BerandaHighlightAmalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Oleh: Ustadz Muhammad Harsya Bachtiar, Lc., M.A.

Related Post: Selamat Datang Bulan Dzulhijjah

PALONTARAQ.ID – Sepuluh hari pertama dalam Bulan Dzulhijjah adalah waktu yang sangat agung. Mengerjakan kebaikan dan amal shaleh didalamnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah lebih dicintai oleh Allah dan lebih bernilai daripada jihad fii sabilillah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر

قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله

إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

Artinya:

“Tidak ada hari dimana amal saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.

Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fii sabilillah?. Beliau menjawab: Tidak juga jihad fii sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)

Oleh karenanya, setiap detik yang ada didalamnya bagaikan sebongkah emas yang tentunya bagi setiap orang yang berdagang tidak ingin rugi akannya apalagi seorang muslim yang perniagaanya kepada Allah.

Lalu bagaimana kiat seorang muslim agar tidak merugi dengan waktu yang mulia ini? Kiatnya adalah dengan memanfaatkan setiap detiknya dengan melakukan ibadah dan amal kebaikan.

Lihat pula: Dzikir Bulan Dzulhijjah

Berikut ini beberapa ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan di 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah:

1. Memperbanyak Dzikir Tahlil, Takbir, dan Tahmid

Ada satu sunnah yang mungkin dilupakan sebagian orang yaitu memperbanyak takbir di awal Dzulhijjah.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Artinya:

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” (QS. Al Hajj: 28).

‘Ayyam ma’lumaat’ menurut salah satu penafsiran adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, Mujahid, ‘Ikrimah, Qotadah dan An Nakho’i, termasuk pula pendapat Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad (pendapat yang masyhur dari beliau). Lihat perkataan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Ma’arif, hal. 462 dan 471.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ

 وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ

وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ

Artinya:

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”)

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah.

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Cara bertakbir adalah dengan ucapan:

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله الكبر، ولله الحمد

(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd)

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

 ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن

من التهليل والتكبير والتحميد- رواه أحمد

Artinya:

“Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid.” (HR.Ahmad).

Lihat pula: Puasa Tarwiyah dan Arafah di Bulan Dzulhijjah

2. Memperbanyak Puasa

Secara spesifik disunnahkan dalam 10 awal bulan Dzulhijjah ini untuk melaksanakan puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah (bagi yang tidak berhaji).

Dan keutamaannya sebagaimana telah diketahui bersama adalah dapat mengampuni dosa 1 tahun sebelumnya dan 1 tahun setelahnya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang puasa Arafah:

(صيام يوم عرفة احتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده)

رواه مسلم

Artinya:

“Puasa hari Arafah, aku mengharapkannya di sisi Allah sebagai pengampun dosa 1 tahun sebelumnya dan 1 tahun setelahnya” (HR.Muslim)

Namun secara umum juga di sunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnah lainnya, baik yang terikat seperti senin kamis atau pun yang tidak terikat seperti puasa mutlaq.

Hal ini karena puasa tanpa ada keraguan adalah termasuk dari amalan saleh, karenanya ia masuk dalam keumuman keutamaan amal saleh sebagaimana yang disebutkan dalam hadis (tentang keutamaan amalan saleh di 10 awal Dzulhijjah).

Lihat pula: Keutamaan dan Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

3. Melakukan ibadah Haji

Bagi yang mampu mengerjakan ibadah Haji, maka inilah waktu yang paling tepat dan terbaik untuk melaksanakannya karena tidak ada waktu lain yang boleh dilakukan ibadah haji kecuali di hari-hari ini, yang mana secara khusus puncaknya berada di hari 9 Dzulhijjah ketika jamaah haji wukuf di Arafah. Allah berfirman:

(ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ) سورة البقرة:١٩٧

Artinya:

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.”
(Surah Al-Baqarah : 197)

Kata “bulan-bulan yang ditentukan” dalam ayat ini telah disepakati oleh para ulama kita bahwa yang dimaksudkan adalah bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah.

4. Mengeluarkan Sedekah

Hal ini karena sedekah adalah termasuk amal saleh yang paling mulia. Dan keutamaan mengerjakannya di 10 hari awal bulan Dzulhijjah termasuk dalam keumuman keutamaan seluruh amal saleh di dalamnya (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).

5. Memperbanyak Shalat Sunnah

Secara spesifik di 10 hari awal bulan Dzulhijjah ini ada 1 shalat yang tidak dikerjakan kecuali di waktu ini. Yaitu shalat Idul Adha yang waktu pelaksanaannya adalah di pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah.

Namun secara umum boleh memperbanyak shalat sunnah mutlak atau pun muqayyad di samping shalat wajib yang ada, hal ini karena tidak ada yang meragukan bahwa ibadah shalat adalah salah satu ibadah yang paling mulia di sisi Allah.

Lihat pula: Bagian untuk Muslim yang Berqurban

6. Memotong Hewan Qurban

Memotong hewan Qurban adalah salah satu syariat yang mulia.

Allah SWT berfirman:

(فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ)

Artinya:

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (Qs Al-Kautsar : 02)

Dan telah kita ketahui bersama bahwa waktu pelaksanaan ibadah ini dimulai dari tanggal 10 Dzulhijjah hingga berakhirnya hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

7. Ibadah-ibadah Umum lainnya yang Disyariatkan

Yaitu seperti membaca Al-Qur’an, berbakti kepada kedua orang tua, menolong kepada orang yang kesulitan dan yang lainnya.

Hal ini karena kesemuanya adalah termasuk dalam keumuman keutamaan amal saleh di 10 awal bulan Dzulhijjah.

Inilah di antara amalan-amalan yang dianjurkan untuk kita kerjakan dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini, semoga Allah memberikan kita taufiq untuk dapat memaksimalkannya dengan sebaik mungkin.

Semoga bermanfaat adanya.

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT