Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama Nur Atikah Salsabila, santriwati SMA Kelas X pindahan asal Polewali Mandar. Sosoknya kuat menghafal dan berani menjawab tantangan orang tua dalam menuntut ilmu di Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.
Nur Atikah Salsabila sebelumnya adalah siswi Madrasah Aliyah Pesantren Wahid Hasyim di Jombang, Jawa Timur yang dijalani hanya satu semester. Ia sosok santri tahfidz yang mudah bergaul dan cepat menyesuaikan diri. Pada jenjang Tsanawiyah, diselesaikannya di Ponpes Al-Ikhlas Bate Tangnga Polewali Mandar. Kepindahan sekolah adalah salah satu wujud keberanian merantau dan memenuhi harapan orangtua untuk tetap menuntut ilmu agama dan mendewasakan diri di Pangkep.
Rihlah Ilmu Santri Tahfidz
Niatnya marfū‘ di hati, menjawab amr orang tua tanpa ta’wīl ragu.
Untuk ilmu ia melangkah, sebab thalabul ‘ilmi adalah jumlah wajib dalam hidupnya.
Rihlah dari Polewali Mandar menjadi mubtada’ kisah kedewasaan.
Aliyyah ia mulai di Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM,
Tsanawiyahnya dahulu di Al-Ikhlas Bate Tangnga jadi maf‘ūl pengalaman.
Intiqāl dari Wahid Hasyim Jawa Timur bukan nasakh mimpi,
Karena hijrah itu fi‘il syajā‘ah—kata kerja keberanian.
Adaptasinya cepat, seakan dhamīr yang langsung paham letaknya.
Hāl dirinya ramah, mudah bergaul tanpa ḥarf ziyādah yang dibuat-buat.
Santri tahfidz, ia menjaga ayat seperti i‘rab yang tak boleh salah.
Ayat-ayat terpatri dalam dada, menjadi taukīd atas tekadnya.
Langkahnya tertib, seperti nahwu yang tersusun rapi dalam kitab.
Sabar menjadi khabar indah dari mubtada’ perjuangannya.
Amānah orang tua ia junjung sebagai fa‘il yang menggerakkan tekad.
Berani merantau adalah badal terbaik dari rasa takut yang tersembunyi.
Ibtidā’ di kelas satu SMA ia niatkan sebagai awal jumlah baru.
Lillah tujuannya, agar ridha orang tua menjadi maf‘ūl akhir perjuangan.
Akhirnya ia paham, kedewasaan adalah i‘rab hidup yang terus diperbaiki.
***
Puisi Akrostik ini mengirimkan pesan bahwa kepindahan mondok adalah wujud keberanian seorang santriwati tahfidz.Hijrah dari satu tempat ke tempat lain bukan tanda kelemahan, tetapi proses pendewasaan diri. Sebagai santri tahfidz, menjaga Al-Qur’an sama seperti menjaga i‘rab—harus teliti dan sungguh-sungguh.
Kekuatan merasakan dua pondok yang berbeda budaya mengajarkannya harus cepat menyesuaikan diri dan menunjukkan bahwa Ridha dan keinginan orang tua memondokkannya adalah jalan membahagiakan. Semua perjuangan akhirnya bermuara pada harapan sederhana: menjadi anak yang membanggakan dan diridhai. (*)
Minasatene-Pangkep, 26 Februari 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.