Beranda Highlight Sahabat Nabi SAW yang Pura-pura Berbuka Puasa

Sahabat Nabi SAW yang Pura-pura Berbuka Puasa

 

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Related Post: Puasa Ramadan itu Mengenalkan Batas-batas Hidup – 21

PALONTARAQ.ID – Cerita berikut ini penulis sadur dari Kitab Ad Dur al Mantsur fi at Tafsir al Ma’tsur (Jilid 1), karangan Imam Jalaluddin Abdurrahman asy Syuyuti.

Seperti ini kisahnya, Sesaat sebelum waktu Shalat Magrib tiba, rumah salah satu sahabat Rasulullah Muhammad SAW, Zaid bin Tsabit Al-Anshari radhiyallahu anhu kedatangan tamu.

Seorang musafir mampir tanpa sedikit pun bekal yang bisa dimakan guna berbuka puasa.
Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu menjadi bingung.

Di satu sisi, ia ingat pesan Nabi SAW tentang keutamaan sunnah memuliakan tamu, tapi disisi lain, kondisi ekonomi yang terbatas benar-benar tengah melanda rumah tangganya.

Selepas mempersilakan masuk musafir yang bertandang ke rumahnya itu, Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu berbisik kepada sang istri, “Apakah ada makanan untuk petang ini?”

Sang istri turut gundah. Ia pun menjawab,  “Demi Allah, wahai suamiku. Tidak ada lagi makanan yang kusimpan, terkecuali sedikit.”

Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu anhu terdiam sejenak, memutar otak.  Akhirnya ia sampaikan sebuah siasat kepada sang istri agar mematikan lampu saat waktu berbuka tiba.

“Aku membawa seorang tamu.  Jika kami mulai makan, padamkanlah lampu dan berpura-puralah memperbaikinya. Selama perut tamu kita belum kenyang, jangan makan sedikit pun dari makanan itu,” bisik Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu, dibalas anggukan istrinya.

Tiga butir kurma cukup untuk berbuka puasa. (foto: ist/palontaraq)
Tiga butir kurma cukup untuk berbuka puasa. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Puasa Ramadan melahirkan Kesungguhan dalam Pengabdian – 20

Waktu yang dinanti tiba. Sang tamu dipersilakan menyantap hidangan yang serba pas-pasan itu.

Namun, Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu anhu dan istrinya cuma berkecap-kecap seolah turut bersantap, padahal ujung tangan keduanya sama sekali tak menyentuh hidangan.

Keesokan harinya, sang tamu pamit untuk melanjutkan perjalanan.  Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu ini pun kembali menghadiri majelis untuk mendapatkan berkah dan pencerahan dari Nabi SAW.

Ketika keduanya berjumpa, tiba-tiba Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda, “Wahai Zaid bin Tsabit, Allah SWT menghargai pelayananmu terhadap tamumu semalam.”

Zaid bin Tsabit al-Anshari tersentak kaget. Rasa gembira, malu, sekaligus haru, bercampur di dadanya. Sungguh mulia adab dan akhlak para sahabat Nabi, semoga kita semua dapat meneladaninya.

Semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Ujian Semester Ganjil Mapel SKI Kelas XII

Tulisan sebelumnya: Peristiwa Penting dalam Sejarah Nusantara Abad ke-17 Mata Pelajaran (Mapel): Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas/Semester: XII/Ganjil Guru Mapel: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i Pengawas: Guru/Pembina Ponpes Modern...

Ujian Semester Ganjil Mapel SKI Kelas XI

  Tulisan sebelumnya: Metode, Waktu, dan Referensi Pembelajaran SKI: Sejarah Daulah Bani Umayyah Mata Pelajaran (Mapel): Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas/Semester: XI/Ganjil Guru Mapel: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i Pengawas:...

Ujian Semester 3 Mapel SKI Kelas VIII

  Tulisan Sebelumnya: Asal Usul dan Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Mata Pelajaran (Mapel): Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Guru Mapel: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i Waktu: 60 Menit Pengawas: Guru/Pembina Ponpes...

Ujian Semester Ganjil Mapel SKI SMP/MTs Kelas VII

  Tulisan sebelumnya: Mengapa mesti Belajar Sejarah Kebudayaan Islam? Mata Pelajaran (Mapel): Sejarah Kebudayaan Islam Guru Mapel: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i Pengawas: Guru/Pembina Ponpes Modern...