhlak Al-Qur’annya, sedang Burasa’ merupakan simbol kebersamaan dan permohonan maaf.
***
Tradisi ini berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial dan motivasi pendidikan. Dalam masyarakat tradisional, seorang pemuda atau pemudi belum dianggap “dewasa” secara spiritual jika belum Mappatamma’.
Secara sosiologis, tradisi ini mempererat Silaturahmi. Tetangga yang datang membawa Barakat (bingkisan makanan) menciptakan ekosistem gotong royong. Selain itu, pemberian hadiah kepada Guru Mengaji dalam prosesi ini merupakan bentuk Pappaseng (pesan moral) tentang pentingnya menghargai guru dan ilmu pengetahuan.
Jadi, Mappatamma’ adalah bukti nyata bagaimana Islam dan budaya lokal di Sulawesi Selatan berpadu dalam harmoni yang indah. Ia bukan sekadar perayaan selesainya membaca 30 juz, melainkan pernyataan komitmen bahwa Al-Qur’an akan terus menjadi kompas moral bagi masyarakat Bugis-Makassar. Menjaga tradisi ini berarti menjaga identitas kita sebagai bangsa yang religius dan berbudaya.
Bahan Bacaan:
Pelras, Christian. (2006). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishing. (Membahas struktur sosial dan pengaruh Islam dalam budaya Bugis).
Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (Penting untuk memahami konsep Siri’ dan nilai spiritual).
Hadjrawati. (2019). “Tradisi Khataman Al-Qur’an dalam Masyarakat Bugis: Studi Unsur Budaya Lokal”. Jurnal Al-Qalam, Vol. 25, No. 1.
Rahman, Darmawan. (2021). Agama dan Budaya Lokal: Dinamika Islam di Sulawesi Selatan. Makassar: Arus Publik.
(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Sejarah Budaya Bugis Makassar/Tinggal di Pangkep



