BerandaIslamRamadan28 Ramadhan: Saksi Bisu Kemenangan Strategis dan Ekspansi Peradaban Islam

28 Ramadhan: Saksi Bisu Kemenangan Strategis dan Ekspansi Peradaban Islam

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Bulan Ramadhan dalam lintasan sejarah Islam bukanlah masa untuk beristirahat atau sekadar menarik diri dari hiruk-pikuk dunia. Sebaliknya, Ramadhan sering kali menjadi bulan “aksi” di mana keputusan-keputusan besar diambil dan pertempuran-pertempuran penentu dimenangkan. Tanggal 28 Ramadhan secara khusus mencatat tinta emas dalam sejarah ekspansi Islam ke Eropa dan konsolidasi kekuatan di Afrika.

1. Peristiwa Besar: Pendaratan Thariq bin Ziyad di Andalusia (92 H)

Salah satu tonggak sejarah paling fenomenal yang terjadi pada 28 Ramadhan tahun 92 Hijriah (711 M) adalah pendaratan pasukan Muslim di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad di pantai selatan Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol dan Portugal).

Pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah, wilayah Afrika Utara telah stabil di bawah kepemimpinan gubernur Musa bin Nushair. Panggilan bantuan datang dari Julian, penguasa Ceuta, yang merasa terzalimi oleh Raja Roderick (Rodericus) dari kaum Visigoth yang memerintah Spanyol dengan tangan besi.

Thariq bin Ziyad membawa sekitar 7.000 hingga 12.000 pasukan melintasi selat yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar (berasal dari Jabal Thariq atau Gunung Thariq). Pendaratan ini terjadi di penghujung Ramadhan, sebuah momen di mana pasukan sedang dalam kondisi spiritualitas tertinggi namun secara fisik diuji oleh lapar dan haus.

Ada sebuah riwayat populer (meski diperdebatkan validitas sejarahnya oleh sebagian sejarawan modern, namun kuat secara simbolis) bahwa Thariq memerintahkan pembakaran kapal-kapal mereka setelah mendarat. Ia berpidato: “Wahai pasukan, ke mana kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut, dan di depan kalian ada musuh.” Peristiwa ini pada 28 Ramadhan menandai dimulainya era keemasan Islam di Andalusia yang berlangsung selama hampir 800 tahun.

2. Penaklukan Wilayah-Wilayah di Afrika Utara

Selain Andalusia, tanggal 28 Ramadhan juga sering dikaitkan dengan penyelesaian berbagai ekspedisi di wilayah Maghrib (Maroko dan sekitarnya). Pada tanggal ini, konsolidasi kekuatan antara suku-suku Berber lokal dengan tentara Arab mencapai titik temu. Islam tidak lagi dianggap sebagai agama penjajah, melainkan agama pembebas yang membawa keadilan sosial.

Keberhasilan di tanggal 28 Ramadhan ini menjadi “pintu pembuka” bagi tersebarnya ilmu pengetahuan ke Eropa melalui jalur Spanyol, yang nantinya memicu era Renaissance di Barat.

3. Dinamika Militer di Masa Dinasti Abbasiyah dan Utsmaniyah

Dalam catatan sejarah yang lebih luas, 28 Ramadhan juga menjadi tanggal di mana beberapa pengepungan benteng penting di wilayah perbatasan Bizantium diselesaikan. Tentara Islam sering kali meningkatkan intensitas serangan di akhir Ramadhan karena keyakinan bahwa doa-doa mereka di malam-malam ganjil dan genap terakhir akan membantu menjatuhkan benteng musuh yang paling kuat sekalipun.

***

Mengapa peristiwa-peristiwa besar ini terjadi di penghujung Ramadhan? Secara logika manusia, bertempur di bawah terik matahari dalam keadaan berpuasa pada hari ke-28 (saat energi fisik biasanya sudah terkuras habis) adalah hal yang mustahil. Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Kekuatan tekad (iradah) dan iman mampu melampaui batasan biologis manusia. Ini mengajarkan kita bahwa dalam bekerja atau berjuang, mentalitas dan kedekatan dengan Tuhan adalah faktor X yang menentukan kemenangan.

Keputusan Thariq bin Ziyad (secara harfiah maupun kiasan) untuk tidak menyisakan jalan pulang memberikan pelajaran tentang totalitas. 28 Ramadhan adalah momen di mana umat Islam sudah “selesai” dengan urusan pribadinya selama sebulan penuh dan siap memberikan kontribusi maksimal bagi peradaban. Untuk mencapai perubahan besar, kita tidak boleh setengah-setengah. Kita harus “membakar kapal” keraguan dan masa lalu yang menghambat kemajuan.

Masuknya Islam ke Andalusia pada 28 Ramadhan tidak berujung pada genosida penduduk asli. Sebaliknya, umat Islam membawa sistem irigasi, filsafat, kedokteran, dan arsitektur. Kemenangan politik harus dibarengi dengan pembangunan peradaban. Kekuasaan hanyalah sarana untuk menyebarkan kemaslahatan, bukan untuk menindas.

Banyak orang yang “kendor” ibadahnya di akhir Ramadhan karena sibuk dengan persiapan Idul Fitri. Namun, para pendahulu kita justru mencetak prestasi sejarah di tanggal 28 Ramadhan. Akhir dari sebuah proses adalah bagian yang paling krusial. Kita harus menjaga momentum hingga garis finis, baik dalam ibadah maupun pekerjaan profesional.

Peristiwa 28 Ramadhan, terutama pendaratan Thariq bin Ziyad di Andalusia, adalah pengingat bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi keberanian, totalitas, dan visi jangka panjang. Hikmah yang terkandung di dalamnya memanggil kita untuk tidak menjadi umat yang lemah di akhir perjuangan, melainkan umat yang justru semakin kuat ketika mendekati garis finis.

Andalusia yang dimulai pada 28 Ramadhan 92 H pernah menjadi mercusuar dunia. Hari ini, semangat itu harus dihidupkan kembali bukan untuk menguasai lahan, melainkan untuk menguasai hati dan pikiran dunia dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang berlandaskan iman.

Bahan Bacaan:

Philip K. Hitti. History of the Arabs. (Memberikan detail komprehensif mengenai ekspansi Umayyah ke Spanyol dan peran Thariq bin Ziyad).

Imam Ibnu Athir. Al-Kamil fi al-Tarikh. (Kitab sejarah kronologis yang mencatat pergerakan pasukan Muslim dari tahun ke tahun).

Akram Diya’ al-Umari. As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah. (Meskipun fokus pada masa Nabi, ia memberikan metodologi sejarah untuk memahami motivasi peperangan dalam Islam di bulan Ramadhan).

Syekh Muhammad al-Ghazali. Fiqh as-Sirah. (Analisis mendalam mengenai hikmah dan filosofi di balik kemenangan-kemenangan besar Islam).

Raghib as-Sirjani. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. (Sumber utama mengenai detail tanggal pendaratan dan dampak peradaban Islam di Spanyol).

Tariq Ramadan. In the Footsteps of the Prophet. (Memberikan perspektif modern tentang bagaimana nilai-nilai spiritualitas diubah menjadi aksi sosial dan politik).

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT