Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Sejarah Islam tidak selalu berisi narasi kemenangan yang linier. Ia adalah catatan jujur tentang perjuangan manusia dalam ruang dan waktu. Tanggal 14 Ramadhan mencatat peristiwa yang mengguncang nurani dunia, sekaligus mencatat ekspansi militer yang mengubah peta kekuatan global pada masanya.
Menapaki tangga sejarah pada 14 Ramadhan membawa kita pada perenungan tentang dua sisi mata uang peradaban: Duka mendalam atas hilangnya nyawa manusia akibat kekejaman dan Kejayaan luar biasa dalam penaklukan wilayah yang strategis. Jika hari-hari sebelumnya kita bicara tentang diplomasi dan literasi, maka 14 Ramadhan adalah pengingat keras tentang pentingnya menjaga kemanusiaan di satu sisi, dan keteguhan iman dalam memperjuangkan keadilan di sisi lain.
1. Tragedi Pembantaian di Masjid Ibrahimi (1414 H / 1994 M)
Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah modern umat Islam terjadi pada fajar 14 Ramadhan 1414 Hijriah (bertepatan dengan 25 Februari 1994). Di tengah kekhusyukan salat Subuh di Masjid Ibrahimi, Hebron, Palestina, seorang teroris ekstremis masuk dan memberondongkan peluru ke arah jamaah yang sedang sujud.
Peristiwa ini mengakibatkan 29 jamaah gugur sebagai syuhada di tempat dan lebih dari 150 lainnya luka-luka. Dunia mengecam tindakan ini, namun bagi umat Islam, peristiwa ini menjadi simbol perlawanan dan ketabahan yang luar biasa di tanah para Nabi. Syahid dalam keadaan sujud di bulan Ramadhan adalah kemuliaan tertinggi di sisi Allah, namun bagi yang ditinggalkan, ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa.
Peristiwa bersejarah ini menyisakan pelajaran tentang pentingnya menjaga persatuan dan keaspadaan terhadap ekstrimisme. Tragedi ini menyatukan simpati dunia Islam untuk terus menyuarakan keadilan bagi Palestina. Sejarah mencatat bahwa kebencian yang buta dapat menghancurkan kesucian rumah ibadah, sehingga tugas umat Islam adalah terus menebar rahmah (kasih sayang).
2. Penaklukan Wilayah Syracuse di Sisilia (264 H)
Beralih ke masa kejayaan klasik, pada 14 Ramadhan 264 Hijriah, pasukan Muslim berhasil menguasai kota Syracuse, sebuah pelabuhan strategis di Pulau Sisilia, Italia. Penaklukan ini dipimpin oleh Dinasti Aghlabiyyah yang berbasis di Tunisia.
Syracuse saat itu adalah benteng terkuat Bizantium di Laut Tengah. Kejatuhan kota ini menandai dominasi Islam di Mediterania selama hampir dua abad ke depan. Di bawah pemerintahan Islam, Sisilia menjadi pusat kebudayaan, pertanian (mengenalkan jeruk dan lemon ke Eropa), serta toleransi beragama yang sangat maju.
Dari peristiwa bersejarah ini mengajarkan tentang pentingnya Penguasaan Teknologi Maritim dan Transformasi Peradaban. Kemenangan di Syracuse membuktikan bahwa umat Islam saat itu tidak hanya jago di padang pasir, tapi juga unggul dalam navigasi dan taktik angkatan laut. Islam tidak hanya datang untuk menguasai tanah, tapi memperbaiki kualitas hidup. Irigasi canggih dan sistem pasar yang adil diperkenalkan di Sisilia setelah penaklukan ini.
3. Wafatnya Ulama Besar: Said bin al-Musayyib (94 H)
Pada 14 Ramadhan tahun 94 Hijriah, dunia Islam kehilangan salah satu “Sayyid ad-Tabi’in” (pemimpin para Tabi’in), yaitu Said bin al-Musayyib. Beliau adalah menantu Abu Hurairah r.a. dan merupakan rujukan utama hukum Islam di Madinah pada masanya.
Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat independen. Ia menolak pemberian harta dari penguasa (Khalifah) agar lisan dan fatwanya tetap objektif. Keteguhannya memegang prinsip kebenaran meski harus menghadapi intimidasi politik adalah teladan abadi bagi para intelektual.
Dari peristiwa Wafatnya Said bin al-Musayyib (94 H) ini mengajarkan tentang pentingnya Integritas intelektual dan Wara’ (Kehati-hatian). Seorang berilmu tidak boleh menjadi “stempel” bagi kekuasaan. Said bin al-Musayyib mengajarkan bahwa kemuliaan ilmu ada pada independensinya. Beliau menunjukkan bahwa keberkahan hidup bukan dari banyaknya harta, melainkan dari bersihnya sumber penghidupan.
4. Persiapan Ekspedisi Militer Dinasti Mamluk
Dalam catatan sejarah Mesir, beberapa kali tanggal 14 Ramadhan menjadi momen di mana Sultan-Sultan Mamluk melakukan mobilisasi pasukan untuk menghalau serangan luar (baik Mongol maupun Tentara Salib). Dinasti Mamluk dikenal sebagai “Perisai Islam” di abad pertengahan yang berhasil menjaga stabilitas wilayah Timur Tengah dari kehancuran total.
Apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini? Tentu adalah Kesiapsiagaan (Ribat). Puasa tidak boleh mengurangi kewaspadaan nasional. Mempertahankan kedaulatan adalah bagian dari ibadah yang agung.
***
Mengapa sejarah menempatkan peristiwa yang begitu kontras (pembantaian dan kemenangan) di tanggal yang sama? Ya, disini sangat penting menjaga keseimbangan antara sabar dan syukur. Tanggal 14 Ramadhan mengajarkan kita untuk bersabar atas tragedi (seperti di Hebron) dan bersyukur atas prestasi (seperti di Sisilia). Hidup seorang mukmin berada di antara dua kutub ini. Kekalahan atau musibah bukan berarti Allah meninggalkan kita, dan kemenangan bukan berarti kita boleh sombong.
Keberhasilan menguasai Syracuse menunjukkan kekuatan fisik yang prima meski dalam keadaan berpuasa. Sementara itu, keteguhan Said bin al-Musayyib menunjukkan kekuatan mental dan integritas. Kedua hal ini adalah esensi dari puasa: melatih kontrol diri untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Kita tidak lagi berada di era penaklukan wilayah secara fisik (ekspansi militer), namun tantangan kita tidak kalah berat. Tragedi Masjid Ibrahimi berakar dari kebencian. Kita harus membalasnya dengan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membangun peradaban (seperti di Sisilia), bukan agama kekerasan.
Belajar dari Dinasti Aghlabiyyah, umat Islam harus menguasai jalur perdagangan dan teknologi (saat ini digital dan maritim) untuk menjadi pemain kunci di panggung global. Para pendidik dan ilmuwan harus meneladani Said bin al-Musayyib dengan menyuarakan kebenaran berdasarkan data dan fakta, bukan berdasarkan pesanan pihak tertentu.
Jadi, Peristiwa 14 Ramadhan adalah narasi tentang ketahanan. Ia bercerita tentang darah para syuhada yang membasahi lantai masjid, tentang deru kapal perang yang membawa misi peradaban ke Eropa, dan tentang pena para ulama yang menjaga kemurnian syariat.
Tanggal ini mengingatkan kita bahwa setiap detik di bulan Ramadhan sangat berharga. Ia bisa menjadi momen lahirnya karya besar, atau momen transisi menuju pertemuan dengan Sang Khalik. Semoga kita mampu mengambil ibrah (pelajaran) untuk menjadikan Ramadhan kita tahun ini lebih produktif dan bermakna. (*)
Bahan Bacaan:Â
Dr. Raghib As-Sirjani. Qishat al-Andalus wa al-Suquliyah (Sejarah Andalusia dan Sisilia).
Ibnul Athir. Al-Kamil fi al-Tarikh. (Catatan detail mengenai penaklukan Syracuse oleh Dinasti Aghlabiyyah).
Ahmad Thomson. Islam in Sicily. (Mengenai kontribusi peradaban Islam di Sisilia)
Al-Jazeera Documentary. The Hebron Massacre: 14 Ramadan 1414. (Dokumentasi sejarah modern mengenai tragedi Masjid Ibrahimi).
Imam Adz-Dzahabi. Siyar A’lam al-Nubala. (Biografi lengkap Said bin al-Musayyib).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


