Beranda Narasi Sejarah Bani Saljuk dalam Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah

Bani Saljuk dalam Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah

 

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Related Post: Periodisasi Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah

PALONTARAQ.ID – Pada Periode Keempat Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M), yang berkuasa sebenarnya tidak lagi keturunan Bani Abbasiyah.

Periode keempat ini adalah masa kekuasaan Bani Saljuk dalam Pemerintahan khilafah Abbasiyah, disebut juga dengan sebagai masa pengaruh Turki kedua.

Siapa Bani Saljuk? Dinasti Salajikah (Saljuk) berasal dari kabilah kecil keturunan Turki yaitu Kabilah Auruq bersama kabilah lainnya yang membentuk satu rumpun bernama Ghuzz (Ogush)[M. Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Cet.I, Jakarta: Logos, 1997, h. 123]

Asal usulnya berasal dari Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq, seorang pemimpin Turki di Asia Tengah (Turkistan). Keturunannya bermigrasi ke barat dan menempati pegunungan di dekat laut Khawarisan dan selanjutnya menetap di Transokiana (Transoxania) atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr.

Di Transokiana, Bani Saljuk merintis tatanan kehidupan yang bersahabat dengan Dinasti Samaniyah dan bersama memerangi Bangsa Turki dan Kafir ketika Dinasti Samaniyah runtuh pada Tahun 384 H. [Ahmad Sya’labi, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Cet. I; Jakarta: Pustaka al-Husna, 1993, h. 335]

Setelahnya, Sultan Mahmud al-Ghaznawi mengijinkan Bani Saljuk menyeberang ke Khurasan. [Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Kawasan Turki, Cet. I, Jakarta: Logos, 1997, h. 14]

Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai naiknya Bani Saljuk dalam panggung sejarah. Pada Tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Tughril Beg berhasil memasuki Nisapur dan menduduki singgasan Dinasti Ghaznawi dengan memakai gelar sultan.

Setelah menguasai seluruh wilayah Khurasan, Tughril Beg memproklamirkan bedirinya Dinasti Saljuk dan mendapat pengakuan dari Khalifah al-Qaim bin Amrullah di Baghdad.

Sasaran utama agresi yang dilancarkan Tughril Beg adalah kota Baghdad yang secara praktis dikuasai Arselan Bassaseri dari Dinasti Buwaihi.

Tughril Beg memanfaatkan suasana chaos yang terjadi dalam Dinasti Buwaihi, dan pada akhirnya dengan kekuatan militer Tughril Beg berhasil menduduki Baghdad dan membebaskan Khalifah al-Qa’im. [Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklipedi Islam, Cet. III, h.262, Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta: 1994]

Atas jasanya tersebut, maka khalifah menobatkannya sebagai Penguasa Baghdad dengan gelar Ruknad-Daulah Yamin Amir al-Mukminin. Dinasti ini terbentuk pada tahun (429 H/1038 M), dan berlangsung hingga tahun (582 H/1194 M).

Lihat pula: Perkembangan Islam pada Masa Daulah Dinasti Abbasiyah

Tughril meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan digantikan kemenakannya Alp Arselan yang kemudian digantikan putranya Malik Syah yang dikemudian hari menjadi penguasa terbesar dari Dinasti Bani Saljuk. Setelahnya, lambat laun mengalami kemunduran dan pudar sama sekali sampai pada Tahun 552 H/157 M.

Dalam bidang politik, munculnya berbagai dinasti yang menggambarkan mulai hilangnya persatuan Dunia Islam, seperti Dinasti Fatimiyah lahir di Mesir (969) dan bertahan sampai tahun 1171.

Kemajuan di bidang politik terlihat pada stabilitas politik dalam negeri. Ekspansi ke daerah Kekaisaran Bizantium dapat diporak-porandakan oleh Alp Arselan dalam Tahun 1871 M dan membuka peluang Bani Saljuk menguasai Asia kecil dimana Bangsa Arab selalu gagal menguasainya.

Kala itu, Dinasti Saljuk semakin besar dan meluas wilayahnya hingga daerah Nur Bukhara (sekarang Nur Ata) dan sekitar Samarkand. Hal itu karena koalisinya dengan Dinasti Samaniyah ketika terjadi persaingan politik dengan Dinasti Khainiyyah.

Keberpihakan ini dilakukan dengan alasan Dinasti Samaniyyah membawa paham yang sama (Sunni) dan dengan niat untuk memperoleh wilayah di mulut sungai Jaihan sebagai pemukiman dan menjadikan kota Jand sebagai pusat kegiatan sosial politik mereka.[Yousouf Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah II, h.14, Bulan Bintang, Jakarta: t.th.]

Dalam bidang keagamaan, Dinasti Bani Saljuk ditandai dengan kemenangan Kaum Sunni, terutama dengan kebijakan Nidham al-Muluk, mendirikan banyak sekolah: Madaris Nidhamiyyah.

Dari segi budaya dan pemikiran keagamaan, terdapat berbagai wilayah dengan pusatnya sendiri yang memiliki peran sendiri dalam mengekspresikan Islam. Misal, Andalus dan Afrika Utara mengembangkan seni yang mencapai puncaknya pada al-Hambra dan pemikiran filsafat dengan tokohnya, Ibnu Tufail dan Ibnu Rusyd.

Di masa kekuasaan Dinasti Bani Saljuk, banyak dibangun masjid di berbagai wilayah, Masjid al-Jami di Isfahan, Masjid Mahmud Syahdi Garyaikan, Masjid Burjian, Masjid Industan dan yang lainnya, dibangun dalam Tahun 1158. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari faktor stabilitas politik dan ekonomi yang mantap.

Reputasi Malik Syah dan wazir Nizam al-Mulk ternyata tidak hanya pada keberhasilan memancangkan kekuasaan Dinasti Salajikah secara politik, tetapi juga secara militer dan ekonomi. Keduanya berhasil membangun negara dan masyarakat, jalan raya dan jembatan, irigasi, rumah sakit, perdagangan dan industri.

Setelah kematian Malik Syah, Dinasti Saljuk mengalami perpecahan dan kemunduran drastis. Hal ini membuka peluang bagi dinasti lainnya, Khawarijan Shakis. Kondisi ini memberi peluang kepada pasukan Mongol untuk melakukan serangan militer dan akhirnya Mongol berkuasa.

Dampaknya, Para pegawai dan tentara Saljuk dibubarkan, dan diperburuk lagi dengan beban pajak tinggi bagi Masyarakat Turki, yang pada gilirannya nampaklah gejala kemiskinan dalam kehidupan sosial. (*)

 

Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep/Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Sudah Saatnya dibentuk Kementerian Penangkapan Aktivis

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Salah satu fokus utama Amerika Serikat (AS) setelah kemerdekaannya (4 Juli 1776) adalah pembangunan kekuatan militer. Ini dibuktikan ketika presiden pertama...

Omnibus Law Itu Strategi Jokowi untuk Menyingkirkan Oligarki Cukong

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Bergegas saya ke laptop. Khawatir inspirasi hilang. Inspirasi itu datang ketika sedang olahraga kecil di belakang rumah. Senam rutin itu...

Pesan Dakwah: Manisnya Madu

  Lihat pula: Khasiat Madu saat Dicampur Kayu Manis Oleh: Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Penjualan madu di Indonesia meningkat selama Pandemi Covid-19. Walaupun meningkat,...

Di IMMIM Pangkep, Upacara Hari Santri Nasional digelar dengan Protokol Kesehatan

  Laporan: Dra Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri IMMIM Pangkep yang sejak 9 dan 11 Agustus lalu telah memasukkan santriwati baru ke sekolah dan...