Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Tulisan sebelumnya: Menyoal Penggunaan Kata “Membonceng”
PALONTARAQ.ID – MEMAKNAI kata “rasa” dalam Bahasa Indonesia ternyata akan membawa kita pada keganjilan dalam pengucapannya, pada kata merasa, terasa dan serasa. Pasalnya, kata “rasa” memiliki pemaknaan “logika” yang tidak terserap secara utuh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
“Rasa” artinya: 1) “tanggapan indra terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa”, 2) “apa yang dialami oleh badan”, 3) “sifat rasa suatu benda”, 4) “tanggapan hati terhadap sesuatu (indra)”, 5) “pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar”.
Itu “rasa”, bagaimana dengan kata “merasa”, “terasa”, dan “serasa”. Dalam KBBI disebut bahwa “merasa” berarti: 1) “mengalami rangsangan yang mengenai (menyentuh) indra (seperti yang dialami lidah, kulit, atau badan)”, 2) “mengalami rasa di hati (batin)”, sedang “terasa” berarti “dapat dirasa(i); sudah dirasa(i); berasa dengan tiba-tiba”, serta “serasa” berarti “sama rasanya dengan; seakan-akan; seolah-olah”.


Sekilas tampak bahwa perbedaan itu sudah jelas, tapi di sisi lain, “merasa” itu juga dapat bermakna “mengakui sesuatu yang tidak sama atau lain”, misalnya “saya merasa perempuan …” (artinya saya bukan perempuan) atau “saya merasa kaya” (saya tidak kaya) yang hanya berbentuk “pembanding” atas “sesuatu yang dirasakan”. Bagaimana dengan kalimat, “Maaf, saya hanya merasa pintar mengajak berbagi”.
“Serasa” pada pemaknaan lain, adalah “sirih”. Di jalur “rasa”, kata ini (serasa) hampir sama artinya dari era KUBI hingga KBBI terakhir. Hanya saja, “serasa” (se-rasa) sebenarnya dapat juga berarti “satu rasa”.
Jika memang benar “satu rasa”, bagaimana mungkin bisa sama jika makna sebenarnya “seakan-akan” dan “seolah-olah”, walau telah ditegaskan “sama rasanya dengan”. Apalagi jika “serasa” itu ditenggerkan pada kalimat yang justru berarti “terasa” yang dapat dirasakan secara tiba-tiba.
Hal ini pernah diungkapkan Penulis kawakan asal Pangkep, Asdar Muis RMS (almarhum), yang mencontohkan penggunaan kalimat yang dirasanya adalah “terasa” tetapi tertulis “serasa”.
Dicontohkannya, seperti pada tembang “Sabda Alam” yang dinyanyikan Chrisye: “Serasa pagi tersenyum mesra …”. Mestinya “serasa” di tembang ini adalah “terasa”.
Begitu pula pada banyak tulisan di koran yang tak dapat membedakan “serasa” dengan “terasa”. Misalnya dituliskan “serasa berada di kampung halaman …” yang sangat jelas “beda rasa” tetapi hanya “terasa”.
Demikian, semoga bermanfaat adanya. (*)


