Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Andi Mappe dan Perjuangan Gerilya Melawan Belanda di Pangkep (1)
PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal Baddare Daeng Situru di Daerah Maros, khususnya Turikale? Beliau bukan hanya dikenal karena ketokohannya sebagai bangsawan yang disegani, tapi juga dikenal karena perjuangannya di masa revolusi fisik yang tak kenal kompromi kepada penjajah Belanda.
Baddare Daeng Situru dikenal sebagai pejuang terlatih merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tokoh masyarakat, pemuka agama sekaligus pahlawan asal Daerah Maros. Beliau bernama lengkap Andi Baddare Situru Arung Sawaru Matinroe Ri Panaikang, namun lebih familiar dengan sebutan Baddare Situru.

BaddarE Daeng Situru lahir di Sawaru (Sawaroe), Distrik Camba dalam Tahun 1911 dan meninggal di Maros pada 7 September 1962. Asal usul keluarganya berasal dari keturunan bangsawan Bugis di Sawaru, dikenal dengan nama Arung Sawaru. Baddare Daeng Situru merupakan anak kedua dari 8 bersaudara dari ayah bernama Daeng Situru Andi Mappasessi Petta Poeli Aroeng Maccege dan ibu bernama Andi Aisjah. Ayahnya juga adalah pemangku Ade’ Pitu (Adat Tujuh) di Kerajaan Bone.
Pada masa kecilnya sebagai anak bangsawan menerima pendidikan dan bimbingan dari ayahnya sendiri. Baddare Situru sejak kecil diajar membaca Al-Qur’an dan setelah berusia 7 tahun ia masuk Vevelog School (Sekolah Rakyat 3 tahun) di Camba, kemudian melanjutkan sekolah ke Volk School (Sekolah Rakjat) pada Tahun 1929.
Setelah menyelesaikan pendidikan pada Volk School, pada tahun itu juga ia kemudian diangkat menjadi guru bantu pada sekolah tersebut. Setelah berakhir jadi guru bantu di Volk School lalu ia diangkat menjadi kepala sekolah pada tahun 1931. Pada tahun 1936 menjadi anggota Muhammadiyah selanjutnya pada tahun itu juga diangkat menjadi pimpinan Muhammadiyah cabang Camba.
Pada tahun 1937 ia diangkat menjadi kepala kampung merangkat sebagai juru tulis. Sejak diangkat menjadi kepala kampung, perhatian diarahkan ke masalah kemasyarakatan dan pemerintahan. Profesi sebagai kepala kampung merangkap juru tulis dari tahun 1937-1941.
Pada masa pemerintahannya, BaddarE Situru mendirikan OPD (Organisasi Pertahanan Desa) sebagai pertahanan di tingkat desa, juga membentuk badan Andel Koperasi tahun 1937. Koperasi ini berkembang pesat, dan manfaatnya sangat dirasakan masyarakat sampai terjadinya perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Bentuk usaha Andel Koperasi itu mirip bentuk arisan, dimana modal usaha dari simpanan wajib anggota. Setiap bulan anggota harus menyetor jumlah uang yang telah disepakati bersama dan setelah itu akan diberikan kepada siapa yang paling membutuhkannya.
Ketokohan Baddare Situru semakin dikenal luas masyarakat ketika menyatakan pendirian dan perlawanannya terhadap NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie atau Netherlands Indies Civil Administration) di Camba, Marusu (Maros). Beliau berjuang mempertahankan kemerdekaan di Maros dan memimpin perlawanan bersenjata terhadap Sekutu (Inggris) dan Belanda yang ingin kembali masuk menjajah dengan membonceng pasukan sekutu.
Awal perjuangan Baddare Situru dimulai Tahun 1943, ketika itu memimpin langsung organisasi SOEDARA (Soember Darah Rakjat) di Daerah Maros. Awalnya, organisasi pemuda ini dibentuk Jepang untuk menghadapu keadaan sewaktu-waktu genting, mereka dimanfaatkan Jepang melawan sekutu. Namun para pejuang memiliki pikirannya sendiri dalam perjuangannya membela tanah airnya. Sebagai ketua kehormatan adalah Andi Mappanyukki dan ketua umum adalah Sam Ratulangi. Melalui SOEDARA ini disebarluaskan dan dibangun semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.
Perjuangan Baddare Daeng Situru dalam mempertahankan kemerdekaan terus berlanjut, yaitu setelah KRIS Muda Mandar eksis di Mandar dan semakin banyak anggotanya dan membentuk beberapa cabang kelaskaran di daerah lain seperti di Pangkep, Maros, Makassar, dan lain sebagainya. Kelaskaran KRIS Muda Mandar cabang Maros ini dipimpin oleh Baddare Daeng Situru.
Selanjutnya Baddare Daeng Situru melanjutkan perjuangannya di organisasi kelaskaran Pemoeda Merah Poetih (PMP). Di kelaskaran PMP ini Baddare Daeng Situru sebagai pemimpin menggantikan ayahnya yang telah wafat. Lewat PMP ini, dilakukan latihan-latihan militer dan kejuangan para pemuda untuk melakukan pelucutan senjata Jepang dan NICA.
Sejak 21 September 1945, tentara Sekutu mendarat di Makassar di bawah komando Brigadir I. Dougherty. Kedok NICA juga terbaca hingga di Sulawesi Selatan. Semangat membentuk badan perjuangan terjadi dimana-mana, termasuk di Maros, salah Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan (30 km dari kota Makassar).
Pada akhir September 1945, atas inisiatif Ratulangi dan Manai Sofyan (ketua PPNI: Pusat Pemuda Nasional Indonesia) dibentuklah TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), PMP yang dipimpin Baddare Daeng Situru bergabung dalam TRIP bersama M. Gazali.
Pada Juni 1946, kekuatan militer dan senjata pasukan pegunungan Camba lebih kuat dari Maros. Bersama M. Gazali, di Toolu Sawaru Camba, para pemuda dilatih militer khusus. Terjadi juga pelucutan senjata dari Karaeng Karaeng/ kepala distrik yang dianggap membantu NICA di Lebbo Tengngae yang dipimpin langsung oleh Baddare Daeng Situru dan M. Gazali, dan dibantu oleh Abdul Hamid K, Mannawi, Abdul Wahid Kolaka, Andi Palinrungi dan Salam Rukka.
Adapun kekuatan senjata Camba tak lepas dari peran M. Gazali (atau dikenal dengan tuan guru Mangga/Manggazali). Olehnya di Maros saat itu dua strategi dilakukan, yaitu pasukan Camba dengan kekuatan militernya berjuang lewat kontak senjata. Sedangkan pasukan Maros menjalankan strategi sabotase, misalnya pembakaran pasar malam oleh Andi Nurdin Sanrima bersama kawan kawan pejuang lainnya
Selanjutnya, diketahui banyak organisasi pejuang yang hadir saat itu dan anggotanya pun banyak yang rangkap anggota. Salah satunya yang terbentuk adalah KRIS muda Mandar di Maros/Camba, dengan tokoh sentral KRIS muda adalah Nurdin Djohan, Baddare Daeng Situru dan M. Gazali. Dari Markas mereka pun akhirnya bergabung pasukan dari Andi Mappe (tokoh pejuang Pangkep). Dalam penyamarannya ke Makassar, Nurdin Djohan tertangkap Belanda.
NICA yang saat itu merasa jengkel terhadap para pejuang Maros akhirnya menangkap istri Baddare Daeng Situru, istri M. Gazali, istri dan istri pejuang lainnya. Akhirnya, pada awal Maret 1950, Baddare Daeng Situru, M. Gazali dan beberapa pejuang lainnya ditangkap oleh Belanda. Perjuangan mereka pun (1945-1950) ini pun berakhir.
Kronologi Perjuangan Baddare Daeng Situru
Pertempuran dan Perang
– Perang Gerilya di Hutan Camba (1946)
– Pertempuran di Markas Divisi/Resimen KKM Camba di Cinope (Campulili) melawan tentara NICA (1946)
– Pertempuran di Kalumpini melawan tentara NICA (Februari 1947)
– Pertempuran di Kampung Pising (Cenrana) melawan tentara NICA (1947)
– Pertempuran di Tellu (Sawaru) melawan tentara NICA (Mei 1947)
Taktik dan Bentuk Perlawanan
– Masuk ke hutan dan melancarkan perang gerilya
– Penghadangan di berbagai tempat yang dianggap strategis
– Mengadakan pengrusakan-pengrusakan jembatan guna menghambat bantuan musuh
– Memimpin KRIS Muda Cabang Camba Divisi II Resimen II Batalyon I berjumlah 1000 pejuang pada pertempuran mempertahankan markas
– Memimpin 2 peleton menghadapi NICA di Tellu (Sawaru)
– Melakukan pelucutan senjata dan peralatan militer NICA di Lebbo TengaE.
– Menjalin aliansi dan kerjasama dengan para tokoh anti NICA di Sulawesi Selatan
– Melakukan latihan kemiliteran dan kesiapan pasukan pemuda untuk penghadangan tentara NICA menuju Camba
– Mendirikan markas militer di Kampung Tellu dan Mattajang guna mematangkan persiapan pertempuran.
Atas keinginan wakil berbagai kelaskaran yang ada di Makassar dan sekitarnya, akhirnya dilakukan penyatuan organisasi perjuangan, dan dibentuklah Laskar Pemberontak Republik Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada tanggal 17 Juli 1946. Adapun kelaskaran yang tergabung dalam LAPRIS terdapat 19 kelaskaran, yaitu Lipan Bajeng, PPNI, Kris Muda (Mandar), AMRIS, GAPIS, PBAR, LAPTUR A, LAPTUR B, Harimau Indonesia (HI) Pangkep, BPRI Pare-Pare, PPI, GPT, BUKA Limbung, KRAP Pallangga, Pemuda Maros, Pemuda Camba (KRIS Muda Camba), ALRI Makassar, BPI Makassar, dan KPS Makassar.
Pasca Pertempurna terbuka melawan NICA di sekitar wilayah Camba, Baddare Situru masuk hutan dan melancarkan perang gerilya. Bersama pasukannya, melakukan penghadangan di berbagai tempat yang dianggap strategis serta mengadakan pengrusakan jembatan guna menghambat pergerakan dan bantuan musuh. Pada tahun 1947 Baddare Daeng Situru ditangkap oleh NICA dan dipenjarakan di Maros, kemudian dipindahkan ke penjara di Makassar, pada tahun 1949 baru dibebaskan.

Baddare Daeng Situru mempunyai dua orang istri, yaitu istri pertama bernama Jeppong dan istri kedua bernama Djamme. Dari kedua istrinya tersebut, Baddare Daeng Situru memiliki 12 orang anak, diantaranya: Andi Sukiman, Andi Nurhayati, Andi Marwan, Andi Enre, Andi Sompe, Andi Ade, Andi Late, Andi Amal, Andi Aking, Andi Gempar, Andi Nikma, dan 1 tidak diketahui namanya. (*)
Penghargaan Kejuangan dan Tanda Jasa
– Tanggal 7 September 1962: Baddare Situru wafat. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang di Kota Makassar.
– 10 November 1958: Penghargaan Bintang Gerilya, Satyalancana Dharma Pemuda, dan Piagam Penghargaan Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden RI, Soekarno.

– Nama Baddare Situru diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Desa Sawaru, Kelurahan Cempaniga, Kecamatan Camba dan Kota Turikale Kabupaten Maros, juga diabadikan sebagai nama lapangan sepak bola di Desa Sawaru Kabupaten Maros.

Referensi:
– “Kisah Kepahlawanan: Melepas Status Gurunya, Baddare Daeng Situru dan M. Gazali, Bergerilya di Hutan Camba”. smartcitymakassar.com. 13 Mei 2019. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-09. Diakses tanggal 27 Mei 2020.
– Jamaluddin (1992) (dalam bahasa Indonesia). Peranan Baddare Situru Sebagai Tokoh Masyarakat Pemuka Agama dan Pejuang Kemerdekaan di Camba (Tesis Thesis). Hasanuddin University.
– Kadir, Harun, dkk (1984). Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan 1945-1950. Ujung Pandang: Kerjasama Bappeda Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan & Universitas Hasanuddin.
– Nadja, Bahtiar (2017). “Baddare Daeng Situru: Pejuang dan Tokoh Agama di Kabupaten Maros 1945-1950” [Baddare Daeng Situru: The Warior and Religious Leader in Maros 1945-1950]. Indonesia (dalam bahasa Indonesia). 23: 24–34.
– Poelinggomang, Edward L. (2005). Sejarah Sulawesi Selatan, Jilid 2. Makassar: Balitbangda & Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Sulawesi Selatan.
– Pawiloy, Sarita (1987). Arus Revolusi 45 di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Dewan Harian Angkatan 45 Provinsi Sulawesi Selatan Masa Bhakti 1985-1989.
– Rasyid, Darwas MS (1990). Sejarah Daerah Tingkat II Kabupaten Maros. Ujung Pandang: Laporan Penelitian Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang.
– Tamma, Abd. Rahman, dkk (Tanpa Tahun). Kelaskaran Kebaktian Rahasia Islam Muda 1945-1950, KRIS Muda Divisi II Makassar.
(* M. Farid W Makkulau, Penulis dan Pemerhati Sejarah Daerah.


