Oleh: Nasrudin Joha
Tulisan sebelumnya: Kalau Masih Ada yang Percaya Rezim Jokowi, Sungguh terlalu!
PALONTARAQ.ID – Jiwasraya bikin rugi Rp 13,7 Triliun, modusnya main saham. Dahulu, PT. Indonesia Aluminium (Inalum) bikin utang US$ 4 miliar atau Rp 60 Triliun, Modusnya Divestasi. Saya yakin, masih banyak BUMN-BUMN lain yang dijadikan sarana untuk merampok Uang Negara.
Bahkan untuk Kasus Inalum, setelah tekor menanggung utang dan bunga pinjaman senilai Rp. 60 Triliun, PT. Inalum juga wajib setor untuk bikin Smelter sebesar US$ 1,5 miliar atau lebih dari Rp 20 Triliun. Padahal, sejak Tahun 2019 – 2020, PT Freeport tidak lagi bayar deviden ke Inalum.
Dahulu Negara Menggebu-gebu cari pinjaman untuk Divestasi Freeport dengan motif Deviden yang besar. Nyaris US$ 1 miliar per tahun, diatas kertas selama 4 tahun utang investssi lunas. Sisanya, Freeport akan jadi tambang yang memberi untung beliung ke Negara RI.
Semua pejabat negara tahu lah modus perampokan itu. Mereka orang dengan lulusan sekolah tinggi, bukan lulusan PAUD yang diburu Detasemen Khusus (Densus) karena dugaan terpapar Radikalisme. Mereka semua paham dan sadar, Negara sedang dirampok.
Tapi mereka justru melegitimasi Perampokan, bahkan ikut mengampanyekan pentingnya negara ini dirampok.
Penguasa yang seharusnya menjaga duit rakyat, justru ikut membuka keran rampok. Mereka, pasti mendapat fee bagian dari harta rampokan itu.
Untuk Kasus Asuransi, ternyata bukan hanya Jiwasraya. Disinyalir, kerugian Jiwasraya dan Bumiputera mencapai angka hingga Rp 50 Triliun. Fantastis. Angka yang luar bisa besar.
Karena itu, melihat Kasus PT. Inalum, Jiwasraya dan Bumiputera, masih banyak BUMN – BUMN lain yang telah, sedang dan akan dijadikan target rampokan. Karena itu, semua BUMN wajib diperiksa.
Rezim Jokowi begitu brutal, menjadikan BUMN merugi karena dirampok. Perampokan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif (TSM).
Terstruktur karena melibatkan struktur dan pejabat negara. Perampokan BUMN tidak mungkin terjadi, tanpa persetujuan otoritas pejabat negara.
Sistematis, karena prosesnya rapih, tersistemik melibatkan banyak Unsur Kekuasaan dan pelbagai Stake Holder terkait.
Disinyalir, semua pihak yang tahu detail persoalan ‘ngalap berkah’ dari proses rampok merampok ini.
Massif, karena nilai dan sebarannya begitu fantastis. Triliunan rupiah dan nyaris terjadi di semua BUMN.
Mirip fenomena gunung es, Yang terkuak beberapa saja, sementara yang masih dirahasiakan lebih banyak lagi.
Jadi, semua mata wajib ikut memelototi BUMN. Jangan sampai, BUMN yang seharusnya menyumbang APBN justru menyusu ke negara minta tambahan modal saham penyertaan negara. [*]


