BerandaArtikelJejak Sejarah dan Hikmah Peristiwa 25 Ramadhan

Jejak Sejarah dan Hikmah Peristiwa 25 Ramadhan

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Bulan Ramadhan sering kali dijuluki sebagai Syahrul Futuhat atau Bulan Kemenangan. Sepanjang sejarah peradaban Islam, bulan suci ini bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum terjadinya pergeseran geopolitik dan spiritual yang besar.

Di antara hari-hari puncaknya, tanggal 25 Ramadhan mencatatkan tinta emas yang mengubah wajah dunia, mulai dari penghancuran simbol kemusyrikan di masa kenabian hingga penyelamatan peradaban Islam dari kepunahan akibat serbuan bangsa Mongol. Dua peristiwa paling monumental yang terjadi pada 25 Ramadhan dan akan diulas pada tulisan ini adalah Penghancuran Berhala Al-Uzza dan Kemenangan di Perang ‘Ain Jalut.

1. Runtuhnya Simbol Kemusyrikan: Penghancuran Al-Uzza (8 H)

Setelah peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekkah) pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah Muhammad ﷺ ingin memastikan bahwa akar kesyirikan di semenanjung Arabia dicabut hingga ke akarnya. Salah satu simbol kesyirikan yang paling diagungkan oleh kaum Quraisy dan kabilah-kabilah Arab saat itu adalah berhala Al-Uzza, bersama Al-Lat dan Al-Manat di lembah Nakhlah, merupakan tiga berhala terbesar yang disembah masyarakat Jahiliyah Arab.

Pada tanggal 25 Ramadhan 8 H, Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid, sang “Pedang Allah yang Terhunus”, untuk memimpin ekspedisi penghancuran berhala tersebut. Khalid bin Walid berangkat dengan 30 penunggang kuda menuju Nakhlah. Sesampainya di sana, ia menghancurkan bangunan fisik berhala tersebut. Namun, sekembalinya Khalid kepada Rasulullah ﷺ, beliau bertanya, “Apakah engkau melihat sesuatu?” Khalid menjawab, “Tidak.” Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Maka engkau belum menghancurkannya. Kembalilah dan hancurkanlah ia.”

Khalid kembali dalam keadaan emosi yang terukur (ghirah). Kali ini, muncul seorang wanita hitam berkulit gelap dengan rambut terurai yang tampak sangat mengerikan dari balik reruntuhan. Penjaga berhala tersebut berteriak memanggil sang dewi untuk membela diri. Namun, Khalid dengan sigap menebas wanita tersebut—yang diyakini sebagai manifestasi setan yang bersemayam dalam berhala Al-Uzza—hingga tewas. Setelah itu, barulah misi tersebut dinyatakan selesai secara sempurna.

2. Penyelamatan Peradaban: Pertempuran ‘Ain Jalut (658 H)

Pertempuran ‘Ain Jalut terjadi pada 25 Ramadhan 658 H adalah simbol ketahanan peradaban Islam melawan kehancuran total. Pada abad ke-13 Masehi, bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan telah menyapu bersih Pusat Peradaban Islam. Baghdad, jantung kekhalifahan Abasiyah, luluh lantak pada 1258 M. Perpustakaan dibakar, jutaan orang dibantai, dan sungai Tigris berubah warna menjadi hitam karena tinta buku serta merah karena darah.

Setelah Baghdad jatuh, Mongol bergerak menuju Syam (Suriah) dan mengincar Mesir sebagai benteng terakhir umat Islam. Dunia saat itu percaya bahwa bangsa Mongol tidak bisa dikalahkan. Di tengah keputusasaan, bangkitlah Sultan Saifuddin Qutuz dari Dinasti Mamluk di Mesir. Bersama panglima perangnya, Zahir Baibars, ia menyusun strategi di ‘Ain Jalut (Mata Air Jalut) di Palestina. Tepat pada 25 Ramadhan 658 H (3 September 1260 M), pasukan Mamluk yang berjumlah lebih kecil berhadapan dengan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Kitbuqa Noyan.

Dengan menggunakan taktik feigned retreat (pura-pura mundur) yang dipimpin oleh Baibars untuk memancing pasukan Mongol ke lembah sempit. Saat Mongol terjebak, pasukan utama Mamluk menyerbu dari perbukitan. Sultan Qutuz sendiri turun ke medan perang, melepas penutup kepalanya agar pasukannya bisa melihat wajahnya, dan berteriak, “Wa Islamaah! Wa Islamaah!” (Wahai Islamku! Wahai Islamku!). Suntikan semangat ini memicu keberanian luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pasukan Mongol kalah telak dalam pertempuran terbuka.

***

Apa Signifikansi dari Peristiwa Bersejarah Tanggal 25 Ramadhan ini? Hal ini tentu bukanlah sebuah kebetulan semata dalam perspektif teologis. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam berada pada kondisi spiritual tertinggi karena mencari Lailatul Qadr. Kekuatan batin ini dikonversi menjadi keberanian fisik di medan jihad, sekaligus sebagai Ujian Keikhlasan, melakukan mobilisasi perang dengan misi berisiko tinggi saat sedang menjalankan ibadah puasa memerlukan kontrol diri dan keikhlasan yang luar biasa.

Kedua peristiwa di atas menandai dimulainya era baru. Penghancuran Al-Uzza menandai berakhirnya era paganisme di Arab, sementara ‘Ain Jalut menandai berakhirnya dominasi absolut Mongol dan menyelamatkan warisan intelektual Islam di Mesir dan sekitarnya. Dari kisah Khalid bin Walid, kita belajar bahwa tauhid tidak cukup hanya di lisan. Berhala-berhala fisik dan mental (seperti kesombongan, ketergantungan pada selain Allah) harus dihancurkan dengan tindakan nyata.

Pertempuran ‘Ain Jalut mengajarkan bahwa tidak ada musuh yang tidak bisa dikalahkan selama ada persatuan dan kepemimpinan yang jujur. Saat Baghdad jatuh, umat Islam merasa kiamat sudah dekat. Namun, melalui keberanian Sultan Qutuz di tanggal 25 Ramadhan, Allah membuktikan bahwa pertolongan-Nya dekat bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Baik Khalid bin Walid maupun Sultan Qutuz tidak hanya mengandalkan do’a, tapi strategi militer yang brilian, intelijen yang kuat, dan manajemen pasukan yang rapi. Ini adalah pesan sejarah bahwa kemajuan peradaban memerlukan integrasi antara iman (spiritual) dan sains/strategi (intelektual). Peristiwa 25 Ramadhan adalah pengingat abadi bagi umat Islam bahwa akhir dari bulan suci bukan berarti melemahnya semangat, melainkan justru saat di mana kekuatan sejati muncul. (*)

Bahan Bacaan:

Ibnu Katsir. Al-Bidayah wan Nihayah. (Kitab sejarah yang merinci peristiwa Fathu Makkah dan ekspedisi Khalid bin Walid).

Syaikh Safiyyurrahman al-Mubarakfuri. Ar-Rahiqul Makhtum (Sirah Nabawiyah). (Membahas detail penghancuran Al-Uzza).

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Mamalik. (Referensi utama untuk strategi Sultan Qutuz di ‘Ain Jalut).

Imam At-Thabari. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. (Catatan kronologis peristiwa-peristiwa penting dalam Islam).

Thomas Asbridge. The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. (Memberikan perspektif sejarah mengenai dampak Mongol dan Mamluk di Timur Tengah).

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT