BerandaPesantrenTradisi Masyarakat Islam di Nusantara

Tradisi Masyarakat Islam di Nusantara

Oleh: M. Farid W Makkulau

Lihat pula: Mau Studi Wisata Sejarah Makassar, Baca Dulu Ini!

PALONTARAQ.ID – Agama Islam berkembang cepat di seluruh wilayah Nusantara karena masuk ke dalam kehidupan masyarakat melalui banyak jalur, diantaranya perdagangan, sosial budaya, perkawinan, dan pendekatan politik.

Tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat masyarakat yang dilakukan/diwariskan secara turun temurun. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum Islam datang, masyarakat di seluruh wilayah Nusantara sudah mengenal berbagai kepercayaan dan memiliki beragam tradisi lokal.

Ada banyak tradisi yang tidak sesuai dengan Islam. Tradisi seperti itu ditolak, dan pada akhirnya terlupakan atau punah dengan sendirinya. Para penyebar dakwah Islam mempertimbangkan tradisi tersebut dengan sangat matang baik dari segi madharat,  mafsadat maupun halal-haramnya. Mereka sangat paham hukum agama, sehingga tidak mungkin mereka menciptakan tradisi atau mempertahankannya tanpa hukum yang jelas.

Banyak kemudian tradisi atau budaya masyarakat yang mengalami proses islamisasi atau mendapatkan corak keislaman. Hal ini disebabkan karena Agama Islam disampaikan dengan cara yang santun dan persuasif oleh para ulama dan pendakwah Islam di Nusantara.

Tradisi di Nusantara digunakan sebagai metode dakwah para ulama zaman itu. Para ulama tidak memusnahkan secara total tradisi yang telah ada di masyarakat, tapi memasukkan unsur Ajaran Islam dalam tradisi tersebut, dengan harapan masyarakat tidak merasa kehilangan adat dan ajaran Islam dapat diterima.

Lihat pula: Bercermin dari Sejarah

Seni budaya, adat, dan tradisi yang bernapaskan Islam tumbuh dan berkembang di Nusantara. Tradisi ini sangat bermanfaat bagi penyebaran Islam di Nusantara.  Diantara Tradisi Islam di Nusantara tersebut ialah:

1. Tradisi Sekaten

Sekaten merupakan kegiatan tahunan yang dihelat warga Yogyakarta dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan berdoa, membunyikan gamelan selama 7 hari berturut turut, membacakan riwayat hidup Nabi, kemudian pada tanggal 12 Rabiul Awal, Sultan memberikan sedekah kepada rakyat dalam bentuk gunungan hasil bumi, umum disebut “Grebeg Maulud”.

Tradisi Sekaten. (foto: ist/*)
Tradisi Sekaten. (foto: ist/*)

Tradisi Sekaten tak hanya ada di Yogyakarta, tapi juga di seluruh wilayah Jawa Tengah. Sekaten masih dilestarikan sebagai wujud mengenang jasa para Walisongo yang telah berhasil menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Sekaten berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat syahadat). Tradisi ini dikenal sebagai sarana penyebaran Agama Islam yang awalnya dilakukan Sunan Bonang. Upacara Sekaten biasanya menyuguhkan gamelan pusaka dari peninggalan dinasti Majapahit yang telah dibawa ke Demak.

Jadi, Sekaten diadakan untuk melestarikan tradisi para wali dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Masyarakat yang datang ke Acara Sekaten juga mempunyai motivasi untuk mendapatkan berkah dan sebagai wujud kecintaan kepada Nabi. Suguhan ini sebagai pertanda bahwa para wali mengemas tradisi masyarakat setempat dengan nuansa dan Nilai-nilai Islami.

2. Tradisi Dugderan

Tradisi Dugderan dilakukan oleh warga Semarang saat menyambut Bulan Ramadhan, dimulai melaksanakan musyawarah yang dihadiri para ulama setelah Shalat Ashar untuk menentukan tanggal satu Ramadan. Hasil musyawarah kemudian dilaporkan kepada Gubernur Jawa Tengah. Setelah itu, WaliKota Semarang beserta Gubernur memukul bedug sebagai tanda dimulainya Bulan Ramadhan. Tradisi ini diakhiri dengan doa bersama dipimpin oleh ulama.

3. Tradisi Tabot (Tabuik)

Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur dalam peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan Tabot di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin (dikenal sebagai Imam Senggolo) pada Tahun 1685. Syaikh Burhanuddin menikah dengan wanita Bengkulu kemudian keturunannya disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari 1-10 Muharram setiap tahun.

Istilah Tabot berasal dari kata Arab, “tabut”, yang secara har!ah berarti kotak kayu atau peti. Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga tradisi ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India.

4. Tradisi Grebeg

Grebeg salah satu tradisi yang dilakukan di Keraton Yogyakarta. Grebeg pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Hamengkubuwono I. Biasanya, tradisi ini dilakukan saat Sultan mempunyai hajat berupa menikahkan putra mahkotanya.

Tradisi Grebeg di Yogyakarta diselenggarakan setiap 3 tahun sekali. Grebek diadakan setiap tanggal 1 Syawal bertujuan untuk menghormati Bulan Ramadan dan Lailatul Qadr. Selain kota Yogyakarta yang menyelenggarakan pesta grebeg adalah kota Solo, Cirebon dan Demak.

Tradisi Grebeg Besar di Demak merupakan upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di Kabupaten Demak Jawa Tengah. Tradisi Grebek ini dilaksanakan pula pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan datangnya Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban.

Tradisi ini cukup menarik karena Demak merupakan pusat perjuangan Walisongo dalam dakwah. Awalnya Grebeg Besar dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1428 Caka dan dimaksudkan sekaligus untuk memperingati genap 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid Agung Demak yang didirikan Walisongo pada tahun 1399 Caka (1477 M).

Tahun berdirinya masjid ini tertulis pada bagian Candrasengkala “Lawang Trus Gunaning Janmo”. Pada tahun 1428 tertulis dalam Caka tersebut Sunan Giri meresmikan penyempurnaan Masjid Demak. Karena pengunjung banyak sekali, hal ini dimanfaatkan para Wali untuk syiar dakwah Islam.

5. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)

Di Pulau Jawa bahkan sudah berkembang ke daerah lain terdapat tradisi kupatan. Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan sepekan setelah lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat berkumpul di suatu tempat, seperti mushala dan masjid untuk mengadakan selamatan dengan hidangan yang didominasi kupat (ketupat), makanan dari beras dan dibungkus anyaman (longsong) dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda).

Ketupat Lebaran. (foto: ist/*)
Ketupat Lebaran. (foto: ist/*)

Sampai saat ini ketupat menjadi maskot Hari Raya Idul Fitri, sebagai makanan khas lebaran dan disantap bersama opor ayam di kekinian. Penyajian ketupat punya makna mendalam dalam tradisi Jawa yang dijadikan para Wali sebagai sarana Syiar Islam.

Kupat juga menjadi singkatan, di-jarwo dhosok-kan menjadi rangkaian kata yang sesuai dengan momennya yaitu Lebaran. Kupat adalah singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan menjadi simbol untuk saling memaafkan.

6. Tradisi Kerobok Maulid di Kutai dan Pawai Obor di Manado.

Di kawasan Kedaton Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, juga diselenggarakan tradisi yang dinamakan Kerobok Maulid. Istilah Kerobok berasal dari Bahasa Kutai, berarti berkerubun atau berkerumun.

Tradisi Kerobok Maulid dipusatkan di halaman Masjid Jami’ Hasanuddin, Tenggarong, dilaksanakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal. Kerobok Maulid diawali dengan pembacaan Barzanji, kemudian dari Keraton Sultan Kutai, puluhan prajurit Kesultanan akan keluar membawa usung-usungan berisi kue tradisional, puluhan bakul Sinto atau bunga rampai dan Astagona. Usung-usungan ini kemudian dibawa berkeliling antara Keraton Sultan dan berakhir di Masjid Jami’ Hasanuddin.

Kedatangan prajurit keraton dengan membawa Sinto, Astagona dan kue-kue di Masjid Hasanudin ini disambut dengan pembacaan Asrakal (Barzanji) yang kemudian membagi-bagikannya kepada warga masyarakat yang ada di dalam Masjid. Akhir dari Upacara Kerobok ini adalah penyampaian Hikmah Maulid dari tokoh agama/ulama.

Pawai Obor (foto: ist/*)
Pawai Obor (foto: ist/*)

Di Manado, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar dengan pawai obor di jalan-jalan sehingga Kota Manado menjadi terang. Hal ini dimaknai sebagai simbol penerangan, bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa ajaran islam adalah cahaya penerang iman saat manusia hidup dalam kegelapan dan kemusyrikan.

7. Tradisi Rabu Kasan di Bangka

Tradisi Rabu Kasan dilaksanakan di Kabupaten Bangka setiap tahun, tepatnya pada hari rabu terakhir bulan Safar. Hal ini sesuai dengan namanya, yakni Rabu Kasan berasal dari Kara Rabu Pungkasan (terakhir).

Upacara Rabu Kasan sebenarnya tidak hanya dilakukan di Bangka saja, tetapi juga di daerah lain, seperti di Bogor Jawa Barat dan Gresik Jawa Timur. Pada dasarnya maksud dari tradisi ini sama, yaitu untuk memohon kepada Allah agar dijauhkan dari bala’ dan musibah.

Di Kabupaten Bangka, tradisi ini dipusatkan di Desa Air Anyer, Kecamatan Merawang. Sehari sebelumnya, semua penduduk menyiapkan keperluan upacara seperti ketupat tolak balak, air wafak, dan makanan. Tepat pada hari Rabu Kasan, sekira Pukul 07.00 waktu setempat, semua penduduk telah hadir di tempat upacara dengan membawa makanan dan ketupat tolak bala sebanyak jumlah keluarga masing-masing.

Tradisi Rabu Kasan diawali dengan berdirinya seseorang di depan pintu masjid dan menghadap keluar lalu mengumandangkan adzan. Lalu disusul dengan pembacaan doa bersama.

Setelah itu, semua yang hadir menarik atau melepaskan anyaman ketupat tolak balak yang telah tersedia tadi, satu persatu menurut jumlah yang dibawa sambil menyebut nama keluarganya masing-masing dan dilanjutkan dengan acara makan bersama.

Setelah itu, masing-masing pergi mengambil air wafak yang telah disediakan untuk semua anggota keluarganya. Dilanjutkan dengan bersilahturahmi ke rumah tetangga atau keluarganya.

8. Tradisi Tumpeng

Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Nasi tumpeng umumnya berupa nasi kuning, atau nasi uduk.

Cara penyajian nasi tumpeng khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa,  biasanya dibuat saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, budaya tumpeng sudah menjadi tradisi nasional bangsa Indonesia.

Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) yang dialasi daun pisang. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang dituakan dari Orang-orang yang hadir, dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat atau penghormatan.

9. Tradisi Halal bihalal

Halal bihalal adalah tradisi saling memaafkan yang dilakukan umat islam nusantara setiap hari raya idhul fitri. Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, saling bermaaf-maafan di Hari Lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Sampai saat ini tradisi ini masih dilakukan di semua lapisan masyarakat. Mulai keluarga, tingkat RT sampai istana kepresidenan. Bahkan acara halal bihalal sudah menjadi tradisi nasional yang bernafaskan Islam.

Istilah halal bihalal berasal dari ungkapan seorang ulama NU, yang dimaknai sebagai “saling menghalalkan”, saling melupakan kesalahan masa lalu, dengan saling bermaafan. Tradisi ini khas Indonesia, bisa jadi ketika arti kata ini ditanyakan kepada orang Arab, mereka akan kebingungan dalam menjawabnya.

Halal bihalal sebagai sebuah tradisi khas Islam Indonesia lahir dari sebuah proses sejarah. Tradisi ini digali dari kesadaran batin tokoh-tokoh umat Islam masa lalu untuk membangun hubungan yang harmonis (silaturahim) antar umat. Pada acara halal bihalal semua orang saling bermaafan, ditandai dengan jabat tangan dan mengucap kata maaf.

10. Tradisi Ma’baranzaji

Tradisi Ma’barazanji (Pembacaan Kitab Barzanji) umum dilakukan masyarakat Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari pelaksanaan upacara siklus hidup, dari kelahiran (alahere) sampai kematian (ammateang).

Tradisi Ma'barazanji'. (foto: ist/*)
Tradisi Ma’barazanji’. (foto: ist/*)

Pembacaan Barzanji juga dilakukan pada saat acara/syukuran tertentu, misalnya: perkawinan, naik rumah, naik haji, wisuda, dan lain sebagainya. (Tentang Ma’barazanji, silakan lihat: DISINI).

Demikianlah beberapa tradisi islam di Nusantara yang masih hidup dan lestari hingga di kekinian. Wallahu ‘alam bish-shawab. Semoga bermanfaat adanya. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT