Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Dalam kalender Hijriah, bulan Ramadhan sering kali disebut sebagai bulan sejuta peristiwa. Jika tanggal 17 Ramadhan identik dengan kemenangan di Badar dan turunnya Al-Qur’an, maka tanggal 18 Ramadhan berdiri sebagai monumen sejarah yang mencakup spektrum luas: mulai dari duka mendalam dunia ilmu pengetahuan, konsolidasi kekuatan militer, hingga peristiwa wafatnya tokoh-tokoh besar yang menjadi pilar peradaban.
1. Wafatnya Khalid bin al-Walid: Sang “Pedang Allah” yang Terhunus (18 Ramadhan 21 H)
Salah satu peristiwa paling menggetarkan yang tercatat pada 18 Ramadhan (dalam beberapa riwayat sejarah) adalah wafatnya Khalid bin al-Walid di Homs, Suriah. Khalid bukan sekadar panglima; ia adalah jenius militer yang tidak pernah kalah dalam lebih dari seratus pertempuran.
Khalid bin al-Walid adalah arsitek kemenangan Islam dalam Perang Yarmuk yang mengakhiri dominasi Romawi di Syam. Hikmah terbesar dari sosok Khalid pada 18 Ramadhan ini adalah tentang keikhlasan dalam beramal. Ketika ia dicopot dari jabatan panglima oleh Khalifah Umar bin Khattab agar umat tidak “mendewakannya”, Khalid tetap bertempur sebagai prajurit biasa. Baginya, ia berperang bukan untuk Umar, melainkan untuk Tuhannya Umar.
2. Kelahiran dan Kontribusi Ibnu Khaldun: Bapak Sosiologi Dunia (18 Ramadhan 732 H)
Dunia intelektual Islam berutang besar pada tanggal 18 Ramadhan tahun 732 Hijriah. Pada hari ini, di Tunisia, lahir Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, yang lebih populer dikenal dunia sebagai Ibnu Khaldun. Melalui karyanya yang monumental, Al-Muqaddimah, meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi, historiografi, dan ekonomi jauh sebelum ilmuwan Barat mengenalnya. Ia memperkenalkan konsep Asabiyyah (solidaritas sosial) sebagai mesin penggerak bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban.
Hikmah dari kelahiran Ibnu Khaldun pada 18 Ramadhan adalah pengingat bahwa Islam adalah agama yang melahirkan rasionalitas. Ramadhan bukan hanya bulan untuk menahan lapar, tetapi bulan untuk melahirkan pemikiran-pemikiran besar yang mampu membedah fenomena sosial dan sejarah.
3. Penaklukan Maroko oleh Uqbah bin Nafi (18 Ramadhan 62 H)
Pada tanggal 18 Ramadhan tahun 62 Hijriah, panglima besar Uqbah bin Nafi berhasil mencapai titik terjauh dalam ekspansinya di Afrika Utara. Ia menaklukkan wilayah Maroko dan berdiri di pinggir Samudra Atlantik.
Peristiwa ini bukan sekadar penaklukan tanah, melainkan perluasan jangkauan dakwah. Uqbah terkenal dengan perkataannya saat memacu kudanya ke air laut: “Ya Allah, sekiranya aku tidak terhalang oleh lautan ini, aku akan terus maju ke negeri-negeri yang jauh untuk membela agama-Mu.” Semangat ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk menembus batas-batas kemustahilan.
4. Peristiwa Penting Lainnya pada 18 Ramadhan
Sepanjang sejarah, 18 Ramadhan juga mencatat peristiwa-peristiwa lain yang bersifat administratif dan politis. Di era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, dilakukan pelantikan gubernur atau pejabat penting untuk mengonsolidasikan kekuatan di tengah bulan suci.
Tercatat beberapa kali reorganisasi militer di Spanyol Islam (Al-Andalus) dilakukan pada tanggal ini guna mempersiapkan pertahanan dari serangan kerajaan-kerajaan Utara di musim semi.
***
Melihat rangkaian peristiwa di atas, terdapat benang merah hikmah yang dapat ditarik untuk umat Islam di era modern. Kombinasi antara wafatnya Khalid (simbol kekuatan militer) dan lahirnya Ibnu Khaldun (simbol kekuatan intelektual) menunjukkan bahwa peradaban Islam berdiri di atas dua kaki yang seimbang. Muslim yang ideal adalah mereka yang tangguh dalam aksi (jihad fisik) namun juga cerdas dalam narasi dan analisis (jihad intelektual).
Semua tokoh yang terlibat dalam peristiwa 18 Ramadhan melakukan pencapaian besar mereka saat sedang menjalankan ibadah puasa. Ini mematahkan argumen bahwa puasa menurunkan produktivitas. Sebaliknya, puasa berfungsi sebagai “detoksifikasi” mental yang menjernihkan pikiran untuk merancang strategi perang maupun teori sosiologi.
Wafatnya Khalid bin al-Walid di tempat tidur (bukan di medan perang seperti yang ia dambakan) mengajarkan kita tentang keridaan terhadap takdir Allah. Meskipun ia adalah “Pedang Allah”, ia tetaplah manusia yang tidak bisa menentukan akhir hidupnya sendiri. Namun, dedikasinya tetap tercatat abadi.
Hikmah Pertama, Dari Ibnu Khaldun kita belajar bahwa sejarah berulang. 18 Ramadhan harus menjadi momen bagi kita untuk mempelajari pola-pola keruntuhan umat di masa lalu agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama, terutama terkait dengan melemahnya solidaritas (asabiyyah). Mengingat kelahiran Ibnu Khaldun, institusi pendidikan Islam harus menjadikan bulan ini sebagai bulan buku dan riset, bukan hanya bulan kuliner.
Hikmah Kedua, Membangun Solidaritas. Mengambil teori Asabiyyah, umat harus memperkuat ikatan sosial melalui zakat, infak, dan sedekah yang lebih terorganisir secara sistemik, bukan sekadar karitas sesaat. Ketiga, Ketangguhan Mental. Mencontoh Uqbah bin Nafi, kita harus memiliki visi yang luas dalam profesi masing-masing, berusaha memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan tanpa terhalang oleh keterbatasan fisik.
Jadi, Tanggal 18 Ramadhan adalah cermin kematangan peradaban Islam. Tanggal ini menyimpan duka atas perginya sang panglima, namun memberikan harapan melalui lahirnya sang pemikir. Sejarah ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang bergerak—bergerak secara geografis melalui penaklukan yang adil, dan bergerak secara epistemologis melalui pengembangan ilmu pengetahuan.
Mengetahui sejarah 18 Ramadhan membantu kita untuk tidak menjadi umat yang amnesia terhadap akarnya. Ramadhan bukan hanya tentang ritual pribadi antara hamba dengan Tuhannya, tetapi juga tentang kontribusi hamba tersebut bagi sejarah peradaban manusia.
Bahan Bacaan:
Al-Azami, Muhammad Mustafa. (2003). The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation. Leicester: UK Islamic Academy. (Konteks penjagaan ilmu di masa awal).
Ibnu Khaldun. (Reprint 2015). The Muqaddimah: An Introduction to History. Translated by Franz Rosenthal. Princeton University Press. (Sumber utama biografi dan pemikiran Ibnu Khaldun).
Ibnu Katsir. (2004). Al-Bidayah wan-Nihayah. Kairo: Dar al-Manar. (Referensi mengenai wafatnya Khalid bin al-Walid dan penaklukan Uqbah bin Nafi).
Al-Baladhuri. (1916). Kitab Futuh al-Buldan (The Origins of the Islamic State). Translated by Philip Hitti. New York: Columbia University. (Detail penaklukan Afrika Utara).
Akram, A.I. (2004). The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and Campaigns. Rawalpindi: Maktabah-e-Ittehad.
Enan, Mohammad Abdullah. (2007). Ibnu Khaldun: His Life and Works. Kuala Lumpur: The Other Press.
Hourani, Albert. (2013). A History of the Arab Peoples. London: Faber & Faber. (Analisis sosiopolitik wilayah Maghribi).
Hitti, Philip K. (1970). History of the Arabs. London: Macmillan. (Rujukan umum sejarah ekspansi Islam).
Al-Mubarakfuri, Safiur Rahman. (2008). Ar-Raheeq Al-Makhtum. Riyadh: Darussalam. (Konteks karakter sahabat).
Madkour, Ibrahim. (1984). The Islamic World: From Classical to Modern Times. Princeton: Darwin Press.
Sallabi, Ali Muhammad. (2011). The Biography of Khalid bin al-Walid. Riyadh: Darussalam.
Gibb, H.A.R. (1982). Studies on the Civilization of Islam. Princeton University Press.
Lewis, Bernard. (1993). The Arabs in History. Oxford University Press.
Toynbee, Arnold J. (1948). A Study of History. Oxford University Press. (Analisis eksternal terhadap teori Ibnu Khaldun).
Watt, W. Montgomery. (1972). The Influence of Islam on Medieval Europe. Edinburgh University Press.


