BerandaBeritaDaerahMenjawab Polemik tentang Makam We Tenri Leleang Petta MatinroE ri Soreang

Menjawab Polemik tentang Makam We Tenri Leleang Petta MatinroE ri Soreang

Oleh: La Oddang Tosessungriu, Matoa Cenrana Luwu

Related Post:  Berziarah ke Makam Opu La Pattiware

PALONTARAQ.ID – Beberapa hari yang lalu, kami mendapat kabar melalui telepon dari teman-teman sesama kaum Cenrana Luwu menyangkut letak makam Opu Topapoatanna PapoataE We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang.

Bahwa publik sosial media cukup ramai mendiskusikan perihal letak pusara Opu Topapoatanna PapoataE We Tenri LElEang, apakah di TanEtE (Barru) ataukah di SorEang (Parepare)?

Maka dengan ini, selaku Matoa Cenrana Luwu yang dititahkan oleh Sri Baginda Opu TopapoataE Datu Luwu XL untuk mengurus situs Luwu di luar Tana Luwu dalam wilayah koordinasi Cenrana Luwu, menyangkut perihal ini kami berpandangan, sebagai berikut:

1. Kasus terdapatnya seorang tokoh sejarah Sulawesi Selatan yang memiliki makam lebih dari 1, sesungguhnya bukanlah hal baru. Antara lain dapat dikemukakan contohnya beberapa, yaitu:

– Makam Petta Tosalama’E Syekh Yusuf Tajul Khalwati yang terdapat di Cape Town (Afrika Selatan), Ceylon (Srilangka), Situs Maulana Yusuf (Banten) dan Gowa (Sulawesi Selatan). Utamanya yang di Cape Town dan di Gowa, masing-masing penjaga situs meyakini bahwa makam yang dijaganya adalah yang asli,

– Makam Puetta La Canno’ Petta LampE Uttu, terdapat pada 3 tempat yang berjauhan, yaitu: Jera’E Rappeng (Rappang, Kabupaten Sidrap), Laringgi’ (Kecamatan Panca Lautang, Kab. Sidrap) dan Gilireng (Kabupaten Wajo). Masing-masing juru kunci makam itu bersikeras dengan pendapatnya bahwa makam yang dijaganya adalah pusara Petta LampE Uttu.

– Makam Puetta ArumponE La Temmasonge’ Toappasossong Petta MatinroE ri Mallimongeng, ada yang berpendapat bahwa letaknya di Mallimongeng (Kabupaten Bone) dan ada pula yang menyatakan letaknya di Makassar. Bahkan di Makassar ada 2 pusara yang letaknya berjauhan diklaim sebagai makam Puetta ArumponE tersebut,

– dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Sehubungan dengan Makam Opu Topapoatanna PapoataE Petta MatinroE ri SorEang ini, Luwu menyatakan bahwa Makam Datu/Pajung Luwu XXIV/XXVI serta juga adalah Datu TanEtE tersebut adalah di SorEang (Parepare).

Pendapat ini dinyatakan dengan tegas dan seyakin-yakinnya dengan tetap menghargai/menghormati pendapat lain yang menyatakan jika makam “sebenarnya” terletak di TanEtE, kab. Barru ataupun jika masih ada yang menyatakan pada tempat lainnya.

3. Meyakini bahwa makam Opu Topapoatanna TopapoataE yang berada dalam bangunan “kalokko” di SorEang (Parepare) adalah sejak lama dan telah berlapis generasi.

Salah seorang kakak kandung Opu TopapoataE Datu Luwu XL bernama Andi Bau’ Cella’ yang wafat semasa bayi di Parepare pada tahun 50-an dimakamkan didalam Lokko’ tersebut, disamping Opu TopapoataE We Tenri LElEang.

4. Terdapatnya makam seorang Syekh turunan Arab bernama Syekh Muhammad di dalam bangunan Lokko’ disamping pusara Opu Topapoatanna PapoataE, berkesesuaian dengan ihwal yang diuraikan dalam Lontara Akkarungeng TanEtE (G.K. Nieman, ; Geschiedenis Van Tanete, S’Gravenhage, Amsterdam, 1983), hal mana Almarhumah PajungngE We Tenri LElEang mewasiatkan agar kelak jazad gurunya dimakamkan disamping pusaranya.

Bahwa guru spiritual PajungngE tersebut adalah Tuan Pekki Kadhi Luwu yang memang seorang turunan Arab. Meskipun kemudian patut disayangkan ketika beberapa waktu yang lalu, salah seorang turunannya justru mengklaim sepihak bahwa makam dalam “Kalokko’ Datu” tersebut adalah makam kakeknya seorang, sehingga mendapatkan pelajaran yang sepadan.

5. Sejak dulu masyarakat sekitar kompleks pemakaman di Soreang senantiasa menyebut jika bangunan Kalokko’ di puncak bukit Soreang itu adalah makam Datu Luwu.

Bahwa tradisi Luwu yang berlangsung turun temurun sejak Opu Topapoatanna PapoataE La Patiware’ Petta MatinroE ri Ware’ Datu/Pajung Luwu XV senantiasa dimakamkan didalam “Kalokko”, yakni bangunan beton berbentuk pyramid.

Sementara itu, “Kalokko’” yang terdapat di SorEang ini adalah persis dan memenuhi kriteria secara keseluruhan sebagaimana dipersyaratkan sebagai “Kalokko’ Luwu”, meskipun dikombinasi dengan profil arsitektur Belanda.

Selain itu, hasil penelitian arkeology mendapati bahwa usia bangunan tersebut adalah sejak abad akhir 18, sebagaimana diketahui jika PajungngE wafat dalam tahun 1778.

6. Hingga kemudian didapati pertanyaan: Kenapa makam Eks. Datu/Pajung Luwu ataupun Eks. Datu TanEtE dimakamkan di SorEang? Bahwa wilayah SorEang yang kala itu berada dalam wilayah Kerajaan Suppa’, bukanlah kawasan yang asing bagi Opu Topapoatanna PapoataE We Tenri LElEang.

Ayahanda beliau, yakni Puetta La RumpangmEgga To SappEile Cenning Luwu dimakamkan di Majennang (Watang Suppa’) sehingga bergelar anumerta Petta MatinroE ri Suppa’. Jika melalui jalur laut, jarak makam beliau dengan ayahandanya hanya berkisar 5 kilometer.

Lontara Akkarungeng TanEtE menguraikan perihal masa tua PajungngE tatkala putra bungsunya yakni Puetta La Maddusila ToappangEwa Petta MatinroE ri Dusung dinobatkan sebagai Datu TanEtE, mendapatkan sanggahan dari putra sulungnya dari suami kedua, yaitu: Puetta La Tenrisessu’ Cenning Luwu Petta MatinroE ri BElawa.

Bahwa putra sulung tersebut tidak menerima jika adiknya yang dinobatkan menjadi Datu TanEtE, sementara ia sendiri hanya menjadi “Arung Pancana’”, yakni salah satu “akkarungeng palili” (bawahan) Kerajaan TanEtE.

Maka Pangeran Sulung yang memiliki pengalaman perang hingga di Pulau Jawa ini mengadakan kekacauan di TanEtE, melawan adiknya. Melihat kondisi ini, PajungngE yang pada masa itu digelar dengan sebutan “Petta ToaE” turun tangan menasehati puteranya tersebut.

Namun jua tidak digubris sehingga beliau sendiri yang menghimpun kekuatan lasykar TanEtE, mengusir puteranya yang keras hati ini hingga SEgEri. Olehnya itu, Puetta La Tenrisessu’ Arung Pancana Cenning Luwu mendapat gelar baru, yaitu: Petta LaoE ri SEgEri.

Namun sebelum meninggalkan rumahnya di Pancana, beliau sempat menebar ancaman bahwa tiada yang panjang umur jika “berani” menempati rumahnya, meskipun orang itu memiliki 10 kepala.

Hingga pada suatu ketika, Tuan Pekki Kadhi Luwu tatkala mendapat titah dari PajungngE (Petta ToaE) agar mendiami rumah puteranya itu. Maka dengan terpaksa Tuan Guru ini ke SEgEri guna memohon persetujuan Puetta La Tenrisessu, hal mana kemudian dikabulkan.
Setelah tinggal menetap di SEgEri, terjadi lagi kisruh Puetta La Tenrisessu’ dengan saudaranya yang lain, yaitu Puetta La Maggalatung Petta TokaliE Datu Lompulle’. Perselisihan itu hampir-hampir melibatkan Kerajaan Bone, sehingga ayahanda mereka yang tingga menetap di SapiriE (SoppEng) terpaksa harus turun tangan menengahi.

Menurut perkiraan kami (penulis uraian ini), bahwa kekisruhan di TanEtE dan sekitarnya yang disebabkan oleh perselisihan antar anak-anaknya menyebabkan “Petta ToaE” (PajungngE We TEnri LElEang) pada akhirnya tidak betah menetap di negeri keduanya itu.
Hingga kemudian pada suatu Lontara’ Alitta yang telah disalin ulang oleh Alm. H. PaEwa, serta diuraikan pula dalam Lontara Wajo Tawang MaduaE, menyatakan bahwa pada masa itulah Eks. Datu Luwu dan Datu TanEtE ini lebih banyak berdiam di wilayah Ajatappareng dan sekitarnya.

Jika di Kerajaan Sidenreng, beliau mendatangi cucunya, yaitu : We Sompa ataupun We Tenri Balobo. Sementara itu disekitar Suppa’, terdapat pula 2 puterinya, yaitu : Puetta I Tenripada DaEng MalEleng dan Puetta Sitti Fatimah DennyarasiE (LHPW – LA, lbr. 16-17).

7. Terdapat keganjilan pada Lontara Akkarungeng TanEtE yang ditulis oleh Colli’pujiE, yakni pada bagian pemberitaan wafatnya Opu TopapoataE We Tenri LElEang.

Pada narasinya, didapati “penekanan” yang menjadi statement, “Petta MatinroE ri Tengngana SorEang TANETE”. Kejanggalannya adalah, jika memang terdapat nama suatu tempat bernama “SorEang” di TanEtE, kenapa harus diperjelas bahwa itu tempatnya di TanEtE?

Bahwa Colli’ PujiE Arung Pancana binti La RumpangmEgga Datu TanEtE (Datu Lamuru) sesungguhnya adalah generasi ke-5 dan ke-4 dari PajungngE We Tenri LElEang yang menulis pemberitaan ini tentulah ada hal lain yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi politik sebelumnya yang dapat saja luput dari pengamatannya.

Bahwa seorang tokoh sejarah yang memiliki nama besar dan putera puteri yang terhitung banyak sebagaimana We Tenri LElEang dapat saja memperebutkan jazadnya untuk dimakamkan pada tempatnya masing-masing.

Terlebih pula dengan Kerajaan TanEtE, sebagaimana diketahui bahwa “legitimasi” penentuan seorang Datu TanEtE salahsatunya didasari: Seberapa persen curahan darah dari PajungngE We Tenri LElEang?

Terbukti kemudian Puetta La RumpangmEgga Datu TanEtE Datui ri Lamuru Petta MatinroE ri Mutiara menunjuk langsung Puetta We Tenri OllE sebagai penggantinya di TanEtE, karena dipandangnya memiliki persentase curahan darah Datu/Pajung Luwu (We Tenri LElEang) melebihi ibundanya sendiri (Colli’ PujiE). Maka menghadirkan makam We Tenri LElEang di TanEtE adalah hal yang sangat urgent.

Mengakhiri uraian yang merupakan statement Matoa Cenrana Luwu, atasnama junjungan kami Opu TopapoataE Datu Luwu XL beserta segenap Dewan Adatnya, menghimbau kepada segenap kerabat sesama anak cucu Opu Topapoatanna PapoataE Petta MatinroE ri SorEang dimanapun berada, bahwa :

1. Bahwa media sosial adalah publik sedunia, sementara urusan letak makam Opu Topapoatanna PapoataE adalah permasalah martabat “pangadereng” yang mendahulukan “assipatangngareng” (bertukar pandangan) dalam ranah tata peradatan selayaknya.
Olehnya itu, jika hendak mendiskusikan ini, kiranya jauh lebih indah dan mulia kalau dipertemukan langsung dengan saling bertukar senyum dalam suasana kekeluargaan.

2. Bagi yang meyakini kalau letak makam beliau di SorEang (Parepare), silahkan meyakini itu dengan menziarahi dan mendo’akan arwahnya dimanapun kita berada.

Demikian pula bagi yang meyakini jika letaknya di TanEtE (Barru) silahkan menziarahinya dengan mendoakan arwahnya. Bahwa letak makam bukanlah persyaratan untuk mendo’akan arwah sesuai keyakinan iman Islam kita sekalian.

Namun hal yang pasti lebih banyak mudhoratnya jika berdebat tanpa tenggang rasa mengenai letak makam leluhur bersama dengan bersitegang sehingga mencederai hubungan silaturrahim. Maka pastilah, tidak ada manfaat bagi Almarhumah Opu Topapoatanna PapoataE beserta segenap anak turunannya dan Sejarah Sulawesi Selatan pada umumnya.

Pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 kami mengiringi YM Sripaduka Cenning Luwu Andi Bau Sitti Huzaimah Opu Daeng Ripajung, menziarahi PajungngE dan makam kecil adik kandungnya (Andi Bau’ Cella’) disampingnya, bersama pusara Gurunda Datu.

Ada rasa haru dan juga sedih yang menggelayut di hati. Beginilah nasib seorang Ratu Besar yang namanya berkilau di permukaan sejarah, dirundung sunyi memandang dari ketinggian Bukit SorEang.

Wallahu ‘alam bish-shawab (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT