BerandaArtikelRefleksi Peristiwa Bersejarah 9 Ramadhan

Refleksi Peristiwa Bersejarah 9 Ramadhan

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Jejak Peristiwa Bersejarah 8 Ramadhan

PALONTARAQ.ID – Tanggal 9 Ramadhan adalah salah satu tanggal yang penuh dengan dinamika militer, diplomatik, dan intelektual. Dari ekspedisi pertama di masa Rasulullah hingga penaklukan besar di tanah Eropa dan Afrika, tanggal ini menjadi saksi ketangguhan umat Islam.

Bulan Ramadhan seringkali menjadi saksi bagaimana keterbatasan fisik akibat puasa justru bertransformasi menjadi kekuatan spiritual yang melahirkan kemenangan-kemenangan besar. Dalam catatan sejarah, Tanggal 9 Ramadhan bukan sekadar angka, melainkan simbol keberanian ekspansi dakwah dan penguatan kedaulatan Islam di berbagai penjuru dunia.

1. Ekspedisi Dhirar bin al-Azwar (9 H / 630 M)

Salah satu peristiwa awal yang tercatat pada 9 Ramadhan tahun ke-9 Hijriah adalah pengiriman detasemen militer di bawah pimpinan Dhirar bin al-Azwar oleh Rasulullah SAW. Ekspedisi ini ditujukan kepada kabilah Tamim yang mulai menunjukkan tanda-tanda pembangkangan terhadap otoritas Madinah.

Tahun ke-9 Hijriah dikenal sebagai ‘Am al-Wufud (Tahun Delegasi), di mana suku-suku Arab berbondong-bondong datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Namun, stabilitas negara baru ini tetap membutuhkan pengamanan di wilayah perbatasan. Pengiriman Dhirar bin al-Azwar pada 9 Ramadhan membuktikan bahwa Islam tidak memberikan ruang bagi anarki yang dapat merusak tatanan sosial yang baru dibangun. Para sahabat tetap menjalankan tugas negara yang berat meski dalam kondisi berpuasa, menunjukkan bahwa kewajiban agama dan kewajiban sosial-politik berjalan beriringan.

2. Penaklukan Sisilia, Italia (212 H / 827 M)

Pada Tanggal 9 Ramadhan 212 Hijriah, di bawah kepemimpinan Dinasti Aghlabiyah dari Afrika Utara (Tunisia), pasukan Muslim memulai pendaratan besar-besaran di Sisilia, Italia. Ekspedisi ini dipimpin oleh seorang ulama sekaligus panglima, Asad bin al-Furat.

Pendaratan pada Tanggal 9 Ramadhan ini menjadi awal dari kehadiran Islam di Sisilia selama lebih dari 200 tahun. Di bawah kekuasaan Islam, Sisilia (khususnya Palermo) berubah menjadi salah satu pusat intelektual, pertanian, dan seni terbesar di Mediterania, menyaingi Cordoba dan Baghdad. Ilmu pengetahuan dari Sisilia inilah yang nantinya menjadi salah satu jembatan utama masuknya sains Islam ke Eropa daratan.

3. Pertempuran Zallaqa di Andalusia (479 H / 1086 M)

Meskipun puncak pertempuran sering dikaitkan dengan akhir Ramadhan atau awal Syawal, persiapan strategis dan mobilisasi pasukan Yusuf bin Tasyafin (pemimpin Al-Murabitun) untuk membantu umat Islam di Andalusia mencapai titik krusialnya pada Tanggal 9 Ramadhan.

Kemenangan dalam Pertempuran Zallaqa ini sangat penting karena berhasil menghentikan kemunduran drastis kerajaan-kerajaan Islam (Muluk ath-Thawaif) di Spanyol dari serangan Alfonso VI. Kemenangan ini memperpanjang keberadaan Islam di Andalusia selama beberapa abad berikutnya.

***

Salah satu fenomena unik dari peristiwa 9 Ramadhan, terutama dalam kasus Asad bin al-Furat di Sisilia, adalah sosok pemimpinnya. Asad bin al-Furat bukan sekadar tentara, ia adalah seorang ahli fikih (murid dari Imam Malik dan Imam Abu Hanifah).

Hal ini menunjukkan bahwa dalam sejarah Islam, intelektualitas dan keberanian lapangan tidak dipisahkan. Seorang ulama tidak hanya duduk di menara gading, tetapi juga turun tangan saat kedaulatan umat terancam atau saat dakwah islamiyah memerlukan pembukaan jalan baru.

Ekspedisi Dhirar bin al-Azwar pada Tanggal 9 Ramadhan menunjukkan konsep “pertahanan maju”. Rasulullah SAW tidak menunggu ancaman masuk ke jantung kota Madinah. Dengan mengirimkan detasemen kecil pada awal Ramadhan, beliau memberikan sinyal kekuatan (deterrence) yang efektif. Strategi ini sangat modern dan menunjukkan kecerdasan geopolitik Nabi dalam menjaga stabilitas semenanjung Arabia.

Mengkaji sejarah Tanggal 9 Ramadhan memberikan kita perspektif baru tentang makna perjuangan. Bahwa Puasa sebagai Generator Energi, Bukan Penghambat. Peristiwa-peristiwa besar di atas terjadi saat para pelakunya sedang berpuasa. Hikmahnya bagi kita hari ini: Puasa seharusnya meningkatkan fokus dan disiplin. Jika para pendahulu kita bisa menaklukkan wilayah baru dan menempuh ribuan kilometer di atas kuda saat berpuasa, maka hambatan pekerjaan kantor atau tugas kuliah saat ini seharusnya terasa jauh lebih ringan.

Belum lagi pelajaran tentang Pentingnya Kepemimpinan yang Berilmu. Sosok Asad bin al-Furat mengajarkan bahwa pemimpin masa depan umat Islam haruslah mereka yang menggabungkan kekuatan spiritual (ilmu agama) dengan kemahiran teknis (strategi/sains). Tanpa ilmu, keberanian bisa menjadi kecerobohan; tanpa keberanian, ilmu hanya menjadi catatan mati.

Bantuan Yusuf bin Tasyafin dari Afrika Utara ke Andalusia (Spanyol) yang dikonsolidasikan pada bulan Ramadhan mengajarkan tentang Ukhuwah Islamiyah. Ketika satu bagian umat terancam, bagian lain harus memberikan bantuan. Ini adalah pengingat bagi kita untuk selalu peduli pada isu-isu kemanusiaan global.

Ekspedisi terhadap Bani Tamim mengajarkan bahwa kedamaian hanya bisa terwujud jika ada wibawa kepemimpinan. Islam menjunjung tinggi perdamaian, namun Islam juga mengajarkan untuk tidak membiarkan kehormatan umat diinjak-injak oleh pihak-pihak yang melanggar janji.

Di masa sekarang, kita tidak lagi melakukan ekspansi militer, namun semangat 9 Ramadhan dapat diterjemahkan ke dalam bentuk lain. Jika dahulu Tanggal 9 Ramadhan adalah tentang membuka wilayah baru, sekarang adalah tentang membuka pasar baru bagi produk halal dan inovasi teknologi buatan umat Islam. Belajar dari tahun delegasi (9 H), umat Islam harus memperkuat peran diplomasi di lembaga-lembaga internasional untuk menyuarakan keadilan.

Jadi, Tanggal 9 Ramadhan adalah hari di mana gerbang-gerbang baru dibuka. Dari padang pasir Arabia hingga pesisir Italia, tanggal ini mencatatkan langkah kaki para pejuang yang membawa cahaya Islam. Tugas kita sekarang bukan sekadar membanggakan narasi masa lalu, melainkan mengambil apinya untuk menyalakan kembali semangat kebangkitan umat di bidang pendidikan, ekonomi, dan moralitas. (*)

Bahan Bacaan: 

Ahmad bin Yahya al-Baladhuri. Futuh al-Buldan. (Sejarah penaklukan wilayah-wilayah Islam).

Dr. Raghib as-Sirjani. Qishat al-Andalus. (Analisis mengenai bantuan Al-Murabitun ke Andalusia).

Ibnu Jarir ath-Thabari. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. (Referensi utama kronik sejarah Islam klasik).

Ibnu al-Athir. Al-Kamil fi al-Tarikh. (Menjelaskan secara rinci tentang penaklukan Sisilia dan peran Asad bin al-Furat).

Imam Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa an-Nihayah. (Memberikan detail mengenai suksesi dan peristiwa penting di berbagai kekhalifahan).

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Ar-Rahiq Al-Makhtum. (Mencatat ekspedisi militer di tahun-tahun terakhir kenabian).

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT