Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Wasiat Ilmu Yang Berharga
PALONTARAQ.ID – Apa itu People Pleaser? People pleaser adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengorbankan kebutuhan dan kepentingannya sendiri.
People Pleaser seringkali merasa perlu untuk selalu disetujui dan disukai oleh orang lain, sehingga sulit untuk mengatakan “tidak” atau mengungkapkan pendapat yang berbeda.
Apa saja Ciri-ciri People Pleaser itu? Pertama, Sulit mengatakan “tidak”. People Pleaser merasa tidak nyaman menolak permintaan orang lain, bahkan jika itu memberatkan. Kedua, Memprioritaskan kebutuhan orang lain. People Pleaser cenderung mengabaikan kebutuhan dan perasaan mereka sendiri demi menyenangkan orang lain. Ketiga, Takut akan penolakan. People Pleaser sangat takut ditolak atau tidak disukai oleh orang lain.
Apa lagi ciri people pleaser lainnya? Keempat, Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. People Pleaser seringkali merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain, bahkan jika itu di luar kendali mereka. Kelima, Mengubah diri sendiri untuk menyesuaikan diri. People Pleaser seringkali mengubah perilaku atau kepribadian mereka untuk menyesuaikan diri dengan orang lain.
Apa saja Dampak Menjadi People Pleaser? Pertama, Stres dan kelelahan. Selalu berusaha menyenangkan orang lain dapat menyebabkan stres dan kelelahan yang berkepanjangan. Kedua, Kehilangan identitas diri. Terlalu fokus pada keinginan orang lain dapat membuat seseorang kehilangan identitas diri dan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Ketiga, Hubungan yang tidak sehat. Meskipun bermaksud baik, perilaku people pleaser dapat menyebabkan hubungan yang tidak sehat, karena orang lain mungkin mulai memanfaatkan kebaikan mereka. Keempat, Masalah kesehatan mental. Dalam jangka panjang, menjadi people pleaser dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Bagaimana Cara Mengatasi Perilaku People Pleaser? Pertama, Tentu harus Mengenali perasaan sendiri. Belajarlah untuk mengenali dan menghargai perasaan dan kebutuhan sendiri. Kedua, Belajar mengatakan “tidak”. Melatih diri untuk mengatakan “tidak” dengan tegas dan sopan.
Ketiga, Menetapkan batasan. Menetapkan batasan yang jelas dalam hubungan dengan orang lain. Keempat, Memprioritaskan diri sendiri. Memprioritaskan waktu dan energi untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kelima, Mencari dukungan. Berbicara dengan teman, keluarga, atau terapis untuk mendapatkan dukungan dan perspektif yang berbeda.
Yang penting untuk diingat adalah bahwa Menjadi people pleaser bukanlah tanda kelemahan. Ini adalah pola perilaku yang dapat diubah dengan kesadaran dan upaya. Dengan mengenali perilaku ini dan menerapkan strategi yang tepat, kamu dapat membangun hubungan yang lebih sehat dan bahagia dengan diri sendiri dan orang lain.
Apakah kamu merasa bahwa kamu adalah seorang people pleaser? Jika ya, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Terapis, atau bahkan cukup dengan curhat dengan orang terdekat, keluarga atau sahabat dapat membantumu mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi perilaku ini.
Tidak jadi masalah sih sebenarnya untuk menyenangkan atau membahagiakan orang lain, asal jangan perasaan orang terus yang mau diperhatikan, tanpa mempedulikan perasaan kita sendiri. Seseorang dengan sifat “People Pleaser” akan capek sendiri, mencari terus ridha dan perhatian orang lain. Bukankah lebih baik kita mencari perhatian dan ridha darin Tuhan, Allah SWT.
So, Berhentilah jadi people pleaser. Berpikir, bertindak, dan tempatkanlah perasaan diri sendiri dengan orang lain dalam porsi yang sewajarnya. Semoga catatan ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.


