Hukum Fikih Zakat

Fikih Zakat

-

- Advertisment -

 

Oleh: Ustadzah Erwinda Zakaria, Lc (Ummu Sumayyah)

Related Post: Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-29

PALONTARAQ.ID – Bismillah alhamdulillahi wahdahu washolatu wassalamu ‘ala man laa nabiyya ba’dahu.

Makna Zakat Fitri

Kata zakat secara bahasa memiliki beberapa arti.  Di antaranya: tumbuh, bertambah, berkembang atau sesuatu yang terbaik. (al-Mu’jam al-Wasith). Sedangkan kata Fitri (fithr) artinya berbuka puasa.

Gabungan dua kata di atas “zakat fitri” merupakan gabungan yang mengandung makna sebab akibat yang berarti sebab diwajibkannya zakat fitri ini adalah karena kaum muslimin telah selesai menunaikan puasanya di bulan Ramadhan.  (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah).

Penyaluran Zakat Fitrah. (foto: ist/palontaraq)
Penyaluran Zakat Fitrah. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Infaq, Sedekah dan Zakat di Bulan Ramadan

Sebagian ulama menamakan zakat ini dengan “zakat fithrah”, di mana kata fithrah berarti asal penciptaan.

Abu al-Haitsam mengatakan: “al-fitrah adalah asal penciptaan, yang menjadi sifat seorang bayi ketika dilahirkan dari ibunya” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah).

Dinamakan zakat fitrah karena zakat ini adalah zakat untuk badan dan jiwa sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibn Qutaibah dalam Al Mughni.

Hukum Zakat Fitri

Hukum zakat fitri adalah wajib bagi setiap muslim menurut pendapat yang terkuat.

Para ulama yang berpendapat demikian menyatakan kewajiban menunaikan zakat fitri tercakup dalam perintah Allah ta’ala di surat Al Baqarah ayat 43, وَآتُوا الزَّكَاةَ yang artinya: “Tunaikanlah zakat”.

Adapun dalil dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan hal yang sama.

Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma mengatakan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar menunaikan zakat fitri sebelum kaum muslimin berangkat menuju lapangan untuk melaksanakan shalat ‘id.” (Hadits Shahih. HR. Muslim).

Lihat pula: Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin tentang Zakat Fitrah

Hikmah disyari’atkannya zakat fithri adalah:

(1) untuk berkasih sayang dengan orang miskin, yaitu mencukupi mereka agar jangan sampai meminta-minta di hari ‘ied,

(2) memberikan rasa suka cita kepada orang miskin supaya mereka pun dapat merasakan gembira di hari ‘ied, dan

(3) membersihkan kesalahan orang yang menjalankan puasa akibat kata yang sia-sia dan kata-kata yang kotor yang dilakukan selama berpuasa sebulan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً

لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا

قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin.”

“Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud).

Lihat pula: UAS diangkat jadi Duta Zakat Indonesia

Ketentuan untuk Zakat Fitrah

Zakat fitri atau zakat fitrah adalah sedekah yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari Bulan Ramadan.

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.

Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.” (HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984)

Lihat pula: Do’a Pemberi dan Penerima Zakat

Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh:

(1) setiap muslim,

(2) yang mampu mengeluarkan zakat fitrah. Batasan mampu di sini adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied.

Kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah orang yang ia tanggung nafkahnya.

Menurut Imam Malik, ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat fithri si istri karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fitrah jika ia bertemu terbenamnya matahari di malam Hari Raya Idul Fitri.

Lihat pula: Ibu, Izinkan Aku Berjuang Menegakkan Khilafah

Misalnya, apabila seseorang meninggal satu menit sebelum terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fitri.

Namun, jika ia meninggal satu menit setelah terbenamnya matahari maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah

Bentuk zakat fitrah adalah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya.

Kurma bisa buat zakat. (foto: ist/palontaraq)
Kurma bisa buat zakat. (foto: ist/palontaraq)

Para ulama sepakat bahwa kadar wajib zakat fithri adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat fitrah kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis) sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’.

Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang.

Ukuran satu sho’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg. Ulama lainnya mengatakan bahwa satu sho’ kira-kira 2,157 kg.

Artinya jika zakat fitri dikeluarkan 2,5 kg beras seperti kebiasan di negeri kita, sudah dianggap sah.

Lihat pula: Tadabbur Al-Qur’an sebelum Berpisah dengan Ramadan

Bagaimana zakat fitrah dengan uang?

Ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak boleh menyalurkan zakat fithri dengan uang yang senilai dengan zakat.

Karena tidak ada satu pun dalil yang menyatakan dibolehkannya hal ini. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bolehnya zakat fithri diganti dengan uang.

Zakat firah uang. (foto: tarbawia)
Zakat firah uang. (foto: tarbawia)

Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah tidak bolehnya zakat fithri dengan uang sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Abu Daud murid Imam Ahmad menceritakan, “Imam Ahmad pernah ditanya dan aku pun menyimaknya.

Beliau ditanya oleh seseorang, “Bolehkah aku menyerahkan beberapa uang dirham untuk zakat fitrah?” Jawaban Imam Ahmad, “Aku khawatir seperti itu tidak sah.

Mengeluarkan zakat fitrah dengan uang berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Mughni, 4: 295)

Lihat pula: Rusaknya Multi Akad

Kapan waktu pembayaran?

Waktu pembayaran zakat fitrah ada dua macam:

(1) waktu afdhol yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied;

(2) waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Ibnu ‘Umar.

8 Golongan Penerima Zakat

Golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) ada 8 golongan sebagaimana telah ditegaskan dalam ayat berikut,

 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ

وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

Artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
(QS. At Taubah: 60).

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “innama” yang memberi makna hashr (pembatasan).

Lihat pula: Kosakata Makassar dalam Bulan Ramadan

Ini menunjukkan bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, tidak untuk yang lainnya.

Namun untuk pihak yang menerima zakat fitri telah ditentukan berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma sebelumnya, di mana Nabi SAW menyatakan bahwa zakat fitri berfungsi untuk memberi makan kepada kaum miskin.

Hadits ini merupakan penegasan bahwa orang yang berhak menerima zakat fitri adalah golongan fakir dan miskin.

Adapun 6 golongan penerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam surat at-Taubah ayat 60 tidaklah tercakup dalam golongan yang berhak menerima zakat fitri tapi hanya termasuk penerima zakat mal begitupun fakir miskin.

Meski hal ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama, namun pendapat inilah yang bersesuaian dengan dalil-dalil yang ada.

Ibnu al-Qayim rahimahullah mengatakan, “Tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam pelaksanaan zakat fitri) adalah menyerahkan zakat fitri hanya kepada orang-orang miskin dan tidak membaginya kepada setiap golongan (yang tertera dalam firman Allah di surat at-Taubah ayat 60).

Washallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wa sallam

Demikian kajian dalam bentuk tulisan ini silahkan dicermati baik-baik dan semoga jadi pedoman bermanfaat dalam menunaikan zakat fitrah. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan Rapid Test di Makassar akan digratiskan, khususnya bagi mereka yang...

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan Sedekah PALONTARAQ.ID - "Apakah saya sudah bersedekah hari ini?" Pertanyaan ini...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Fikih

  Lihat pula: Materi Khilafah digeser dari Fikih ke Sejarah, Untuk Apa? PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Fikih, salah satu...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Fikih

  PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Fikih, salah satu Mata Pelajaran Kepesantrenan untuk Kelas XI (Kelas II SMA/Aliyah) yang...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Tahfidz

  Mata Pelajaran : Tahfidz Kelas              : X (Kelas I SMA/Aliyah) Waktu           ...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Al-Qur’an-Hadits

  Mata Pelajaran : Alquran-Hadits Kelas              : XI (Kelas II SMA/Aliyah) Waktu             : – Guru...

Must read

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan...

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you