Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Tulisan sebelumnya: Sejarah Singkat Dinasti Ayyubiyah
PALONTARAQ.ID – Mesir memiliki jejak sejarah dan peradaban yang panjang. Mulai dari masa Fir’aun, khalifah, hingga masa republik. Sejak zaman kuno (4.000 SM), Mesir telah memiliki peradaban yang tinggi. Peninggalan kejayaan Mesir kuno masih berdiri kokoh hingga saat ini, sebut saja misalnya Piramid serta Spinx, patung singa berkepala manusia.
Peradabannya yang tinggi, disertai potensi geografis dan budaya yang dimilikinya, membuat Mesir segera ‘bersinar’ ketika Islam masuk ke sana. Mesir segera menjadi negeri yang berperan penting dalam Sejarah dan Perkembangan Islam.
Islam masuk ke Mesir pada Abad VII M ketika Khalifah Umar bin Khatab memerintahkan Amr bin Ash membawa pasukan tentara Islam untuk mendudukinya. Setelah menduduki Mesir, Amr bin Ash menjadi Amir atau Gubernur di sana (632-660) dan menjadikan Fustat (dekat Kairo) sebagai pusat pemerintahan.
Pada periode kekuasaan Islam selanjutnya, Mesir berada di bawah pemerintahan Dinasti Umayah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Tulun (868-905), Dinasti Ikhsyid (935-969), Dinasti Fatimiyah (909-1171), Dinasti Ayyubiyah (1174-1250) yang ditandai dengan Perang Salib (1096-1273), dan Dinasti Mamluk (1250-1517). Pada masa sesudahnya, Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki Ottoman.
Dalam rentang penguasaan pemerintahan kekuasaan Islam itu, masa jaya Islam di Mesir terjadi pada masa Dinasti Fatimiyah ketika ibu kota pindah ke Kairo dan Universitas Al-Azhar didirikan.
Keberadaan Al Qahira atau Kairo bermula ketika Mu’izz Lidinillah, pada masa kekhalifahan Dinasti Fatimiyah, berniat melakukan ekspansi ke Mesir. Ia pun mengutus panglima perangnya, Jauhar al Katib as Siqilli, untuk menaklukkan Mesir. Jauhar berhasil membangun sebuah kota baru yang diberi nama Al Qahira (Kairo) pada Tahun 969.
Pada 973, Khalifah Mu’izz hijrah ke Mesir dan menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan. James E Lindsay dalam Daily Life in the Medieval Islamic World bercerita tentang Al Qahira atau Kairo ini. Ibukota baru ini, tulis Lindsay, dibangun dengan sangat baik. Sebuah masjid megah, yakni Masjid Al Azhar, dibangun di sana. Istana kerajaan ada di jantung kota.
Dari sisi pertahanan, tulis James E Lindsay, Jauhar al-Katib as-Siqilli membangun benteng tangguh yang melingkupi Kairo. Di beberapa bagian benteng itu, ada gerbang berpelat besi. Lewat gerbang inilah, warga setempat bisa bepergian ke Suriah dan Fustat.
Selain masjid, dibangun pula mushalla. Berbeda dengan masjid yang ada di pusat kota, mushalla lebih banyak berlokasi di pinggiran kota. Penguasa Mesir saat itu juga menyediakan lahan pemakaman untuk warga.
Dibawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah, Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan modern. Dinasti ini menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Wilayahnya mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.
Menyaingi Baghdad dan Cordoba


