Pesona Karst dan Wisata Sungai di Rammang-rammang

Salah satu view dalam Kawasan ekowisata Rammang-rammang (foto: mfaridwm)

Salah satu view dalam Kawasan ekowisata Rammang-rammang (foto: mfaridwm)

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – BENTANGAN pegunungan karst Maros-Pangkep sejak lama menyisakan kekaguman yang seperti tak ada habisnya. Bukan hanya dari segi keindahan alam yang eksotik, tetapi juga kekayaan mineral tambang yang terkandung didalamnya.

Flora dan fauna yang ada dalam kawasan “Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung” ini, beberapa diantaranya termasuk yang berjenis langka. Kenikmatan menyusuri Sungai Pute dengan latar pesona karst inilah yang membuat Rammang-Rammang menjadi menarik untuk dikunjungi.

Rammang-Rammang adalah bagian tak terpisahkan dari bentangan pegunungan karts Maros-Pangkep. Letaknya berada di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Rammang-Rammang dapat ditempuh melalui jalur darat sekitar dua jam dari Kota Makassar atau sekitar 40 km dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.

Rammang-Rammang mudah diakses karena hanya beberapa meter dari jalan raya lintas provinsi. Pun semua orang dapat memahami cara untuk mencapainya jika dikatakan lewat jalan masuk Pabrik Semen Bosowa dan berhenti pada dermaga Jembatan pertama yang kita temui.

Penulis di Rammang-rammang dengan latar pegunungan karst. (foto: ist/imraa)

Penulis di Rammang-rammang dengan latar pegunungan karst. (foto: ist/imraa)

Wisata Sungai Pute' dalam kawasan Rammang-rammang (foto: ist/darwis)

Wisata Sungai Pute’ dalam kawasan Rammang-rammang (foto: ist/darwis)

Wisata Sungai Pute dalam kawasan Rammang-rammang. (foto: ist/imraa)

Wisata Sungai Pute dalam kawasan Rammang-rammang. (foto: ist/imraa)

Nama “Rammang-Rammang” sendiri adalah Bahasa Makassar, yang berarti awan (sekumpulan awan) atau kabut (sekumpulan kabut). Penulis belum mendapatkan konfirmasi dari penduduk setempat terkait mengapa daerah itu disebut Rammang-rammang. Apakah karena berada di daerah itu mudah melihat awan (Rammang-rammang)? Entahlah?

Meski demikian, pendatang justru memberinya alasan mengapa dinamai Rammang-rammang.  Katanya, dinamai demikian karena awan atau kabut selalu turun, terutama di pagi hari dan menjadi bagian dari pesona Rammang-rammang. Begitu pula sunrise yang tercipta menjadi obyek yang sangat menarik, khususnya bagi mereka peminat fotografi.

Ada dua cara untuk mencapai Rammang-rammang, menyusuri Sungai Pute dengan menyewa perahu warga setempat ataukah dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan pinggir sungai.

Harga sewa perahu bervariasi tergantung muatan maksimalnya. Untuk perahu dengan kapasitas 1-3 orang, harga sewanya pergi-pulang dari dermaga ke Kampung Berua bisa 200 ribu, sedang yang muat hingga 7 orang dapat disewa dengan harga 250 ribu. Harga sewa ini bisa patungan sesama rombongan penikmat wisata alam.

Sungai Pute' (foto: mfaridwm)

Sungai Pute’ (foto: mfaridwm)

Secara spesifik, Wisata Sungai di Rammang-rammang ini berbeda dengan tempat lain karena batu-batu yang muncul di Sungai, seperti diletakkan begitu saja sebagai bagian dari keindahan Sungai Pute itu sendiri, menyatu padu dengan Bakau.

Saat menyusuri Sungai menuju Kampung Berua’, pengunjung dapat singgah sejenak pada beberapa spot menarik, seperti: Taman Hutan Batu kapur, Telaga Bidadari, Leang (Gua) Bulu’ Barakka’, Leang Telapak Tangan, dan Leang Pasaung.

Belakangan sejak menjadi destinasi ekowisata, juga sudah terdapat fasilitas Café Rammang-rammang. Para pengunjung bisa singgah beristirahat sejenak sambil menikmati menu café tersebut sambil berselfie ria dengan latar pemandangan persawahan, karst dan sungai.

Rammang-rammang sebagai ekowisata juga bagus untuk rekreasi keluarga, seperti yang dilakukan oleh Pengunjung ini. (foto: mfaridwm)

Rammang-rammang sebagai ekowisata juga bagus untuk rekreasi keluarga, seperti yang dilakukan oleh Pengunjung ini. (foto: mfaridwm)

Pengunjung berfose di pinggir empang dengan latar pegunungan karst. (foto: ist)

Pengunjung berfose di pinggir empang dengan latar pegunungan karst. (foto: ist)

Di Kampung Berua sendiri, para pengunjung dapat menikmati udara pegunungan yang sejuk dengan latar pesona karst dan alam yang eksotik.

Saat berada disini, pengunjung akan dimanjakan dengan banyaknya spot foto yang menarik, dengan latar persawahan, empang, awan, hutan, gua, dan rumah warga. Luas hutan dalam kawasan karst Rammang-Rammang sendiri tersebar sekitar 45.000 hektar dan merupakan kawasan karst terbesar ketiga di dunia, setelah Tsingy di Madagaskar dan Shilin di Tiongkok.

Para pengunjung di Cafe Rammang-rammang (foto: ist/imraa)

Para pengunjung di Cafe Rammang-rammang (foto: ist/imraa)

Salah satu pengunjung Rammang-rammang berfose di Cafe. (foto: ist)

Salah satu pengunjung Rammang-rammang berfose di Cafe. (foto: ist)

Terdapat dua kompleks taman hutan batu di Rammang-Rammang, yakni di utara dan di selatan. Menurut Pengelolanya, Makmur Jaya, Diputuskannya Rammang-rammang sebagai kawasan wisata melalui proses yang panjang, dan yang paling penting diantara semua itu adalah penyadaran masyarakat.

“Yang pasti, kini Rammang-rammang dilirik begitu banyak penikmat wisata alam, termasuk mereka yang menggemari fotografi. Rammang-rammang juga saat ini telah menjadi binaan CSR Bank Indonesia. Harapan kami, tentu dengan banyaknya wisatawan ke Rammang-rammang, akan semakin banyak perhatian dan kepedulian terhadap alam, khususnya kawasan karst, juga kesejahteraan masyarakat juga meningkat karena mendapatkan penghasilan tambahan dari eko-wisata ini”, ujar Makmur Jaya yang akrab dipanggil Bang Kimung ini (*)

Like it? Share it!

Leave A Response