BerandaOpiniHanura oh Hanura: Hati Nurani nan Merana

Hanura oh Hanura: Hati Nurani nan Merana

Kader Partai Hanura kecewa tak dapat jatah menteri. (foto: ist/palontaraq)
Kader Partai Hanura kecewa tak dapat jatah menteri. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Malang nian nasib Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Meski telah berkeringat, berdarah, berjuang mati-matian memenangkan Joko Widodo (Jokowi), namun tak ada imbal balik yang sebanding diterima Hanura.

Semua kolega partai yang mengusung dan mendaftarkan Jokowi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menjadi capres, telah mendapat jatah menteri, namun Hanura tak kebagian jatah.

Sebagaimana diketahui, Hanura bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Golongan Karya (Golkar),  dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tercatat sebagai partai pengusung Jokowi – Ma’ruf dan secara legal formal sebagai partai resmi yang mendaftarkan Jokowi – Ma’ruf ke KPU.

Sementara itu Partai Kebangsaan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), apalagi Partai Bulan Bintang (PBB) tak memiliki suara untuk menjadi partai pengusung secara legal formal di KPU.

Posisi Hanura, jauh berbeda dengan PKPI, Perindo, PSI apalagi PBB.  Partai Hanura memiliki kursi parlemen di pemilu 2014-2019, sehingga memiliki legal standing sebagai partai pengusung.

PKPI, Perindo, PSI hanya menjadi partai pendukung, bukan pengusung.  Terlebih PBB, hanya partai pendukung di detik akhir jelang pemilihan.

Karena itu, wajar dan dapat dipahami jika Pengurus Partai Hanura merasa hati nuraninya merana, menderita, tersiksa, terluka parah dan kecewa luar biasa. Sebagai partai pengusung, Hanura diabaikan oleh Jokowi.

Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir marah pada Jubir Presiden Jokowi Fadjroel Rachman yang menyebut tak ada lagi penambahan posisi di Kabinet Indonesia Maju. Meski mengharap, Inas menegaskan Hanura tak mengemis jabatan menteri atau wakil menteri. (26/10).

Inas menyayangkan pernyataan Fadjroel yang dianggapnya menyangkal keterlibatan Hanura dan dua partai lain, seperti PKPI dan PBB, yang tak masuk Kabinet Indonesia Maju. Pernyataan Fadjroel, menurut Inas, mengisyaratkan bahwa tiga partai tersebut meminta jatah menteri ke Jokowi.

Selain itu, Inas merasa tersinggung oleh pernyataan Fadjorel yang menyebut formasi kabinet Jokowi sudah bisa bekerja dengan baik, tanpa Hanura, PKPI, dan PBB. Pernyataan Komisaris Utama PT Adhi Karya itu dianggap seolah-olah, jika 3 partai tersebut terlibat dalam kabinet, Kabinet Indonesia Maju tak berjalan baik.

Hanura kecewa itu wajar, PROJO saja yang tidak tercatat sebagai partai pengusung dapat jatah wamen, kenapa Hanura tidak dapat? Perindo yang hanya partai pendukung saja dapat jatah, kenapa Hanura sebagai partai pengusung tidak?

Apalagi, Hanura selain melalui partai juga telah berkorban luar biasa melalui tokohnya Wiranto. Wiranto sudah berdarah-darah, 3,5 liter darahnya mengucur, 47 cm ususnya dipotong, jari kelingkingnya cidera, namun tak juga dapat jabatan di Kemenkopolhukam lagi.

Wiranto dikalahkan Machfud MD, yang hanya modal ngetweet mampu menggeser posisi Wiranto. Ini jelas menjadikan Hanura baik secara personal maupun kelembagaan meradang dan marah pada Jokowi.

Hanura oh Hanura, yang sabar ya. Kekuasan itu dipergilirkan, mungkin kami pada periode 2019-2024 ini akan sangat kehilangan peran Hanura.

Bahkan, secara khusus kami akan sangat kehilangan artikel ciamik dari Inas Jubir, yang selalu memberi label artikelnya sebagai Ketua Fraksi DPR-RI Partai Hanura. [*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT