Oleh: Etta Adil *)
Related Post: Puisi: Konstanta Hati Seorang Guru
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama “Zakiah Asshohrah”, yang menggambarkan sosok santri teruji semangat belajar dan keaktifan di ekskul sekolah, menyeimbangkan adab dan prestasi, akademik dan non-akademik. Keikutsertaannya dalam seni tari dan fashion show sejak kelas 1 SMP menggambarkan keberanian mengekspresikan potensi diri sejak dini. Semangatnya tidak hanya emosional, tetapi terarah dan terdidik secara pedagogis.
Semangat yang Menari di Atas Batas
(1)Â
Zikir dan ziarah ilmu menjadi awal langkahnya,
Aktif di kelas, tangannya terangkat penuh makna.
Keterbatasan tak ia jadikan dinding penghalang,
Ia ubah menjadi pijakan untuk terus berkembang.
Adalah santri yang menjaga adab dalam belajar,
Hatinya tekun, cita-citanya kian mekar.
Antusias mengikuti ekskul sepulang madrasah,
Semangatnya menyala, tak pernah menyerah.
Setia berlatih meski lelah menyapa,
Harapan ia rajut dalam doa.
Olah gerak tari menjadi bahasa jiwa,
Harmoni langkahnya memukau mata.
Riang tampil di panggung penuh percaya diri,
Awal kelas satu SMP ia telah berani berdiri—
Hadir dalam fashion show, membuktikan potensi diri.
(2)
Zaman boleh berubah, namun tekadnya tetap utuh,
Ada bara semangat yang tak pernah runtuh.
Ketika teman-teman melaju dengan kelebihan masing-masing,
Ia tak mundur, justru berusaha lebih gigih dan bening.
Anak pesantren yang santun dalam sikap,
Hidupnya terarah oleh ilmu dan adab yang mantap.
Aktivitas sekolah ia jalani dengan seimbang,
Sambil terus belajar agar prestasi tak tertinggal di belakang.
Seni tari menjadi ruang ekspresi yang indah,
Hening latihan ia jalani tanpa keluh kesah.
Orang-orang terpukau pada keluwesan geraknya,
Hingga panggung fashion show pun pernah ia taklukkan sejak dini masanya.
Rintangan ia pandang sebagai guru kedua,
Agar kompetensi dan percaya diri tumbuh setara.
Hikmahnya: keterbatasan bukan akhir perjalanan, melainkan awal pembuktian.
***
Puisi Akrostik ini menggambarkan sosok yang tidak iri pada kelebihan teman-temannya, tetapi menjadikannya motivasi untuk berkembang. Aktif di ekskul dan seni menunjukkan bahwa belajar tidak terbataspada ruang kelas. Bahwa Percaya diri dibangun melalui proses. Latihan tari dan pengalaman fashion show sejak dini membentuk mental tangguh.
Pesan utamanya adalah setiap individu berhak setara dalam kompetensi dan prestasi, selama mau berjuang dan konsisten. Secara umum, kedua puisi ini menegaskan bahwa pendidikan yang baik bukan hanya soal nilai akademik, tetapi tentang keberanian, kerja keras, pengembangan bakat, dan keyakinan bahwa setiap santri mampu berdiri setara dengan usahanya sendiri.
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


