Beranda Sosial Budaya Kearifan Lokal Bahasa dan Kearifan Lokal Nene' Ciong

Bahasa dan Kearifan Lokal Nene’ Ciong

Nene' Ciong. (foto: mfaridwm)
Nene’ Ciong. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – NENE’ Ciong memanglah telah tiada, namun sangat berkesan bagi penulis tentang bahasa dan kearifan lokal yang pernah dituturkannya. Beliau orang yang mengajari penulis pertamakali main kecapi (kacaping).

Entah bagaimana awalnya lelaki paruh baya ini dipanggil Nene’ Ciong, penulis tidak tahu. Sejak kapan dia dipanggil demikian, pun penulis tidak tahu. Yang jelas, dia bukanlah orang China atau Cina keturunan. Nene’ Ciong adalah orang gunung, berasal dari sebuah kampung bernama Tondongkura di Kecamatan pegunungan, Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Nene’ Ciong bukanlah orang penting bagi sebagian besar orang disekelilingnya, bahkan kadang diacuhkan tetapi tidak bagi penulis yang melihatnya sebagai tempat belajar, khususnya terkait “kearifan lokal” dan “bahasa aneh” yang dituturkannya.

Penulis mengenal Nene’ Ciong sejak memutuskan tinggal di suatu lingkungan sekolah berasrama dimana Nene’ Ciong bekerja sebagai petugas kebersihan, tepatnya di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep.

Nene' Ciong. (foto: mfaridwm)
Nene’ Ciong. (foto: mfaridwm)

Saban hari saat istirahat dari pekerjaannya, seringkali penulis memanggilnya untuk ngopi dan cerita bersama di teras rumah tentang berbagai hal.

Saat cerita itulah, banyak sekali penulis dengar kosakata Bahasa Makassar yang bukan pasaran, suatu bahasa tutur khas orang gunung.  Penulis mengidentifikasinya sebagai  Bahasa Makassar “Konjo Pegunungan”, beberapa diantara kosa kata itu bahkan ada kesamaan dengan bahasa tutur Komunitas Ammatoa Kajang di Kabupaten Bulukumba.

Nene’ Ciong adalah seorang lelaki tua— yang mungkin karena faktor pendidikan formal tidak pernah dialaminya—yang tidak tahu berapa umurnya.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa di kalangan masyarakat Bugis Makassar, kata “nenek” adalah kata yang lazim dipakai untuk menyebut nenek dan kakek ataupun kepada orang yang sudah sangat tua umurnya.

Penyebutan “kakek” tidak lazim, jadi meskipun sebenarnya ia “kakek” dalam arti sebenarnya tetap saja ia dipanggil nenek atau “puang nenek” (kalau keturunan bangsawan).

Meskipun terkebelakang pemikirannya, hebatnya Nene’ Ciong bisa adaptif terhadap lingkungan barunya dimana dia bekerja padahal sebelumnya ia puluhan tahun tinggal tidak jauh dari kaki Gunung Bulusaraung, yang dilihatnya hanya pepohonan, gunung dan hutan.

Satu kesyukuran tersendiri penulis bisa tinggal se-lingkungan dengan Nene’ Ciong.  Jika ada teman yang datang bertamu ke rumah, penulis dengan bangga akan menunjuk Nene’ Ciong sebagai ‘bukti hidup’ Bahasa Makassar Konjo Pegunungan.

Nene' Ciong semasa hidupnya mengabdikan dirinya bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu pesantren di Minasatene Pangkep. (foto: mfaridwm)
Nene’ Ciong semasa hidupnya mengabdikan dirinya bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu pesantren di Minasatene Pangkep. (foto: mfaridwm)

Suatu waktu ada orang pulau datang bertamu ke rumah dan penulis menerimanya bersama Nene’ Ciong yang sementara ngopi di rumah.

Senang sekali rasanya dapat menyaksikan dua Bahasa Makassar ‘bersanding’ di depan penulis, Bahasa Makassar Konjo Pegunungan dan Bahasa Makassar Konjo Pesisir.

Dua kosakata dan pesan yang seringkali penulis dengar langsung dari Nene’ Ciong adalah Ere’ dan Lingka-lingka (jalan-jalan) mengingatkanku pada kearifan lokal Orang Kajang. “Ako nupa’lolori ere ri annunggayya”. (Jangan mengalirkan air ke ketinggian).

Kosakata, bahasa tutur dan pesan yang sama, bermakna sebuah anjuran atau peringatan agar jangan melakukan perbuatan sia-sia dalam hidup, yang bisa merugikan diri sendiri, orang lain dan orang banyak.

Kata “Ere” disini bermakna air, sedangkan Annunggayya merujuk kepada ketinggian. Untuk kata tinggi, Nene’ Ciong lebih sering menyebutnya “Tondong”. Misalnya, Tondong Tallasa, bisa dimaknai kehidupan yang ada di ketinggian (pegunungan) atau Ere’ Tallasa’ yang dimaknai air yang menghidupkan.

Pesan lainnya, “Ako appadai tummue’ parring” (Jangan seperti orang membelah bambu), suatu anjuran untuk berbuat dan berlaku adil, tidak seperti orang membelah bambu, bagian atasnya diangkat sedang bagian bawahnya diinjak.

Suatu pesan yang sarat makna dari “orang gunung”, meskipun bagi orang kota, belah bambu saat ini dimaknai sebagai upaya proses pemilihan dan pemilahan “bambu” yang kualitasnya baik.

Interpretasi yang berbeda sekedar untuk menggambarkan betapa banyak kelicikan yang bisa muncul dari setiap proses hidup yang kita jalani, dibaca oleh orang gunung sebagai “politisasi” dalam bahasa modern, sebut saja namanya “politik belah bambu”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT