Oleh: Santo Saba Piliang *)
PALONTARAQ.ID – Mari berfikir cerdas dan simak kajian akademik ini: Bahwa leluhur kitalah yang mewarnai tanah India dan Tibet di pelopori oleh Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna beliau belajar di Nusantara…
Atiśa Dīpaṃkara, bukan membawa ajaran Buddhism lalu di sebarkan ke Nusantara dan Palembang bukan pusat ajaran Buddha terdahulu, begitu juga Borobudur tidak berdasar ajaran yang terlahir di india
Simak ini: Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna, asal Tibet pergi ke Svarnadvipa Indonesia terdahulu untuk belajar Palsafah dasar utama leluhur kita yaitu “Dharmic Original “…ini lah “Dharma/Dhamma” Palsafah Leluhur bangsa Nusantara…yang mewarnai india juga Tibet
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna was born into royalty,His father was a king known as Kalyana Shri and his mother was Shri Prabhavati , ia melakukan perjalanan ke Nusantara Svarnadvipa tinggal selama 12 tahun disini lalu kembali ke India, Meninggal di Nyêtang,Tibet
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna adalah Nama asli, nama lain nya Otish dipônkorsriggan tokoh penyebaran Mahayana dan Vajrayana gelombang kedua ke Tibet abad ke-11 , Terlahir dari Prabhabati Devi & Srikalyan di tahun 980 Masehi
Pada tahun 1013 M, Atisha melakukan perjalanan bersama 125 orang berlayar mengarungi samudera dan badai menuju daerah yang di sebut “Bhoga” sebuah negri yang pada waktu tertentu jika matahari tepat di atas kepala menghasilkan efek “Tanpa Bayangan” adalah equinox, hanya ada di situs muara takus bukan Palembang atau Srilangka
Dari 21 pemuda yang dikirim hampir semuanya meninggal dalam perjalanan dan hanya tertinggal 2 pemuda Rinchen-Zangpo dan Legshay yang sudah menguasai bahasa Sanskerta, sepulang nya dua pemuda tersebut menyampaikan kepada raja bahwa yang tepat mengajar di Tibet adalah Atisha
Yeshe-O, Guru master dari Tibet barat mengirim Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna pergi ke Svarnadvipa, untuk mempelajari dan menerjemahkan beberapa teks sanskerta
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna tinggal selama 12 tahun di Nusantara Svarnadvipa belajar kepada Guru Besar bernama “Serlingpa Dharmakirti” atau Svarnadvipa Dharmakirti, kembali ke negrinya mengajar di Tibet selama 3 tahun dan wafat thn 1054 di Nyêtang, Tibet
Atiśa, adalah tokoh kunci dalam pendirian Mahayana Tibet, dia menghidupkan Vajrayana di Tibet, Atiśa ditahbiskan ke dalam silsilah Mahasamghika pada usia 28 oleh Abbas Śīlarakṣita ia telah mempelajari hampir semua ke ilmuan Buddhism dan non-Buddhis pada masanya, termasuk keilmuwan Veda ajaran-ajaran Wisnu, Siwa
Pertemuan Atiśa Dīpaṃkara Śrījñān dengan Guru Suvarnadvipa Dharmakirti, di Sumatra Indonesia masa lalu,…..Utusan tamu menghadap dan berkata :
…“Mohon dengarkanlah kami,..O Guru yang Mulia…hari ini telah tiba …Dipamkara Shri Jnana dengan 102 pengikut Mengarungi samudera luas selama 14 bulan….Kini ia ingin bertemu dengan Guru….
Guru Suvarnadvipa Dharmakirti menjawab :
“Alangkah mulianya, penguasa bumi telah datang..
Alangkah mulianya, putra sang raja telah datang..
Alangkah mulianya, tuan semua telah datang…
Alangkah mulianya, pahlawan mulia telah datang…
Alangkah mulianya, dia telah tiba dengan pengikutnya…
Alangkah mulianya, telah mengatasi semua rintangan…
Alangkah mulianya, dia telah datang dengan tulus hati…
O…para murid, kenakanlah jubahmu dan siapkan salam untuk Yang Mulia ”
Dari kejauhan rombongan Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna sangat terkesan,Tak lama kemudian,535 orang membawa 3 jubah dengan membawa kendi air suci, Diiringi oleh 62 samanera dipimpin oleh Guru Dharmakirti Suvarnadvipa sendiri, rombongan mereka yang telah ditahbiskan 597 orang…
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna dan rombongannya spontan melakukan ‘Namaskara’ penuh menyambut Guru Dharmakirti Suvarnadvipa dan sebaliknya rombongan Guru Dharmakirti Suvarnadvipa pun melakukan namaskara…
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna mempersembahkan banyak permata dan emas, Para pengikut nya juga mempersembahkan satu koin emas untuk masing-masing siswa nya Guru Dharmakirti Suvarnadvipa
Guru Dharmakiti Suvarnadvipa mempersembahkan “Buddharupang” untuk Dipamkara dan ia menetap di Istana Payung Perak di Suvarnadvipa selama 12 tahun, Selama disini ia tidur di lantai, di ujung kaki tempat tidur gurunya sebagai tanda penghormatan murid kepada guru
Suvarnadvipa Dharmakirti, lahir dari keluarga brahmin pada tahun 610 SM sampai dengan – 520 SM di Sumatra, Dharmakirti adalah keponakan Kumarila Bhatta I 618-540 SM, Hidup pada Sistem ke keluargaan “Materenial” Kadatuan, inilah guru dari Atisha Dipamkhara asal Tibet yang belajar di sini 12 tahun dan kembali ke negrinya mengembangkan ajaran leluhur nusantara disana
Suvarnadvipi Dharmakīrti sarjana keturunan leluhur yang kini terpublikasi dengan “Sriwijaya” dahulu bernama “Indo dunia”, lahir di Suvarnadvipa di sini dia melakukan proses pendidikan dan pembelajaran utama nya “Dharmic” dan sains lain nya dari para master tingkat tinggi nya
Sebelum Dignaga meninggal Dharmakirti menerima penahbisan dari nya, Dia adalah murid tokoh Dharmapala saat ia masih hidup, Dharmapala 670-580 SM lahir dalam keluarga bangsawan berasal dari Svarnadvipa, Dia adalah murid Dharmadasa, menjadi pimpinan Nalanda bihar india, Dia adalah guru Dharmakirti
Selama masa Dharmakirti, Adi Sankara tahun 569-537 SM dalam sidang akademik pernah mengalahkan pendapat baru tentang “Dharmic” yaitu tinjauan baru Filisofis “Buddhism” di forum perdebatan para sarjana, Dia adalah salah satu pencetus pemikiran “Logika filosofis”, juga ahli teori ilmu yang utama “Atomisme” yang menyatakan bahwa satu-satunya benda yang dianggap “Ada” adalah keadaan Kesadaran Sesaat
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna ia telah berguru ke 157 guru, namun setiap kali ia mendengar nama Guru Dharmakirti Suvarnadvipa kontan mengalir air matanya..
Perhatikan catatan peziarah Tiongkok yang lainnya yang belajar ke Nusantara bukan membawa “Buddhism” lalu di sebarkan ke sini :
Pada tahun 399-414 M Fa-Huan dalam perjalanan di svarnadvipa mencatat…mengikuti sungai Po-Nai (adalah sungai Pana’i,kampar) ..di tempat “di mana para pelajar pernah tinggal di situ dan melakukan gerakan… “berjalan berputar”…_mengelilingi “Tope”/Stupa juga 4 guru duduk di 4 sudut, di tempat ini “Menara”…telah didirikan…( Pradaksina/Prasawiya/Tawaf di “Muara Takus”)
Sung Yun 518-521 M mencatat adanya kekuasaan yang di sebut nya “Śaka kṣatrapas” dari indentifikasi koin di duga telah ada sekitar tahun 225 M dengan gambar “Tope” atau stupa Muara Takus
Pada tahun 602 – 664 M,Hieun-Tsang,mencatat apa yang di lihat nya di svarnadvipa …di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya…di dekat ini ada tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari….
..di tempat para imam, Ada “Sangharama” yang dibangun, di sini mereka membuat menara untuk menghormati “Sariputra” , Mudgalaputra, juga untuk menghormati Abhidharma , Vinaya dan Sutra..
..inilah lokasi yang di kunjungi Fa-Hien thn 399-414 M dan Hieun-Tsang 602 – 664 M, dilokasi tempat Atiśa Dīpaṃkara belajar, mencatat dan membawa pulang ajaran leluhur Nusantara ke negrinya
..di sebelah timur ada saṅghārāma dan di tengah-tengah hutan āmra adalah tembok fondasi tua, ini adalah tempat Bodhisattva Asa Asga menyusun śāstra yang disebut Hin-yang-shing-kiau…
…sebelah barat daya kota 8 atau 9 li adalah sebuah batu yang berdiam di Nāga…Tathāgata meninggalkan bayangannya di sini, ini adalah tradisi,tidak ada sisa bayangan yang terlihat….
…di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya di dekat ini adalah tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari dan juga stupa, para murid yang menderita penyakit, dengan berdoa di sini kebanyakan disembuhkan…
…hukum śākya menjadi punah, ini akan menjadi wilayah terakhir di mana ia akan bertahan, oleh karena itu dari yang tertinggi ke yang terendah semua yang memasuki perbatasan wilayah ini sangat terharu bahkan sampai menangis, sebelum mereka kembali…
…di sebelah timur laut tempat tinggal Nāga adalah hutan yang luas, setelah melewati sekitar 700 li, kami menyeberangi Sungai… dan menuju ke utara kami tiba di kota Kia-she-pu-lo (Kaśapura)…kota ini luas nya 10 li penghuninya kaya dan bahagia…
…di sisi kota adalah saṅghārāma tua, yang ada dinding pondasinya saja …di sinilah Dharmapāla Bodhisattva membantah argumen para bidat…
..di tempat para imam, Ada “Sangharama” yang dibangun, di sini mereka membuat menara untuk menghormati “Sariputra” , Mudgalaputra, juga untuk menghormati Abhidharma , Vinaya dan Sutra..
…dari selatan kota melanjutkan ke selatan 4 li, kami memasuki sebuah lembah yang terletak di antara 5 bukit, melingkari sepenuhnya seperti tem bok,Ini adalah situs kota lama Raja “P’in-p’o-so-lo”….
..perhatikan kata pada tulisan catatan yang di maksud nya…
…Tathāgata meninggalkan bayangannya di sini, ini adalah tradisi tidak ada sisa bayangan yang terlihat….lokasi yang di maksud Hieun-Tsang adalah “Equinox” hanya ada di situs Muara takus…
…stupa 200 kaki tingginya di dekat ini adalah tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari,….adalah situs “Muara Takus” di mana para brahman melakukan ritual “Pradaksina/Prasawiya/Tawaf” gerakan suci memutari objek..
Dalam teks pasca-Veda,Mahabharata Udyoga Parva (108) : “Timur” digambarkan sebagai tanah air asal budaya “Veda”, di mana “Pencipta” alam semesta pertama kali menyanyikan “Veda”..
….”Timur” adalah Nusantara Indonesia terdahulu,lokasi dimana “Ajaran” awal sebelum “Veda” di tuliskan di India…
Kapan siapa dan dimana “Misionaris india” yang datang dan masuk ke pelosok pelosok negri, hingga semua candi di sebut berdasar ajaran yang terlahir dari india..?
Tapi leluhur kitalah yang pergi keluar nusantara membawa ajarannya “Dharma” dan di luar nusantara berkembang mendasari lahirnya ajaran lain yang kini ajaran itu di “labelkan” di candi nusantara…
Leluhur bangsa Indonesia terdahulu para “Brahman” disebut oleh sejarawan eropa sebagai “Brahmanism” sebelum “Veda” di tuliskan mereka adalah kaum Saka para Aryan membawa ajaran nya “Dharmic Original” ke luar Nusantara mendasari lahirnya Buddhism, Hinduism dan Jainsm jauh sebelum nama nama yang tercatat di bawah ini pembawa “Dharma” ke tanah india yaitu :
Dharmadasa 700-620 SM
Dharmapala 670-580 SM
Sañjaya Belaṭṭhaputta 6 SM
Sariputra 568-484 SM
Svarnadvipa Dharmakirti 610 SM – 520 SM (ada 2 nama dalam masa berbeda)
Kumarila Bhatta I 618-540 SM
Adi Sankara 569-537 SM
Çhri Janaýasã – Dhapunta Hyam 5515 SM
Sangharama pusat pembelajaran “Dharma” di Svarnadvipa, bernama “Dharma Phala”, Raja Pala Silsilah Syailendra Balaputradewa Svarnadvipa, membangun cabang di Bihar india “Nalanda” 427 M, Sangharama Maha Tupa di Javadvipa Vhwănā Çhaķâ Phalā kini terpublikasi bernama Borobudur
Area “Situs Muara Takus”, di sini pernah berdiri pusat belajar Palsafah Dasar Utama
Dharmic Original “Dharma/Dhamma” yang tergambar di Borobudur dan tersimpan sempurna di Bali, juga semua situs tidak berdasar pada salah satu dari 2 Agama lndia tapi mendasari tumbuh nya 3 Agama di tanah india juga Tibet
Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna tinggal dan belajar selama 12 tahun disini
di svarnadvipa sumatra Indonesia di pusat pembelajaran “Dharmic” Original, yang tergambar di Borobudur dan hingga kini tersimpan baik di Bali
Leluhur kitalah yang mewarnai tanah India dan Tibet di pelopori oleh Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna leluhur “Dalai lama” yang belajar di Nusantara…..ini fakta sejarah
(* Santo Saba Piliang, Revicionist History/Penggagas Exploration & Research INDONËSIARYĀ – True Back History of Indonesia


