Beranda Humaniora Bersemedi dan Berlari Mencari Kata: In Memoriam Asdar Muis RMS

Bersemedi dan Berlari Mencari Kata: In Memoriam Asdar Muis RMS

Foto Kenangan bersama Asdar Muis RMS (alm)
Foto Kenangan bersama Asdar Muis RMS (alm). (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – BANYAK Orang yang mengenal sosok Asdar Muis RMS, tapi sedikit diantaranya yang benar-benar mengenalnya, khususnya dalam hal mengolah kreatifitas kepenulisan yang telah lama digilainya. Pemburu ikan segar di Pelabuhan Paotere Makassar dan Pasar Pangkajene-Pangkep ini adalah seniman multi talenta.

Asdar Muis RMS adalah seniman dalam kehidupannya, bukan hanya seniman diatas panggung tapi keseluruhan ruang hidup yang dijalaninya adalah panggung baginya.

Asdar Muis RMS bisa pentas dimana saja, di rumahnya, di empang, di tanah kosong depan rumahnya, di pinggir sungai, di atas kapal menuju pulau, di tempat pelelangan ikan, di pinggir jalan, di teras rumah teman dan sahabatnya, di aula sekolah, terlebih di gedung kesenian.

Pentas yang dilakukannya bahkan terkadang tidak membutuhkan alasan, timbul begitu saja, dan bahkan sekalipun itu membangungkan orang saat tengah malam.

Penulis mendampingi Asdar Muis RMS membacakan esai di depan ratusan santri/siswi. (foto: ist/palontaraq)
Penulis mendampingi Asdar Muis RMS membacakan esai di depan ratusan santri/siswi. (foto: ist/palontaraq)

Asdar Muis RMS adalah seniman kata-kata. Ia lebih dari sekadar penulis. Asdar Muis RMS adalah pengusaha kata-kata. Satu kata baginya, terlebih jika kata itu menjadi bagian dari kalimat “judul buku” maka ia tak ternilai. Karena tak ternilai maka satu kata itu harus ‘dihargai’ lebih dari yang tak pernah terpikirkan orang sebelumnya.

Baginya satu-dua-tiga kata bisa saja dihargai ratusan juta sebagai ‘nilai’ yang harus terbayarkan. Kata itu adalah bagian dari perenungan dan semedinya dalam menemukan judul, dan itu berarti menjadi bagian kontemplasi dari isi buku yang disusunnya.

Asdar Muis RMS adalah pertapa dalam ruang ide yang didiaminya. Ruang Ide itu bisa di kamar hotel, bisa di pinggir jalan setelah menghabiskan sepiring gudeq di Angkringan Malioboro, bisa juga di warung kopi, dan kebanyakannya di ruang maya setelah berpuas diri ‘memaki’ banyak orang yang ditemaninya chating.

Menuntaskan Tulisan dimana saja, di warung kaki lima sekalipun. (foto: ist/palontaraq)
Menuntaskan Tulisan dimana saja, di warung kaki lima sekalipun. (foto: ist/palontaraq)

Di sisi lain, Asdar Muis RMS adalah teman, kakak, dan sahabat yang hangat. Ia guru menulis yang selalu mentraktir murid-muridnya. Kawan-kawan jurnalis dari Jakarta seringkali mengandalkannya sebagai pengantar dan tempat bertanya di wilayah liputan jika meliput ke Makassar.

Asdar Muis RMS adalah sufi sosial dalam kritik dan makiannya. Ia sangat bangga bercerita tentang Pangkep, kampung halaman yang merekam jejak kenakalan dan kepolosan jiwa kanaknya.

Menurutnya, menulis adalah salah satu talenta kebudayaan orang Pangkep. Tiga tahun terakhir sebelum menghabiskan masa ‘kegilaannya’ hidup di dunia, Asdar Muis RMS lebih intens mengunjungi kampung halamannya mencari, menemu-kenali pewarisnya sebagai penulis, seniman, sastrawan, dan pemerhati budaya.

Kebersamaan dengan Asdar Muis RMS. (foto: ist/palontaraq)
Kebersamaan dengan Asdar Muis RMS. (foto: ist/palontaraq)

Saya termasuk orang yang sering dikritik dan dimakinya, dan saya menemukan dirinya kelelahan sendiri mendidik kami bertadarrus sastra meski seorang Asdar Muis RMS tak pernah kehabisan akal dan semangat.

Sangat sukar untuk mewarisi keahliannya, terutama karena saya dan beberapa kawan sudah sampai di ujung pemikiran, Kami takkan pernah bisa ‘segila’ dia.

Ya, Kami takkan pernah bisa mewarisi ‘kegilaannya’, kegilaan seorang yang lebih senang ‘berpikir’ disebut sebagai pekerjaannya. Satu tahun terakhir hidupnya, kak Asdar-begitu biasanya saya memanggilnya-membocorkan rahasia kepiawaiannya menulis dan memulung kata. Katanya, dengan bersemedi. Ya, dengan bersemedi.

Menurutnya, saat mencoba menelusuri perjalanan hidup seseorang dalam bentuk penyusunan buku biografi, ia seringkali bersemedi untuk menemukan rangkaian cerita dalam hidup seseorang.

Kegiatannya ‘bersemedi’ itu lebih intens dilakukannya saat nara sumber yang harusnya bercerita telah tiada dan nara sumber yang telah meninggal itu akan dia ‘panggil’ rohnya untuk diwawancarainya.

Boleh percaya atau tidak, itulah kekuatan imajinasi seorang Asdar Muis RMS. Kekuatan yang tidak hanya mewarnai karya esainya yang bisa dipentaskan, tapi juga kekuatan kegilaan yang memperindah ruang sastra dan panggung seninya.

Penulis termasuk yang terlambat menyadari bahwa semangatnya untuk menghadiri pemakaman dan takziyah teman, sahabat, kerabat serta kenalannya adalah kegilaannya yang lain.

Hampir tak pernah ada pemakaman yang tidak dihadirinya. Tak ada acara takziyah yang tak dihadirinya, asalkan dia tahu dan diberi tahu maka sekalipun dirinya sendiri diliputi sakit dan penyakit, dia akan berusaha hadir.

Ternyata itu satu ‘kegilaan’ tersendiri yang sedikit diantara teman dan sahabatnya yang menyadarinya, sekalipun ayat-ayat kematiannya telah dituliskannya sangat jelas dalam bentuk sajak berseri “Menuju Tepi tak Berujung”.

Asdar Muis RMS bukan hanya berlari mencari kata, tapi berjalan dengan pasti mencari Tuhannya. Ia dengan sangat indah melantungkan ayat-ayat penghambaan dan kehinaan dirinya dihadapan Tuhan dalam bentuk sajak, bahwa kematian adalah keniscayaan yang tak mungkin dapat ditolak.

Kematian pasti datang, dan Asdar Muis termasuk salah seorang yang diberikan waktu ‘bermain kata’ oleh Tuhan untuk mengabarkan kematiannya. Meski hanya sedikit orang dekatnya yang menyadarinya.

Selamat Jalan Kak Asdar, syairmu abadi meninggalkan jejak pertobatan. Semoga kasih Tuhan senantiasa memelukmu di alam sana. (*)

 

Pangkep, 8 Mei 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT