Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – KABUPATEN Pangkep adalah surga bagi penikmat wisata alam. Dari pegunungan, dataran rendah, sampai di wilayah kepulauannya, bertebaran pesona dan eksotisme alam yang tiada duanya.
Keindahan tropis yang mengundang decak kagum, dari bentangan persawahan sejauh mata memandang, air terjun sepanjang musim, kekokohan pegunungan karst yang telah melewati terpaan jaman purba, sampai gua-gua prasejarah yang tetap setia menyampaikan pesan masa lalu.

Meski banyak potensi alam yang bisa dieksplorasi menjadi destinasi wisata, Pemerintah setempat nampaknya abai dalam melakukan pembenahan.
Baruttung misalnya, dibiarkan terbengkalai tanpa sentuhan perbaikan dan pembenahan. Bahkan tanpa plang nama sekalipun. Penulis yakin bahwa dengan sentuhan sedikit kreatifitas saja, Baruttung akan menjadi obyek wisata alam yang seramai Bantimurung di Kabupaten Maros.

Baruttung merupakan lokasi permandian alam yang terletak di Dusun Parang Lombasa, Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa. Lokasinya terbilang jauh karena berada di wilayah pegunungan, sekitar 35 km dari Kota Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep. Bisa lewat Kecamatan Bungoro atau Kecamatan Minasatene menuju jalur jalan poros Desa Mangilu, Desa Bulu Tellue, Desa Malaka, dan akhirnya sampai di Desa Bantimurung.
Saat ini akses jalan menuju Bantimurung Tondong Tallasa cukup bagus, meski tetap penuh tantangan karena menanjak dan berliku. Meski begitu para pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam indah yang seperti tidak ada habis-habisnya sampai di Lokasi Permandian Alam Baruttung.

Baruttung dapat dicapai dengan perjalanan kurang lebih satu jam. Untuk pendatang baru, sebaiknya bertanya ke penduduk setempat yang ditemui di jalan mengenai lokasi permandian Baruttung.
Tak ada tanda-tanda dari luar, papan nama dan petunjuk lokasi yang terpasang di pinggir kelokan jalan Bantimurung. Jika tak bertanya, para pendatang baru bisa-bisa sampai di desa berikutnya, Tondongkura.

Bagi pengunjung yang sudah akrab dengan lokasi Baruttung, malahan sejak tiba di gerbang lokasi permandian alam Baruttung, suara derasnya aliran sungai sudah terdengar.
Setelah melewati jalan setapak dan undakan-undakan, akhirnya akan sampai ke pinggir sungai yang berair jernih dan sejuk dengan profil bebatuan berlapis-lapis yang menjadi ciri khasnya.
Jika sudah sampai di lokasi, maka terasa perjalanan berat yang telah dilalui seketika hilang bersama segarnya air Baruttung dan kesejukan berada di tempat indah itu.


Para pengunjung bisa menciduk air sungai dan membasuh muka sampai mandi-mandi. Aliran air Baruttung yang cukup deras serta bertebarannya kolam-kolam permandian yang kedalamannya bervariasi membuat pengunjung memiliki banyak pilihan spot melepas lelah atau berselfie ria.
Para pengunjung bisa memilih berenang di berbagai jenis kedalaman kolam alami, baik orang dewasa maupun anak-anak. Umumnya Baruttung akan ramai di hari libur, Sabtu dan Ahad. Pengunjung didominasi kalangan pelajar atau remaja.

Nuansa dan panorama alam Baruttung memiliki kekhasan sendiri sebagai obyek wisata alternatif bagi keluarga pada hari libur. Lokasi permandian ini menyatu dengan kawasan hutan sehingga menambah sejuk dan tenteramnya suasana Baruttung.
Begitupun dengan bebatuan sungai yang menyerupai hasil pahatan. Bebatuan tersebut laksana diukir membentuk lipatan dan lapisan, layaknya kue lapis dengan aliran air deras dibawahnya, sungguh akan mengundang decak kagum para penikmat fotografi.
Bagi fotografer, akan dengan mudah menemukan berbagai jenis burung dan kupu-kupu beterbangan dalam lokasi sebagai obyek foto. Baruttung selalu punya pesona tersendiri dalam bidikan kamera fotografer profesional ataupun dalam sentuhan narzis bidikan amatir kamera ponsel travelers.

Para pengunjung tentu saja bisa membawa bekal makanan dan minuman ke lokasi ini, karena tidak adanya penjual di luar, apalagi dalam lokasi Baruttung. Obyek potensi rekreasi Baruttung ini belum dikelola oleh pemerintah setempat sehingga untuk menikmatinya, semuanya masih gratis.
Karena itu penulis menyarankan agar setiap pengunjung tetap menjaga kebersihan dan keasrian lokasi Baruttung, khususnya sampah makanan dan botol minuman.
Terakhir, Penulis menyarankan agar ke Baruttung pada saat cuaca sedang baik. Biasanya saat musim hujan, airnya menjadi keruh, arus sungai sangat deras dan bebatuan licin sehingga sangat berbahaya bagi anak-anak. (*)


