Oleh: Muslimah *)
Related Post: Proses Islamisasi Masa Kerajaan Siang di Kabupaten Pangkep
PALONTARAQ.ID – BARANGKALI KITA terlalu lama memulai sejarah Islam di Sulawesi Selatan dari istana. Kita menghafal nama raja yang pertama kali mengucapkan syahadat. Kita mengenang kedatangan tiga ulama Minangkabau yang dikenal sebagai Datu Tallua atau Datu Tellué.
Kita menandai tahun ketika Islam diterima secara resmi oleh kerajaan, diumumkan kepada rakyat, lalu disebarkan ke negeri-negeri tetangga. Semua itu penting. Namun, apabila sejarah Islam hanya dimulai ketika seorang raja berganti gelar menjadi sultan, kita telah menghilangkan manusia-manusia yang lebih dahulu membawa Islam melalui gelombang laut, geladak kapal, pasar, perkawinan, dan pergaulan sehari-hari.
Di pesisir Kerajaan Siang, jauh sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan, orang-orang Melayu Muslim telah datang, berdagang, membangun permukiman, dan berbaur dengan masyarakat setempat. Mereka mungkin tidak
datang dengan pasukan. Mereka tidak membawa titah penaklukan. Tidak ada genderang perang yang mengumumkan kedatangan mereka.
Yang terdengar barangkali hanyalah bunyi layar diturunkan, kayu kapal beradu dengan dermaga, percakapan dalam berbagai bahasa,
serta tawar-menawar komoditas yang dibawa dari barat dan timur Nusantara. Akan tetapi, di antara barang dagangan itu, ikut berlayar sebuah keyakinan.
Islam tiba di Siang bukan pertama-tama sebagai perintah istana, melainkan sebagai cara hidup yang dibawa para perantau. Syahadat menyeberangi laut bersama saudagar. Doa-doa dibaca di antara perjalanan niaga. Hubungan sosial dibangun sebelum lembaga agama dibentuk. Di sinilah khazanah sejarah Islam Pangkep memperlihatkan wajahnya yang berbeda: Islam telah hadir sebagai kehidupan sebelum disahkan sebagai kekuasaan.
Kerajaan Siang bukan kerajaan kecil yang terputus dari percaturan kawasan. Ia pernah menjadi kota niaga penting di pesisir barat Sulawesi Selatan. Catatan Portugis menggambarkan pelabuhannya telah dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah Nusantara dan bangsa Eropa pada pertengahan Abad ke-16.
Manuel Pinto bahkan memperkirakan penduduk Siang sekitar 40.000 jiwa pada 1545, sedangkan penguasanya digambarkan memiliki keyakinan besar terhadap kemampuan negeri itu menyediakan bahan pangan bagi jaringan perdagangan yang lebih luas. Angka tersebut tentu harus dibaca sebagai perkiraan seorang pengamat asing, tetapi tetap menunjukkan bagaimana Siang dipandang sebagai pusat politik dan ekonomi yang diperhitungkan.
Siang tumbuh karena menghadap laut. Laut tidak menjadikan Pangkep berada di pinggir sejarah. Laut justru menempatkannya di tengah jalur perjumpaan. Dari perairan itulah para pedagang, bahasa, barang, pengetahuan, agama, dan kabar mengenai dunia luar datang
silih berganti.
Pelabuhan Siang terhubung dengan jaringan niaga yang menjangkau Malaka, Pasai, Jawa, Kalimantan, Maluku, dan pusat-pusat perdagangan lain di Nusantara. Pada abad ke-15 dan ke-16, Siang bersama Suppa telah dikenal memainkan peranan penting di
sepanjang pesisir barat Sulawesi Selatan.
Karena itu, kedatangan Islam di Siang tidak dapat dipisahkan dari kebesaran maritimnya. Islam tidak datang ke ruang kosong. Ia menemukan masyarakat yang telah terbiasa bertemu orang asing, menerima pedagang, menimbang manfaat hubungan luar, dan
hidup dalam suasana pelabuhan yang majemuk.
Di sinilah kita seharusnya merasa bangga. Jauh sebelum istilah globalisasi dikenal, pesisir Pangkep telah menjadi ruang kosmopolitan. Orang-orang dengan dari beragam asal, bahasa, dan keyakinan berbeda bertemu di sana. Siang tidak sekadar menunggu dunia datang.
Siang menjadi salah satu pintu tempat Sulawesi Selatan berhubungan dengan dunia.
***
M Farid W Makkulau, budayawan Pangkep yang tekun menelusuri sejarah lokal, mengangkat fragmen penting ini dalam tulisannya berjudul Ince di Pangkep, dengan merujuk laporan pelaut Portugis dan tradisi tutur masyarakat, Makkulau menulis bahwa Antonio de Paiva menyaksikan komunitas pedagang Melayu di pesisir barat Siang ketika berkunjung pada awal dekade 1540-an.
Menurut keterangan Raja Siang yang dicatat dalam laporan tersebut, orang-orang Melayu telah berada di sana sekitar lima puluh tahun sebelumnya. Jika hitungan itu digunakan, keberadaan mereka dapat ditarik hingga sekitar tahun 1490.
Kajian lain bahkan memperkirakan orang Melayu telah melakukan aktivitas perdagangan di Siang paling tidak sejak pertengahan abad ke-15. Karena sumber mengenai Siang tidak seluruhnya utuh dan banyak rekonstruksi bergantung pada laporan Portugis, naskah yang tersebar, temuan arkeologis, serta tradisi lisan, angka 1450 atau 1490 sebaiknya dibaca sebagai perkiraan historis, bukan tanggal kedatangan yang mutlak.
Namun, berbagai sumber bertemu pada satu kesimpulan penting: komunitas Melayu Muslim telah berada di Siang sebelum Islam diterima secara resmi oleh Gowa-Tallo pada awal abad ke-17. Mereka berasal dari berbagai kawasan dunia Melayu, seperti Malaka, Johor, Pattani, Pahang, Minangkabau, dan kemungkinan wilayah lainnya. Mereka datang untuk berniaga, berlayar, mencari tempat tinggal, menjalin hubungan politik, dan menyampaikan Islam.
Gelombang kedatangan itu semakin luas seiring perubahan politik di Selat Malaka, termasuk setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Penelitian Muhlis Hadrawi menunjukkan bahwa diaspora Melayu menuju pesisir barat Sulawesi Selatan berlangsung dalam beberapa
gelombang dari abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-17. Kedatangan mereka didorong bukan hanya oleh perdagangan, tetapi juga dakwah, kunjungan sosial, dan pengungsian politik.
Bayangkanlah pemandangan itu. Di dermaga Siang, seorang pedagang Melayu menurunkan kain, keramik, logam, atau barang lain dari kapalnya. Ia bertemu pedagang lokal yang membawa beras dan hasil bumi. Mereka melakukan transaksi, lalu berbincang. Hari
terus berganti, perjalanan niaga berubah menjadi permukiman. Orang yang semula disebut pendatang menikah dengan penduduk setempat. Anak-anak mereka tumbuh dengan lebih dari satu bahasa dan lebih dari satu ingatan asal-usul.
Islam tidak hanya disampaikan melalui khotbah. Ia diperkenalkan melalui kejujuran dalam perdagangan, tata pergaulan, perkawinan, persahabatan, serta contoh kehidupan sehari-hari. Tidak semua orang segera berpindah keyakinan. Tidak pula kerajaan langsung
menetapkan Islam sebagai agama resmi. Akan tetapi, masyarakat mulai mengenal keberadaan orang Muslim, praktik ibadah mereka, konsep ketuhanan mereka, dan jaringan dunia yang mereka bawa. Di Siang, pasar menjadi ruang perjumpaan budaya. Pelabuhan menjadi pintu dakwah. Rumah tangga menjadi tempat integrasi.
Di sinilah proses masuknya Islam di Siang memiliki aksentuasi yang berbeda dari narasi utama Islamisasi Sulawesi Selatan. Dalam sejarah yang umum diajarkan, Islamisasi Sulawesi Selatan mencapai momentum politik ketika para penguasa menerimanya secara resmi.
Tiga ulama Minangkabau datang dengan pendekatan dakwah yang disesuaikan dengan keadaan masing-masing wilayah.
Islam diterima oleh penguasa Luwu pada awal abad ke-17, lalu diterima secara formal di Tallo dan Gowa pada 1605. Setelah penguasa Gowa-Tallo memeluk Islam, agama tersebut dilembagakan sebagai agama kerajaan dan penyebarannya berlangsung cepat ke kerajaan-kerajaan lain hingga sekitar 1611.
Pola tersebut sering disebut sebagai Islamisasi dari atas atau top-down: raja menerima agama baru, kemudian rakyat dan struktur kerajaan mengikutinya. Agama memperoleh legitimasi politik, perangkat kelembagaan, pejabat keagamaan, aturan, serta dukungan kekuasaan.
Siang memperlihatkan lapisan sejarah yang lebih awal. Di pesisir Siang, Islam mula-mula hadir melalui masyarakat perantau dan hubungan niaga. Prosesnya lebih dekat kepada Islamisasi dari bawah: perlahan, interpersonal, tidak seragam, dan tidak segera mengubah
dasar resmi kerajaan. Pedagang Muslim dapat hidup berdampingan dengan masyarakat yang masih memegang kepercayaan lama. Islam telah dikenal, mungkin juga dianut sebagian orang, tetapi belum menjadi identitas formal negara.
M. Farid W. Makkulau menegaskan kemungkinan bahwa Siang telah lebih dahulu menerima kehadiran orang Islam dibandingkan Gowa, walaupun Islam saat itu belum ditetapkan sebagai agama resmi kerajaan. Ia menduga kuatnya kepercayaan lama dan pengaruh bissu
dalam lingkungan kerajaan turut menjelaskan mengapa penerimaan sosial terhadap komunitas Muslim tidak langsung diikuti perubahan agama kerajaan.
Perbedaan ini sangat penting. Masuknya Islam tidak sama dengan berdirinya kerajaan Islam. Kedatangan orang Muslim adalah satu tahap. Terbentuknya komunitas Muslim merupakan tahap lain. Penerimaan sebagian masyarakat adalah proses berikutnya. Adapun pengucapan syahadat oleh raja dan pelembagaan Islam sebagai agama negara adalah tahap politik yang berbeda.
Selama ini, sejarah terpukau kepada tahap terakhir. Kita mencatat tanggal ketika kerajaan menjadi Islam, tetapi kurang bertanya siapa yang salat di pesisir puluhan tahun sebelumnya. Kita menghafal nama sultan, tetapi melupakan saudagar yang mungkin pertama
kali memperdengarkan ayat Al-Qur’an. Kita membicarakan kemenangan politik Islam, tetapi jarang mengenang keramahan sosial yang memungkinkan seorang pendatang mendirikan rumah dan membangun keluarga di tanah Siang.
Siang bukan satu-satunya pelabuhan di Sulawesi Selatan yang lebih awal didatangi pedagang Muslim. Suppa juga memiliki komunitas pedagang Melayu sebelum penerimaan Islam secara resmi oleh kerajaan-kerajaan besar. Kajian Christian Pelras menunjukkan bahwa
masyarakat Sulawesi Selatan telah berhubungan secara teratur dengan pedagang dan mubalig Muslim selama lebih dari satu abad sebelum Islam dilembagakan sebagai agama kerajaan.
Di beberapa tempat bahkan telah terdapat orang Bugis dan Makassar Muslim sebelum penguasa menerima Islam secara resmi.
Karena itu, keistimewaan Pangkep tidak perlu dibangun dengan klaim bahwa Siang adalah satu-satunya atau pasti yang pertama. Keistimewaannya terletak pada kepadatan jejak yang masih dapat dibaca: reputasi Siang sebagai kota pelabuhan, laporan Portugis mengenai komunitas Melayu, tradisi tutur mengenai perkampungan mereka, percampuran dengan penduduk setempat, gelar-gelar keluarga, dan jejak identitas Melayu yang bertahan dalam masyarakat Pangkep.
Kajian Hadrawi menyebut komunitas Melayu di Siang telah hidup terorganisasi, mempunyai pemimpin dari kalangan sendiri, dan mempertahankan pola kehidupan yang berkaitan dengan adat Melayu. Anrongappaka disebut sebagai salah satu kawasan
permukiman, meliputi kampung-kampung seperti Sengkae, Baru-Baru, Lesang, dan Kajuara. Pengaruh Melayu juga ditelusuri melalui sapaan dan gelar seperti Datok, Ance, Ince, Unda, Bunda, dan Bonda.
M. Farid W. Makkulau menghubungkan jejak tersebut dengan wilayah seperti Lempangan, Bontomangape, Tekolabbua, Parang-Parang, dan Pandang Lau. Dalam tradisi sosial Pangkajene, sebagian keturunan komunitas itu dikenal dengan gelar ‘Ince’ dan sapaan ‘Unda’.
Gelar itu bukan sekadar sebutan keluarga. Ia adalah arsip hidup.
Ketika dokumen tertulis hilang, terbakar, lapuk, atau tersebar, masyarakat menyimpan sejarah dalam nama. Sebuah sapaan dapat menjadi sisa perjalanan laut berabad-abad. Sebuah kampung dapat menjadi peta diaspora. Sebuah larangan keluarga, cerita tentang perahu, atau ingatan mengenai nenek moyang dapat menyimpan serpihan sejarah yang tidak tercatat dalam naskah kerajaan.
Inilah salah satu kekuatan tulisan M. Farid W. Makkulau. Ia tidak membatasi sejarah pada istana dan peperangan. Ia membaca masyarakat sebagai dokumen. Gelar, cerita keluarga, nama kampung, makam, dan tradisi tutur diperlakukan sebagai petunjuk yang harus dipertemukan dengan sumber tertulis.
***
Kebesaran Siang akhirnya meredup ketika Gowa tumbuh sebagai kekuatan politik dan maritim baru. Pada pertengahan abad ke-16, Gowa menaklukkan sejumlah kerajaan di pesisir barat, termasuk Siang dan Suppa. Setelah itu, pusat perdagangan beralih menuju Somba Opu.
Keahlian dan jaringan pedagang Melayu yang sebelumnya berkembang di Siang ikut menjadi bagian dari pertumbuhan pelabuhan Gowa.
Perubahan tersebut bukan hanya pergantian pelabuhan. Juga mengubah pusat penulisan sejarah. Ketika Gowa tampil sebagai kerajaan besar, menerima Islam secara resmi, lalu menyebarkannya ke berbagai negeri, narasi Islamisasi Sulawesi Selatan secara wajar
banyak berpusat pada Gowa-Tallo. Siang yang telah kehilangan kedaulatan politik perlahan ditempatkan di pinggir cerita. Kehadiran awal komunitas Melayu Muslim di pesisirnya seakan hanya menjadi pendahuluan kecil menuju sejarah yang dianggap lebih besar.
Padahal, tanpa pelabuhan-pelabuhan awal seperti Siang dan Suppa, masyarakat Sulawesi Selatan mungkin tidak memiliki pengalaman panjang berinteraksi dengan dunia. Penelitian mengenai diaspora Melayu bahkan menunjukkan bahwa setelah Siang ditaklukkan, aktivitas perdagangan dan komunitas Melayu semakin diarahkan ke Gowa.
Kemunduran politik Siang berjalan beriringan dengan beralihnya pilar ekonomi menuju pusat kekuasaan baru. Di sini sejarah menggugat kita: apakah kita hanya akan mengenang pihak yang menang. Apakah sebuah kerajaan harus tetap berkuasa agar sumbangannya diakui. Apakah pelabuhan yang telah hilang harus ikut kehilangan tempat dalam ingatan. Apakah orang Pangkep akan membiarkan anak-anaknya mengira bahwa wilayah mereka hanya menjadi penerima pengaruh dari Gowa, tanpa mengetahui bahwa pesisir Siang telah lebih dahulu
membuka perjumpaan dengan para pedagang Muslim.
Pangkep tidak sedang berusaha merebut kemuliaan daerah lain. Pangkep hanya perlu mengambil kembali halaman sejarahnya yang telah lama terlipat. Pengalaman Siang mengajarkan bahwa penyebaran Islam tidak selalu berlangsung melalui satu peristiwa besar.
Ia dapat bergerak melalui hubungan-hubungan kecil yang terjadi berulang-ulang.
Seorang pedagang berlaku jujur. Seorang pendatang menikahi perempuan setempat. Sebuah keluarga memberi nama baru kepada anaknya. Seorang pelaut mengajarkan doa. Sebuah rumah menyediakan tempat beribadah. Seorang kepala komunitas menjadi
penghubung dengan penguasa lokal. Lambat laun, sesuatu yang semula dianggap asing menjadi akrab.
Kajian tentang Islamisasi Sulawesi Selatan membedakan kedatangan Islam, penerimaan sosial-budayanya, dan penyebaran formal melalui lembaga politik. Pada tahap sosial, unsur Islam tidak selalu merombak seluruh pranata lama secara mendadak, melainkan
dapat memberi makna baru atau menambahkan pranata baru ke dalam kehidupan yang telah ada.
Pengalaman Siang memperlihatkan proses tersebut dengan nyata. Islam bertemu dengan kebudayaan lokal sebelum memperoleh dukungan kerajaan. Ia belajar berbicara melalui hubungan niaga, kekerabatan, dan kehidupan kampung. Prosesnya tidak selalu lurus.
Ada penerimaan, perundingan, penolakan, dan penyesuaian. Kepercayaan lama tidak langsung lenyap. Bissu masih mempunyai pengaruh. Struktur adat tetap berjalan. Namun, justru karena itulah sejarah Islam Pangkep terasa manusiawi.
Islam tidak hadir sebagai cahaya yang turun ke masyarakat tanpa sejarah. Ia berjumpa dengan manusia yang telah mempunyai sistem keyakinan, adat, bahasa, dan martabat. Ia tumbuh melalui percakapan panjang. Ia tidak hanya mengubah masyarakat, tetapi juga menemukan bentuk lokal melalui masyarakat yang menerimanya.
***
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah orang Melayu pernah datang ke Siang. Pertanyaannya adalah: apa yang telah kita lakukan terhadap warisan itu. Mengapa sejarah Siang belum menjadi kebanggaan yang kuat dalam pendidikan anak-anak di Pangkep. Mengapa jejak perkampungan Melayu belum dipetakan dan dijelaskan secara luas.
Mengapa keluarga-keluarga yang menyandang gelar ‘Ince’ belum banyak didorong mendokumentasikan silsilah, cerita asal-usul, naskah, benda lama, dan tradisi tutur mereka. Mengapa sejarah pesisir hanya sesekali dibicarakan dalam seminar, tetapi belum
sepenuhnya hadir dalam museum, buku pelajaran lokal, penanda situs, atau rute wisata sejarah.
Kita sering mengeluhkan kurangnya sumber sejarah Siang. Namun, pada saat yang sama, orang-orang tua yang menyimpan cerita terus meninggal. Kampung berubah. Garis pantai bergeser. Nama tempat diganti. Makam tua rusak. Benda keluarga berpindah tanpa dokumentasi.
Sejarah tidak selalu hilang karena dijarah bangsa asing. Kadang-kadang sejarah hilang karena pewarisnya menunda untuk peduli. Makkulau telah membuka salah satu pintu melalui tulisannya. Tugas generasi berikutnya bukan sekadar mengutipnya, melainkan melanjutkan
penelitian. Laporan Portugis perlu dibaca kembali. Tradisi lisan harus direkam dan dibandingkan. Situs pesisir perlu diteliti secara arkeologis.
Jejak keluarga Melayu harus dipetakan dengan hati-hati. Hubungan antara Siang, Suppa, Malaka, Johor, Pattani, dan Gowa perlu ditempatkan dalam peta sejarah maritim yang lebih luas. Sejarah lokal tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan sentimental. Ia harus menjadi pekerjaan ilmiah. Pangkep, adalah pintu yang pernah terbuka lebar. Ada alasan besar bagi orang Pangkep untuk berdiri
dengan kepala tegak.
Pangkep bukan sekadar daerah yang kemudian menerima Islam dari pusat kekuasaan lain. Pesisirnya pernah menjadi salah satu ruang awal perjumpaan Islam dengan masyarakat Sulawesi Selatan. Di Siang, para pedagang Melayu Muslim telah hidup, berniaga, membangun permukiman, serta berbaur dengan masyarakat jauh sebelum Islam menjadi agama resmi Gowa-Tallo.
Keistimewaan itu bukan terletak pada perlombaan menjadi yang pertama. Keistimewaannya terletak pada cara Islam datang: melalui laut, keterbukaan, perdagangan, persahabatan, perkawinan, dan pembentukan komunitas. Kemudian, pada tahap berikutnya, Islam memperoleh bentuk politik dan kelembagaan melalui kekuasaan kerajaan.
Dengan demikian, sejarah Islam Pangkep memiliki sekurang-kurangnya dua lapisan. Lapisan pertama adalah Islam pesisir: bergerak perlahan dari manusia kepada manusia. Lapisan kedua adalah Islam kerajaan: dilembagakan melalui kekuasaan dan struktur
pemerintahan. Tanpa memahami lapisan pertama, kita akan mengira Islam baru hadir ketika istana menyatakannya resmi. Tanpa memahami lapisan kedua, kita tidak akan mengerti bagaimana Islam kemudian menjadi pranata yang mengatur kehidupan masyarakat secara luas.
Kedua lapisan itu bukan untuk dipertentangkan. Keduanya membentuk perjalanan yang utuh. Kelak, ketika anak-anak Pangkep berdiri di pesisir dan memandang laut, katakanlah kepada mereka bahwa laut di hadapan mereka pernah membawa lebih dari sekadar ikan dan barang dagangan. Laut itu pernah membawa manusia-manusia dari dunia Melayu. Mereka datang dengan keberanian menyeberangi perairan, membangun kehidupan di negeri yang baru, dan memperkenalkan Islam melalui hubungan antar manusia.
Katakan pula bahwa sebelum beduk istana ditabuh, sebelum gelar sultan diumumkan, dan sebelum kerajaan mengirimkan seruan Islam kepada negeri-negeri tetangganya, syahadat telah lebih dahulu berlayar menuju Siang. Berlabuh di pesisir Pangkep. Tumbuh di antara
pasar dan rumah penduduk. Melekat pada nama kampung, gelar Ince, sapaan Unda, perkawinan, serta ingatan keluarga. Dan, apabila hari ini sejarah itu terdengar jauh, bukan karena ia tidak pernah terjadi. Barangkali kita saja yang terlalu lama tidak mendengarkannya.
Pangkep harus kembali mendengar suara lautnya. Sebab di antara debur ombak itu terdapat pesan dari masa lalu: bahwa daerah ini pernah membuka pintunya kepada dunia, pernah menjadi rumah bagi para perantau, dan pernah ikut menyiapkan tanah sosial tempat
Islam kemudian tumbuh di Sulawesi Selatan.
Itulah khazanah yang patut dibanggakan. Bukan kebanggaan yang membuat kita merasa lebih tinggi daripada daerah lain, melainkan kebanggaan yang melahirkan tanggung jawab: meneliti, menjaga, menuliskan, dan mewariskan sejarah secara jujur. Sebab suatu
bangsa tidak menjadi besar hanya karena mempunyai masa lalu yang agung. Ia menjadi besar ketika tidak membiarkan masa lalunya hilang tanpa nama. (*)
(* Muslimah, Peserta Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Perpusarsip Pangkep 2026/Santriwati Kelas XII Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.


