BerandaArtikel24 Ramadhan: Runtuhnya Simbol Kemusyrikan dan Jejak Kejayaan Arsitektur Islam

24 Ramadhan: Runtuhnya Simbol Kemusyrikan dan Jejak Kejayaan Arsitektur Islam

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Yuk, Khatamkan Al-Qur’an dalam Bulan Ramadhan

PALONTARAQ.ID – Bulan Ramadhan sering kali dijuluki sebagai Syahrul Futuhat atau Bulan Kemenangan. Sepanjang sejarah peradaban Islam, bulan ini bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum terjadinya transformasi besar—baik secara spiritual maupun geopolitik.

Jika tanggal 17 Ramadhan dikenal dengan Perang Badar dan 20 Ramadhan dengan Fathu Makkah, maka tanggal 24 Ramadhan memegang posisi krusial sebagai fase pembersihan total sisa-sisa paganisme di tanah Arab dan pembangunan mercusuar peradaban di Mesir. Ada tiga peristiwa besar yang tercatat terjadi pada 24 Ramadhan, yaitu: Penghancuran berhala Al-Uzza oleh Khalid bin Walid, keruntuhan berhala Al-Lat di Thaif, serta peletakan batu pertama Masjid Al-Azhar di Kairo.

1. Pembersihan Tauhid: Penghancuran Berhala Al-Uzza (8 H)

Salah satu peristiwa paling ikonik yang terjadi pada 24 Ramadhan tahun 8 Hijriah adalah penghancuran Al-Uzza, berhala yang paling diagungkan oleh kaum Quraisy dan suku-suku Arab lainnya. Peristiwa ini terjadi lima hari sebelum berakhirnya bulan Ramadhan, setelah Rasulullah SAW berhasil membebaskan Kota Makkah.

Al-Uzza, bersama Al-Lat dan Al-Manat, merupakan “Tiga Dewi” yang dianggap sebagai perantara antara manusia dan Tuhan oleh kaum musyrik. Al-Uzza digambarkan bersemayam di sebuah bangunan di lembah Nakhla. Rasulullah SAW mengutus Khalid bin Walid, sang “Pedang Allah yang Terhunus”, untuk memimpin pasukan kecil guna meruntuhkan simbol kemusyrikan tersebut.

Dalam literatur sejarah seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dikisahkan bahwa Khalid bin Walid menghancurkan bangunan tersebut dan menebang pohon-pohon keramat di sekitarnya. Penghancuran ini bukan sekadar aksi fisik, melainkan sebuah pernyataan politik dan teologis bahwa era kegelapan (Jahiliyah) telah berakhir secara total.

Penghancuran Al-Uzza pada 24 Ramadhan menandai Kemenangan Tauhid Mutlak. Tidak ada lagi ruang bagi dualisme ketuhanan di jantung Jazirah Arab. Selain itu, terjadi Demistifikasi Mitos. Masyarakat melihat bahwa berhala yang selama ini mereka takuti ternyata tidak mampu memberikan perlawanan sedikit pun saat dihancurkan. Ini memicu kesadaran logika massal yang berujung pada keimanan.

2. Runtuhnya Al-Lat di Thaif (9 H)

Setahun setelah penghancuran Al-Uzza, tepatnya pada 24 Ramadhan tahun 9 Hijriah, terjadi peristiwa serupa namun di lokasi yang berbeda, yaitu di Thaif. Berhala Al-Lat yang menjadi kebanggaan suku Thaqif akhirnya diruntuhkan.

Berbeda dengan Makkah yang ditaklukkan, penduduk Thaif mengirim delegasi ke Madinah untuk menyatakan masuk Islam, namun dengan syarat-syarat tertentu. Salah satu permintaannya adalah agar berhala Al-Lat tidak dihancurkan selama tiga tahun ke depan. Mereka takut akan amukan massa dan bencana jika berhala itu segera dihancurkan.

Namun, Rasulullah SAW menolak keras negosiasi tersebut. Islam tidak mengenal kompromi dalam hal akidah. Akhirnya, beliau mengutus Al-Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk menghancurkan Al-Lat. Pada tanggal 24 Ramadhan, berhala tersebut diruntuhkan di depan mata penduduk Thaif yang menangis tersedu-sedu karena ketakutan. Ketika tidak terjadi bencana apa pun setelah berhala itu hancur, penduduk Thaif akhirnya menerima Islam dengan penuh ketenangan.

3. Fajar Intelektual: Peletakan Batu Pertama Masjid Al-Azhar (359 H)

Pada masa kekhalifahan Fatimiyah, 24 Ramadhan 359 Hijriah (bertepatan dengan tahun 970 Masehi) tercatat dalam sejarah satu peristiwa besar bagi dunia pendidikan Islam. Panglima Jauhar as-Siqilli, atas perintah Khalifah Al-Muizz li Dinillah, memulai pembangunan Masjid Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Meski awalnya dibangun sebagai pusat ibadah dan penyebaran Syiah Ismailiyah—Sebelum akhirnya dikembalikan ke paham Sunni oleh Shalahuddin Al-Ayyubi), Al-Azhar berkembang menjadi salah satu universitas tertua di dunia yang masih ada hingga kini. Peletakan batu pertama pada 24 Ramadhan ini adalah simbol bahwa Peradaban Islam tidak hanya berhenti pada penaklukan wilayah militer, tetapi berlanjut pada pembangunan institusi ilmu pengetahuan, jantung intelektual, tempat dimana sains, hukum, dan sastra dikembangkan secara berdampingan.

***

Dari rangkaian peristiwa di atas, terdapat pelajaran mendalam yang relevan untuk kehidupan modern kita saat ini. Kisah Khalid bin Walid dan Al-Mughirah mengajarkan bahwa perubahan sejati memerlukan keberanian untuk meninggalkan “berhala-berhala” lama. Dalam konteks modern, berhala bukan lagi patung batu, melainkan ego, kecanduan duniawi, atau sistem yang menindas. 24 Ramadhan adalah pengingat untuk melakukan self-cleansing (pembersihan diri) sebelum bulan suci berakhir.

Ketegasan Rasulullah SAW menolak permintaan penduduk Thaif menunjukkan bahwa dalam hal prinsip dasar (Tauhid), tidak ada ruang untuk negosiasi demi kenyamanan sesaat. Hikmahnya adalah kita harus memiliki integritas yang kuat dalam memegang prinsip kebenaran, meskipun hal itu tidak populer di mata masyarakat.

Pembangunan Al-Azhar menunjukkan bahwa keberlangsungan sebuah bangsa bergantung pada pendidikannya. Memulai pembangunan pusat ilmu di akhir Ramadhan memberikan pesan bahwa hasil dari puasa haruslah berupa pencerahan akal dan budi pekerti yang terwujud dalam amal jariyah berupa institusi pendidikan.

Tanggal 24 Ramadhan berada di fase Itqun minan Naar (pembebasan dari api neraka). Peristiwa-peristiwa kemenangan di tanggal ini menunjukkan bahwa hasil manis biasanya datang di detik-detik terakhir perjuangan. Ini memotivasi umat agar tidak menyerah di hari-hari terakhir Ramadhan.

Di kekinian, peringatan 24 Ramadhan dapat dijadikan momentum untuk memperkuat literasi sejarah di kalangan generasi muda Muslim. Sejarah bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan kompas untuk masa depan. Ketika kita mengetahui bahwa institusi sebesar Al-Azhar dimulai di malam-malam terakhir Ramadhan, kita seharusnya termotivasi untuk memulai proyek-proyek besar yang bermanfaat bagi umat di waktu-waktu yang berkah ini. (*)

Bahan Bacaan: 

Ibnu Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik. (Reprint 2010). As-Sirah an-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi. (Sumber utama mengenai penghancuran berhala Al-Uzza dan Al-Lat).

Ibnu Katsir, Al-Hafiz. (2003). Al-Bidayah wan-Nihayah. Kairo: Dar al-Manar. (Memberikan kronologi rinci tahun-tahun penting dalam sejarah Islam).

Al-Maqrizi, Taqiyuddin. (1998). Al-Mawa’iz wa al-I’tibar bi Dhikr al-Khitat wa al-Athar. London: Furqan Islamic Heritage Foundation. (Referensi utama pembangunan Masjid Al-Azhar dan sejarah Mesir era Fatimiyah).

Al-Mubarakfuri, Safiur Rahman. (2008). Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar). Riyadh: Darussalam Publishers. (Penjelasan mengenai strategi militer dan diplomasi Rasulullah SAW pasca Fathu Makkah).

Dodge, Bayard. (1961). Al-Azhar: A Short History of the Cairo University. Washington D.C.: Middle East Institute. (Kajian sejarah perkembangan akademik Al-Azhar).

Armstrong, Karen. (2002). Islam: A Short History. New York: Modern Library. (Tinjauan sosiologis mengenai pergeseran budaya dari Jahiliyah ke Islam).

Az-Zarkali, Khairuddin. (2002). Al-A’lam. Beirut: Dar el-Ilm Lilmalayin. (Biografi tokoh-tokoh besar seperti Jauhar as-Siqilli).

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT