Sejarah Perang Mu’tah

Ilustrated by: ist/palontaraq

Ilustrated by: ist/palontaraq

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Perang Mu’tah dan kemenangan yang kemudian diraihnya adalah satu pembuktian betapa dahsyatnya hasil didikan langsung Rasulullah SAW terhadap para sahabat yang diamanatkan untuk memimpin pasukan muslim dalam perang melawan Heraclius dengan pasukan kerajaannya yang menjadi negara adidaya pada masa itu.

Hanya dengan jumlah 3000 prajurit muslim mampu melumat 200.000 pasukan Heraclius bersenjatakan lengkap. Sangat diluar nalar, sukar untuk diterima akal sehat bahwa kemudian pasukan muslim mampu memenangkan Perang Mu’tah, dan dengan korban disebut-sebut hanya 12 orang.

Perang Mu’tah ini terjadi pada Jumadil Ula 8 Hijriyah bertepatan dengan Agustus atau September 629 Masehi.  Mu’tah adalah suatu kampung yang terletak di Balqa’, di wilayah Syam. Jarak antara Mu’tah dan Baitul Maqdis selama dua hari perjalanan kaki.

Peta Lokasi Perang Mu'tah. (foto: ist/palontaraq)

Peta Lokasi Perang Mu’tah. (foto: ist/palontaraq)

Latar Belakang Terjadinya Perang

Setelah Rasulullah SAW melakukan Perjanjian Hudaibiyah dengan Orang-orang Kafir Quraisy, maka Rasulullah SAW menggunakan kesempatan itu untuk untuk mengirim delegasi dakwah dan ajakan masuk Islam ke Raja-raja di luar Arab.

Salah satunya adalah Raja Heraclius di Romawi. Kerajaan Romawi ketika itu berada pada puncak kejayaan, diakui sebagai negara adikuasa dan dengan pasukan perang terbaik yang paling ditakuti dunia ketika itu.

Heraclius ternyata dengan keangkuhannya menolak ajakan masuk Islam dan membunuh delegasi Rasulullah SAW. Beberapa orang dalam rombongan delegasi dakwah itu pun ikut dibunuh. Dalam dunia politik pada masa itu, membunuh delegasi adalah tantangan perang.

Awalnya Rasulullah SAW mengutus al-Harits bin Umair al-Azadi untuk menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Di tengah perjalanan, al-Harits dicegat oleh Syurahbil bin Amr al-Ghasani, seorang gubernur wilayah Balqa di Syam dan di bawah pemerintah Qaishar Romawi. Al-Harits diikat oleh Syurahbil, kemudian dibawa ke hadapan Qaishar lalu dipenggal lehernya!

Membunuh utusan merupakan kejahatan paling keji. Rasulullah SAW sendiri sangat terpukul mendengar dibunuhnya utusannya. Rasulullah SAW kemudian mengirim pasukan Muslim berkekuatan 3000 prajurit dan inilah pasukan Islam yang paling besar, sebelumnya tidak pernah terhimpun sebanyak itu kecuali dalam Perang Ahzab.

Dari kisah ini, membuktikan bahwa Islam tidak pernah memulai perang. Heraclius dan Romawi-lah yang menantang perang dengan cara yang tidak beradab, membunuh utusan atau delegasi Rasulullah SAW.

Maka segera setelahnya, Rasulullah SAW mengirim pasukan muslim dengan 3000 personil. Rasulullah SAW menunjuk 3 panglima perang terbaiknya, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Ibnu Rawahah. Turut serta dalam pasukan muslim itu, Khalid bin Walid yang baru masuk Islam.

Perang Mu’tah sendiri adalah opening atau show of force dimana kaum muslimin menunjukkan kekuatannya pada Bangsa Quraisy, Kerajaan Romawi dan kerajaan-kerajaan lain diluar negeri Arab.

Menantang Romawi adalah pamali dilakukan ketika itu. Di satu sisi, Heraclius juga tidak menduga betapa kekuatan muslim yang baru berdiri di Negeri Arab berani melawan angkatan perangnya. Ketika itu, dunia menganggapnya sama saja dengan kucing menantang Singa.

Kerajaan Romawi sebagai negara adidaya menyiapkan 200.000 pasukan untuk menyambut pasukan Muslim. Namun yang terjadi setelahnya adalah kenyataan sejarah bahwa pasukan besar itu kocar kacir, dipecundangi, dan ribuan yang terbunuh oleh pasukan Muslim yang bersenjatakan Tauhid hasil didikan langsung Rasulullah SAW tersebut.

Jalannya Peperangan

Pasukan Islam yang berjumlah 3000 personel diberangkatkan. Ketika mereka sampai di Daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraclius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama.

Mendengar kabar demikian, sebagian sahabat mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah SAW. Ditengah kegamangan itu, tampillah Abdullah bin Rawahah mengobarkan semangat perang. “Demi Allah, kita datang ke tempat ini justru untuk menyambut kematian,” ujarnya lantang.

“Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.” lanjutnya.

Pasukan muslim menanggapi dengan berkata, “Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”

Zaid bin Haritsah, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Inilah pasukan muslim yang bergerak maju ke medan perang, tak gentar sama sekali dengan berapapun jumlah pasukan musuh.

Dua pasukan berhadapan di wilayah Mu’tah dan terjadilah peperangan yang sangat sengit. Dari segi jumlah, secara logika, jika pasukan muslim ingin menang maka perbandingannya satu personil pasukan muslim harus mengalahkan 70 personil pasukan Romawi.

Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah SAW yang diangkat sebagai Komandan pertama ini maju dengan garang, menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnya tewas terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bendera Kalimat “La Ilaha IllaLllah” pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib. Sepupu Rasulullah SAW ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera beliau pegangi dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga oleh senjata musuh. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan.

Berdasarkan keterangan Ibnu Umar, salah seorang saksi mata yang ikut dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan Ja’far bin Abu Thalib, baik akibat tusukan pedang dan maupun anak panah.

Giliran Abdullah bin Rawahah pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun menjemput beliau di medan peperangan. Tsabit bin Arqam mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpun kaum muslimin.

Maka, pilihan pimpinan pasukan muslim pun jatuh pada Khalid bin Walid. Dengan kecerdikan, kecemerlangan siasat dan strategi –setelah taufik dari Allah SWT—kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian banyak.

Ilustrated by: ist/palontaraq)

Ilustrated by: ist/palontaraq)

Jumlah Syuhada Perang Mu’tah

Menyaksikan peperangan yang tidak seimbang antara kaum muslimin dengan kaum kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab, secara logis, kekalahan bakal dialami oleh pasukan muslim.

Imam Ibnu Katsir mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah SWT melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata, “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama.

Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah SWT, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin, padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta Orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)

Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak.

Padahal, Perang Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid sendiri menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Kesembilan pedang itu patah. Hanya satu pedang yang tersisa, yaitu pedang hasil buatan Yaman.

Khalid berkata, “Telah patah sembilan pedang di tanganku. Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.” (HR. Al-Bukhari 4265-4266)

Menurut Imam Ibnu Ishaq – Imam dalam Ilmu Sejarah Islam –, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 sahabat saja. Secara terperinci, yaitu Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah Al-Kalbi, Mas’ud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah Al-Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh.

Sementara dari kalangan kaum Anshar, Abdullah bin Rawahah, Abbad bin Qais Al-Khazarjayyan, Al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa Al-mazini.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam dengan berlandaskan keterangan Az-Zuhri, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi SAW yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah Amr bin Amir putra Sa’d bin Al-Harits bin Abbad bin Sa’d bin Amir bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

Ilustrated by: ist/palontaraq

Ilustrated by: ist/palontaraq

Strategi Perang Khalid bin Walid

Saat tengah malam, Khalid bin Walid menyuruh beberapa orang membakar kayu bakar lalu meneriakkan takbir untuk membangunkan pasukan muslim menunaikan shalat malam. Pihak musuh di kejauhan yang terbangun karena keriuhan takbir mulai dilanda was-was “Apakah pihak muslim kedatangan bala bantuan?”

Hari pertama perang saat Khalid bin Walid yang disepakati memimpin pasukan, Khalid menukar posisi pasukan sayap kiri ke tengah, pasukan tengah ke sayap kanan dan pasukan sayap kanan ke kiri. Musuh semakin yakin ada bantuan pasukan datang karena orang yang dihadapi berbeda. Hari keduapun kembali formasi pasukan ditukar.

Beberapa hari selanjutnya, Khalid bin Walid mengatur 15 orang dari masing-masing sayap pasukan dengan kuda terbaiknya. 45 orang dari masing-masing sayap itu disuruh mundur jauh meninggalkan pasukan di belakang, sementara tiga sayap diperintahkan untuk terus bergerak maju sampai benteng pertahanan musuh. Apapun yang terjadi jangan lihat kebelakang, sasaran mendekati benteng musuh.

Sementara mulai pasukan berperang, Khalid memberi kode ke 45 orang yang ada jauh di belakang medan perang untuk menjalankan strategi berikutnya.

Apa strateginya? Di belakang garis perang, 45 orang dibagi tiga, Sayap paling kiri, ke 15 orang mulai menghela kudanya bolak-balik secepat mungkin sampai debu pasir terangkat.

Beberapa jam kemudian, gantian sayap tengah yang memacu kudanya bolak-balik ke kiri dan kekanan, lalu terakhir sayap kanan 15 orang tersebut juga hanya melakukan hal yang sama disayapnya, memacu kudanya bolak-balik. Terakhir semua 45 orang memacu bersamaan bolak-balik sekencangnya.

Pihak musuh semakin yakin bantuan datang dari kejauhan dan menurut mereka sepertinya ada tiga pasukan yang dikirim dalam jumlah banyak. Pihak musuh pun menarik mundur pasukannya untuk menyusun strategi.

Pasukan garda depan pun berhenti merangsek maju, tidak lagi mengejar musuh sampai ke benteng. Perang berhenti sejenak karena malam tiba. Tengah malam, Khalid menyuruh seluruh pasukan diam-diam meninggalkan peperangan dan tenda-tenda mereka.

Pagi hari, musuh menanti dengan was-was. Terlihat di kejauhan tenda-tenda pasukan muslim hening. Tapi mereka tidak mau menyerang pertama untuk memulai perang karena waspada keheningan tenda pasukan muslim hanya jebakan.

Begitu terus sampai beberapa hari, sampai akhirnya mereka sadar bahwa pasukan muslim sudah meninggalkan Medan perang dan bila dikejar juga sudah sangat jauh.

Jadi pasukan Khalid pulang membawa kemenangan telah berhasil keluar dari Perang Mu’tah yang terjadi sekitar sepekan. Kenapa Khalid memutuskan mundur dari perang? Karena pesan Nabi, 3000 pasukan yang dikirim hanya untuk mendampingi utusan yang dikirim selanjutnya untuk menanyakan mengapa mereka membunuh utusan yang sebelumnya.

Namun utusan itu juga dibunuh sehingga pecahlah Perang Mu’tah. Jadi maksud perang sudah tercapai, dan tidak perlu lagi melanjutkan perang karena akan sia-sia, sementara bekal makanan juga menipis. Yang penting bagaimana keluar dari perang dengan tetap membawa kemenangan.

Rasulullah SAW mendapatkan kabar setiap detik perkembangan perang Mu’tah dari malaikat Jibril. Dan beliau meridhoi Khalid bin Walid dengan strategi tersebut. Ini bukan mundur dan pengecut, tapi strategi ini untuk menyiapkan pertempuran yang lebih sulit, dan itulah yang kemudian mengawali Perang Tabuk. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep/Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Like it? Share it!

Leave A Response