Laporan: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal Santriwati Putri IMMIM yang sangat gesit belajar di luar kelas dan telah mempraktekkan dengan baik Merdeka Belajar. Konsep belajar di luar kelas ini dikemas dalam bentuk Field Trip atau karya wisata dengan bidang studi terkait Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Kesenian, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab.
Karena namanya karya wisata, masing-masing santriwati dituntut untuk membuat karya di tempat wisata. Karya macam apa yang dimaksud? Misal ketika mengunjungi Museum, maka para santriwati dituntut untuk mempraktekkan dengan baik percakapan bahasa inggris atau bahasa arab. Para santriwati juga diberikan tugas agar dapat membuat laporan perjalanan ke berbagai museum yang dikunjunginya.

Pada Ahad (3/10/2022) lalu, Putri IMMIM mengunjungi 4 Museum yang berada di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, yaitu Museum Kota Makassar, Museum La Galigo dalam Kompleks Fort Rotterdam, Museum Karaeng Pattingaloang dalam Kompleks Benteng Sombaopu, dan Museum Balla Lompoa.
Sebenarnya banyak destinasi wisata sejarah budaya yang berada diantara keempat museum tersebut, namun karena Santriwati dituntut untuk menampilkan Tari 4 Etnis juga sebagai bagian dari karya wisata, pada akhirnya Pemandu Museum, M. Farid W. Makkulau mencukupkan hanya mengunjungi 4 Museum.

“Keempat museum ini, Museum Kota Makassar, Museum La Galigo, Museum Karaeng Pattingaloang dan Museum Balla Lompoa, sebenarnya cukup untuk memberikan gambaran besar bagaimana sejarah budaya Sulawesi Selatan, khususnya di Museum La Galigo, sementara jika ingin mengulas sejarah dan perkembangan Kota Makassar maka sudah cukup belajar banyak dari Museum Kota Makassar,” ungkapnya.
“Museum Karaeng Pattingaloang sendiri yang berada dalam Kompleks Benteng Sombaopu dapat menjadi motivasi dan inspirasi dari ilmuwan dunia. Dialah Karaeng Pattingaloang, yang namanya disejajarkan dengan Galileo Galileo di Peta Dunia akhir Abad 17. Karaeng Pattingaloang adalah negarawan dan ilmuwan yang melampaui zamannya. Kedudukannya sebagai Perdana Menteri di masa Pemerintahan Sultan Alauddin turut mengantarkan Kerajaan Makassar berada di puncak keemasan,” tambah M. Farid W Makkulau, yang juga Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ini.

Sementara Museum Balla Lompoa merekam jejak kebesaran Kerajaan Makassar di akhir kekuasaannya, baik dari tampilan Balla Lompoa sebagai jejak istana, begitu pula beberapa isi Museum dalam bentuk foto, silsilah Raja-raja Makassar, tinggalan dokumen Lontaraq, pakaian adat, meriam jaman Belanda, dan lain sebagainya.
Museum Balla Lompoa terletak di tengah-tengah Kelurahan Sungguminasa, Kabupaten Gowa ini. Secara bahasa, Balla Lompoa (b.makassar) berarti rumah besar, istana atau rumah kebesaran. Museum ini didirikan pada tanggal 11 Desember 1973, dibangun di atas areal seluas 7663 m2 tahun 1936 sejak masa pemerintahan Raja Gowa ke-XXV kemudian direhab ulang sebagaimana adanya sekarang ini.
Luas bangunan Balla Lompoa seluas 1144 m2, yang mana keseluruhan bangunan terbuat dari bahan kayu jati bercorak arsitektur tradisional Makassar. Ada juga terdapat teknik modern di beberapa bagian tertentu, misalnya di persambungan kayu menggunakan baut, bahkan bagian dapurnya menggunakan bahan batu bata. (*)



[…] lihat disini: Dalam Sehari, Putri IMMIM Kunjungi 4 Museum, Santri Putri IMMIM Studi Wisata Sejarah ke […]