BerandaSosial BudayaKearifan LokalTo Ciung dan Sulapa’ Eppa

To Ciung dan Sulapa’ Eppa

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – SYAHDAN Puetta DatuE SoppEng La Manussa’ Toakkarangeng Petta MatinroE ri Tanana (1534-1556) adalah salah seorang Raja yang arif cendekia pada zamannya. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kumpulan “paseng sule’sana” (pesan kebijaksanaan), yakni himpunan kearifan ke-tata negara-an yang diajarkan oleh Cendekiawan Luwu To Ciung To Tongeng MaccaE ri Luwu kepadanya.

Datu Soppeng yang dituliskan nama kecilnya sebagai “La Baso’ Toakkarangeng” dalam risalah itu, antara lain menguraikan makna konsep philosofi “Sulapa’ Eppa” (jajaran genjang), hal mana merupakan simbol pangadereng Luwu yang terpenting.

Bahwa “Sulapa’ Eppa” sesungguhnya adalah formasi 4 titik yang menunjukkan 4 arah, yakni: Alau’ (timur), Orai’ (barat), Manai’ Maniang (utara) dan Manoreng (selatan).

Tatkala ditarik garis lurus yang memperhubungkan keempat titik itu, tergambarlah suatu bentuk ketupat persegi empat (jajaran genjang), merupakan huruf ke-17 dalam aksara Lontara’ yang melambangkan bunyi: “SA”. Kemudian konsonan “S” (SA) itu dipermaknakan sebagai: “sEuwwa” (tunggal).

Lihat pula:  Menyoal “Kalabbirang” dalam Pandangan Adat Bugis Makassar

Olehnya itu, kesatuan empat penjuru yang manunggal itu dipermaknakan sebagai kesenyawaan 4 unsur kejadian manusia (tana, api, waE, anging), mahluk se-sempurna sempurnanya (sukku sisukku-sukkuna) ciptaan Tuhan yang diturunkan ke dunia sebagai penebar rahmat Tuhan Yang Maha Tunggal (Puang SEuwwaE) itu sendiri.

Sulapa Appa atau Sulapa EppaE dalam Aksara Lontaraq.
Sulapa Appa atau Sulapa EppaE dalam Aksara Lontaraq.

Perputaran keempat titik perlambang unsur kejadian itu menjadi simbol kehidupan yang menciptakan alur dan simpul jejak takdir, tergambar bagaikan jentera berlengan sama sisi yang ditekuk 90 derajat, berputar dari kiri ke kanan, sebagaimana itu disebut di Luwu sebagai “Panji Sulapa’ PappEjeppu” dan biasa juga disebut “Panji Kadang”.

Bukti arkeologi paling awal mendapati bahwa simbol ornamen ini ditemukan sejauh Peradaban Lembah Indus, India Kuno. Simbol yang dikenal dalam Agama Hindu, Budha dan Jainisme sebagai swastika ini juga telah digunakan dalam berbagai peradaban kuno lainnya di seluruh dunia (Cina, Jepang, Eropa, Amerika, Afrika dan Arab), didapati kesamaan pemaknaan terdalam tentang rahasia alam semesta dan kehidupan didalamnya yang terlepas dari persepsi ukuran dan skala.

Bahwa kehidupan tercipta dari garis perhubungan empat titik dengan poros yang berputar, menciptakan garis dan alur tak terputus, sehingga itu disebut sebagai “Singkerru’ Mulajaji, DE’ pammulangna, DE’ cappa’na, PuengngEmi Missengngi pabbunganna” (simpul kelahiran awal mula, tiada awal, tiada akhir, hanya Tuhan Yang Tahu titik jalinannya).

Lihat pula: Rumah Adat, Tradisi “MenrE Bola” dan Dapur Orang Bugis Makassar

Sebagaimana kehidupan di bumi yang terbuka tatkala matahari terbit mencipta suasana pagi (ElE), lalu tiba di ufuk langit mencipta tengah hari (tengnga esso), kemudian tergelincir ke barat sehingga disebut lewat tengah hari (lEsang esso), sampai tenggelam di ufuk barat menjadi sore (arawEng/labu’ esso). Maka siang hari pun terbagi menjadi 4 titik masa.

Demikian pula malam hari yang terbagi menjadi 4 masa pula, yakni: wenni, lalempenni, tanga benni dan denniari. Pada akhirnya semuanya tak terlepas dari angka 4 yang akan terus menerus berputar dan mengurai 4 hal lainnya dengan tak terhingga, maka inilah konsep “Sulapa’ Eppa” yang diuraikan To Ciung dan dirisalahkan oleh La Baso Toakkarangeng yang meliputi konsep alam semesta (alangngE) hingga partikel atom terkecil (kumaE) beserta perputaran takdir dengan meniadakan konsep skala, ruang dan waktu.

Sulapa’ Eppa yang disimbolkan pula dalam ruang isi “walasuji” (jalinan bambu bersilang) dinyatakannya pula sebagai 4 kesatuan yang menjalankan suatu kerajaan (negara).

Bahwa suatu kerajaan tak mungkin dijalankan oleh hanya raja dan keluarganya yang terdiri dari para bangsawan menurut tinjauan garis turunan darah ningrat belaka. Melainkan haruslah dijalankan oleh 4 abilitas yang terdapat pada seluruh lapisan masyarakatnya, sebagaimana dikatakannya :

“Makkedai To MaccaE ri Luwu: tabbarang tau riala parEwa ri tanaE. Iyapa nariala parEwa ri tanaE eppa’pi mengkaiwi. SEuwwani, malempupi. Maduanna, kEnawa-nawapi. Matellunna, sugi’pi. Maeppa’na, waranipi”

Artinya: Berkatalah To MaccaE ri Luwu, tak sembarang orang yang dapat dijadikan pejabat negeri. Ia dijadikan sebagai pejabat negeri jikalau memiliki empat hal. Yang pertama, jika ia jujur. Kedua, jika ia pemikir yang cerdas. Ketiga, jika ia adalah orang kaya. Keempat, jika ia pemberani).

Lihat pula: Pangulu dan Tokoh “Kulu-kulu”

Selanjutnya Negarawan Luwu itu menguraikan kempat abilitas itu menjadi empat persyaratan, sebagaimana dinyatakannya lagi, “Naiyya tanranna Tomalempu’E. SEuwwani, riasalaiE naddampeng. Maduanna, riparennuangiE tennapacEkoi. Matellunna, temmangoaiEngngi natania olona. Maeppa’na, tennasesse’ dEcEngngE narEkko alEnami podEcEngngi”.

Artinya: Adapun pertanda orang jujur itu. Pertama, jika bersalah kepadanya lalu ia memaafkan. Kedua, jika dipercaya lalu ia tak menghianati. Ketiga, tidak tamak terhadap segala sesuatu yang bukan haknya. Keempat, tidak menyesalkan/menginginkan kebaikan jikalau kebaikan itu hanya berfaedah bagi dirinya sendiri).

Lambang Kedatuan Luwu, juga tak lepas dari penempatan simbol sulapa eppa. (foto: ist/palontaraq)
Lambang Kedatuan Luwu, juga tak lepas dari penempatan simbol sulapa eppa. (foto: ist/palontaraq)

Jujur terhadap fitrah kemanusiaannya yang tak terlepas dari kekhilafan, sehingga iapun memungkinkan pula berbuat khilaf terhadap manusia lainnya. Olehnya itu, ia senantiasa membukakan pintu maaf kepada siapapun yang khilaf kepadanya, seakan ia memaafkan dirinya sendiri.

Demikian halnya dengan kepercayaan yang dipandangnya sebagai suatu kehormatan terhadapnya, maka dijunjungnya sebagai suatu penghargaan yang tak ternilai. Selanjutnya ia senantiasa jujur dan mawas diri terhadap segala hal yang bukan haknya, maka ia adalah seorang yang qona’ah dan mensyukuri segala apapun yang menjadi haknya sebagai berkah dari Tuhan.

Hingga kemudian, ia memandang “dEcEng” jikalau baik bagi dirinya dan juga pada orang lain. Kebaikan yang hanya mendatangkan manfaat bagi dirinya semata, disebutnya sebagai “dEcEngrialE” (kebaikan pada diri sendiri) belaka.

Selanjutnya To Ciung menguraikan perihal abilitas kedua, sebagai berikut, “Naiyya tanranna TokEnawa-nawaE, eppa’toi. SEuwwani, mEloriwi gau’ patujuE. Maduanna, mEloriwi ada patujuE. Matellunna, molaiE roppo-roppo narEwe’. Maeppa’na, molaiE laleng namatike’”

Artinya: Adapun ciri-ciri orang cerdas, terdiri dari empat hal pula. Pertama, menghendaki perbuatan benar. Kedua, menyukai perkataan benar. Ketiga, tatkala menempuh suatu jalan yang penuh sampah, maka ia berbalik haluan. Keempat, menempuh jalan dengan senantiasa berhati-hati.

Orang cerdas adalah mereka yang dapat menilai atau mendeskripsikan segala hal dengan tepat, serta tanggap terhadap situasi dan kondisi. Ia pula adalah orang yang senantiasa berhati-hati dengan segala tindakannya. Kemudia abilitas ketiga diuraikannya pula menjadi empat hal, yaitu :

“Naiyya tanranna Tosugi’E, eppa’toi : SEuwwani, sugi’ ada-adai. Maduanna, sugi nawa-nawai. Matellunna, sugi akkarEsoi. Maeppa’na, sugi balancai”

Artinya: Adapun Ciri-ciri orang kaya, terdiri empat hal pula. Pertama, kaya dengan bahasa/perkataan. Kedua, kaya akan pemikiran. Ketiga, kaya akan keuletan berusaha. Keempat, kaya dengan uang yang banyak)

Lihat pula: National Treasure, Ekspedisi Wilkes dan La Galigo

Akhirnya, To Ciung menguraikan abilitas keempat dengan empat ciri-cirinya, sebagai berikut, “Naiyya tanranna TowaraniE, eppa’toi. SEuwwani, tettattEnrE napolEi ada maja, ada madEcEng. Maduanna, temmEngkalingai karEba naEngkalingatoi. Matellunna, temmEtau’E ripaddiolo enrengngE ripaddimunri. Ma’eppa’na, temmEtau’i mita bali”

Artinya: Adapun ciri-ciri orang pemberani, terdiri dari empat hal pula. Pertama, tidak panik menerima menerima perkataan buruk, maupun perkataan baik. Kedua, tidak memasang telinga untuk mendengar suatu khabar, meskipun didengarkannya jua. Ketiga, tidak takut ditempatkan pada barisan depan, ataupun pada barisan belakang. Keempat, tidak gentar berhadapan dengan lawannya.

Selanjutnya bertanyalah pula La Baso’ Toakkarangeng, “Makkedai La Baso’ ; Aga padEcEngiwi akkarungengngE nEnE?” (Bertanyalah La Baso’: Apakah yang memperbaiki kerajaan, kek ?)

“Makkedai To MaccaE ri Luwu ; WEkkaduai tattareppa’E, aruwa’i uwangenna. SEuwani, malempupi’. Maduanna, makkeda tongengpi. Matellunna, magettengpi. Ma’eppa’na, malElengpi. Malimanna, masEmpopi. Maennengna, manyamengkininnawapi. Mapitunna, waranipi. Ma’aruwana, temmappasilEngengpi”

Artinya: Berkatalah To MaccaE ri Luwu. Adalah dua kali empat, yakni delapan hal. Pertama, jika kita jujur. Kedua, jika kita berkata benar. Ketiga, jika kita tegas. Keempat, jika kita bersungguh-sungguh berdisiplin. Kelima, jika kita bermurah hari. Keenam, jika kita peramah. Ketujuh, jika kita berani. Kedelapan, jika tidak pilih kasih).

Sesungguhnya, philosofi “Sulapa’ Eppa” meliputi segala apapun, mulai dari unsur kejadian manusia, alam semesta, kenegaraan hingga syarat prilaku.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT