Beranda Kuliner Bakso, Jajanan Paling Indonesia

Bakso, Jajanan Paling Indonesia

Bakso (foto: mfaridwm)
Bakso (foto: mfaridwm)

Oleh:  Etta Adil

Tulisan Sebelumnya:

Daya Tarik Cafe,dari Selfie hingga Galang Empati

AKRAB dengan kehidupan Orang Indonesia, familiar terdengar di telinga, mudah ditemui dimana-mana, disukai mulai dari anak-anak SD sampai Presiden. Kamu, kamu dan kamu pasti mengenal jajanan khas Indonesia satu ini, Ya, apalagi kalau bukan Bakso.

Di semua daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, boleh dibilang tidak ada yang tidak mengenal Bakso sebagai jajanan khas. Saat Ramadhan dan lebaran, Bakso seringkali menu yang tak pernah alpa, dalam acara buka puasa atau halal bihalal.

Warung bakso dapat dijumpai dimana saja, di depan sekolah, di depan kampus dan perkantoran, di depan pasar dan pertokoan, bahkan pemandangan pedagang bakso dengan gerobak bakso kelilingnya adalah suatu hal yang lumrah kita saksikan.

Untuk menikmati semangkok bakso sangat tidak membebani keuangan karena sangat sesuai dengan ukuran kantong anak sekolah dan mahasiswa.

Bakso juga hadir di Cafe dan Resto. (foto: mfaridwm)
Bakso juga hadir di Cafe dan Resto. (foto: mfaridwm)

Bagi banyak orang, Bakso boleh jadi hanya dianggap sebagai sebuah makanan jajanan. Bagi penulis, Bakso adalah penemuan kuliner paling spektakuler yang pernah ada di Indonesia dan sampai saat ini belum ada satu makanan jajanan lainnya yang bisa menandingi kehadirannya. Bakso milik Indonesia. Sampai sekarang belum ada ‘orang gila’ yang berani mengaku sebagai penemu Bakso.

Sampai sekarangpun saya juga belum pernah mendengar ada klaim etnis tertentu terhadap bakso ini, misalnya Bakso Jawa, Bakso Bugis, Bakso Makassar, Bakso Sunda, Bakso Aceh, Bakso Dayak, Bakso Papua, Bakso Bali, dan lain sebagainya.

Kalaupun ada pembedaan yang kita dengar, lihat dan rasakan maka itu hanya karena bahan dasar berbeda, seperti Bakso Sapi, Bakso Ayam, Bakso Ikan atau apapun itu, tapi intinya tetap namanya Bakso.

Masyarakat Sunda, Jawa Barat menyebut Bakso dengan Baso, tapi yang dimaksudkan itu bukan jenis baru dari Bakso. Yang dimaksud Baso ya Bakso itu juga. Belum pernah saya dengar ada yang menyebutnya, “Baso Jabar” atau “Baso Sunda”.

Penulis dan Bakso 'Mazagena'. (foto: mfaridwm)
Penulis dan Bakso ‘Mazagena’. (foto: mfaridwm)

Bandingkan dengan Coto atau Soto, tentu kita pernah mendengar Soto Banjar, Soto Madura, Soto Lamongan, Coto Makassar, dan lain sebagainya. Penamaan demikian karena Soto atau Coto tersebut khas daerah atau etnis tertentu.

Pembuat Bakso pun biasanya orang dari daerah atau etnis tersebut. Cara membuat, bumbu dan rasanya pun dari tiap-tiap soto atau coto itu berbeda-beda, kebanyakannya disesuaikan dengan lidah atau citarasa orang dari daerah atau etnis tersebut.

Sampai disini cukup jelas kalau coto atau soto sangat bersifat kedaerahan. Pedagang makanan Coto atau Soto menganut paham ‘etnisentrisme’, karena itu mungkin akan sulit menyatukan mereka dalam bingkai keindonesiaan.

Yang lebih memungkinkan adalah menyatukan para pedagang bakso se–Indonesia dalam suatu organisasi, taruhlah misalnya ‘Himpunan Pedagang Bakso Indonesia’ (HIPBI). Akh, kalau ada orang mampu menghimpun mereka dalam satu organisasi, kalau dia politisi, tentu dia tak akan kekurangan suara pada pemilu legislatif mendatang.

Bakso
Bakso jadi jajanan alternatif (foto: mfaridwm)

Ngebakso (foto: mfaridwm)
Ngebakso (foto: mfaridwm)

Pernah saya menemukan nama daerah dibelakang tulisan Bakso pada beberapa warung bakso, seperti kata Jawa Timur, disana tertulis “Warung Bakso Jawa Timur” tapi kalimat tersebut bukan berarti mengidentifikasi bahwa bakso yang dibuatnya adalah ‘bakso lain’ dari bakso kebanyakan. Kalimat tersebut mengidentifikasi ‘warung bakso’nya, dan bukan baksonya. Maksudnya warung bakso itu milik orang Jawa Timur atau berasal dari Jawa Timur.

Sampai saat ini belum ada pemilik hak paten dari Bakso. Semua orang darimanapun asal daerahnya di Indonesia ini boleh membuat bakso. Kalau anda pedagang bakso yang ‘keblinger alias gila’ mau membuat geger Indonesia, silahkan daftarkan Bakso di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk menjadi milik/hak paten anda dan laranglah orang, pedagang/pengusaha lain untuk membuat dan menjual bakso sebelum adaada ijin atau rekomendasi dari anda.

Mie Bakso (foto: mfaridwm)
Mie Bakso (foto: mfaridwm)

Tidak ada orang yang berani berbuat seperti itu khan.Bakso milik Indonesia, bukan milik etnis, daerah atau kelompok tertentu. Bakso saat ini tidak lagi menjadi konsumsi anak sekolah dan mahasiswa, karena dalam banyak perjamuan penting, misalnya dalam arisan, sunatan, reunian, perjamuan perkawinan, bahkan dalam kegiatan pemerintahan sering pula dihadirkan bakso sebagai salah satu menu penting jamuan.

Tentu bukan tanpa alasan Bakso dihadirkan dalam menu acara penting itu. Alasannya tentu karena bakso memang banyak penggemarnya, nikmat rasanya, bisa goyang lidah, praktis disantap, dan kalau anda sampai menghabiskan 5-10 biji tentu cukup mengenyangkan.

Tak banyak yang menyadari betapa fenomenalnya sebenarnya Bakso ini jauh sebelum munculnya lagu dangdut “Shabu-Shabu” yang diartikan sebagai ‘sarapan bubur’, Joshua dan Tukul telah mempopulerkan bakso ini lewat lagu anak-anak, bahkan bakso muncul pula dalam Film.

Beberapa tahun lalu pernah muncul film komedi, “Lihat Boleh Pegang Jangan” (LBPJ) yang dibintangi Dewi Persik yang berperan sebagai Anak Juragan Bakso. Film LBPJ menceritakan tentang konflik dan persaingan yang terjadi antara Warung Bakso ‘Goyang Lidah’ milik Bang Kimbul dengan Warung Bakso ‘Joget Lidah’, punya ibu Umi. Pokoknya, Bakso benar-benar telah mengindonesia di setiap sudut dan ruang.

Bakso juga pernah menjadi perbincangan warga dunia sejak Putra Nababan (RCTI) wawancara eksklusif dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang punya cerita tersendiri tentang Bakso ini karena pernah menghabiskan masa kecilnya bersekolah di Menteng, Jakarta.

Dalam wawancara itu, Obama mengungkapkan bahwa masih teringat jelas dibenaknya teriakan pedagang bakso dan sate semasa menghabiskan masa kanaknya di Jakarta. “Bakso ….. Sate ….. ”, dan jika sempat ke Jakarta tentu dia akan senang sekali jika dapat menikmatinya kembali.

Dan Alhasil, ketika Presiden negara superpower tersebut bertandang ke Jakarta, hasratnya pun terpenuhi karena dalam jamuan kenegaraan di Istana Negara itu dihadirkan Bakso dan Sate dihadapannya.

Baksopun mendunia karena dikenal oleh orang nomor satu di negeri Paman Sam tersebut. Anda tak perlu jauh-jauh mencari apa yang paling Indonesia. Dari dahulu sampai sekarang, dari desa sampai ke kota, semua orang tahu. Soal kuliner, Baksolah jajanan paling Indonesia. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...